KUPI BEUNGOH
Dua Bulan Pascabanjir Aceh Masih Bertahan
Bukan karena peristiwa alam yang luar biasa, melainkan karena dua bulan setelah air surut, krisisnya belum benar-benar usai.
Oleh: Prof. Dr. dr. Rajuddin, Sp.OG(K), Subsp.FER *)
Perdebatan tentang krisis lingkungan kerap bermula dari slogan yang terdengar sederhana, tetapi menyimpan kerumitan makna. Ungkapan “Save Our Earth” sering dipertentangkan dengan kalimat yang lebih provokatif, “Save Ourselves”. Di ruang diskusi publik termasuk di kalangan profesional terdidik
Perbedaan cara pandang ini tidak jarang bergeser dari dialog substansial menjadi respons emosional, bahkan saling melabeli hoaks. Padahal, yang sesungguhnya dipersoalkan adalah cara memahami relasi manusia dengan bumi apakah berbasis pengetahuan ilmiah dan etika, atau sekadar retorika.
Banjir besar Aceh pada 26 November 2025 seharusnya menjadi jeda reflektif bagi perdebatan semacam itu. Bukan karena peristiwa alam yang luar biasa, melainkan karena dua bulan setelah air surut, krisisnya belum benar-benar usai.
Genangan memang telah pergi dari kampung-kampung yang terdampak, tetapi kehidupan warganya masih berada dalam fase darurat yang senyap: mata pencaharian yang hilang, lahan pertanian yang rusak, layanan kesehatan yang terganggu, serta beban psikososial yang jarang tercatat dalam laporan resmi.
Bumi Tidak Sekarat, tetapi Sistem Kehidupan Runtuh.
Dari perspektif ilmu sistem bumi, planet ini tidak sedang berada di ambang kehancuran. Sepanjang sejarahnya, bumi telah melewati berbagai episode kepunahan massal jauh sebelum manusia hadir sebagai aktor ekologis. Bumi akan tetap berputar, dengan atau tanpa keberadaan kita.
Namun, pemahaman ilmiah ini kerap disalahartikan secara keliru seolah menjadi pembenaran untuk bersikap abai terhadap kerusakan lingkungan yang kian nyata. Banjir besar Aceh justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Yang runtuh bukan bumi sebagai entitas kosmik, melainkan stabilitas sistem ekologis yang selama ini menopang kehidupan manusia.
Ketika hutan di wilayah hulu menyusut, tata guna lahan berubah tanpa kendali, dan kawasan resapan air terus menyempit, hujan tidak lagi diperlakukan alam sebagai bagian dari siklus yang seimbang. Hujan menjelma menjadi ancaman, mengalir sebagai banjir yang menghancurkan ruang hidup.
Dalam konteks ini, ungkapan “Save Ourselves” tidak dapat dibaca sebagai penyangkalan atas krisis lingkungan. Justru merupakan pengakuan jujur bahwa manusialah pihak yang paling rapuh dalam perubahan ekologis. Air bah tidak melukai bumi, air melumpuhkan manusia, rumah, pekerjaan, kesehatan, dan ketahanan sosial manusia sekaligus.
Dampak Banjir Belum selesai.
Dua bulan setelah banjir, perhatian publik perlahan berpindah ke isu lain. Namun bagi warga yang terdampak, krisis justru memasuki fase yang lebih sunyi sekaligus lebih berat. Sawah yang tertutup lumpur belum kembali produktif, sumur dan sumber air bersih masih tercemar.
Sementara penyakit kulit, diare, dan gangguan pernapasan mulai meningkat. Anak-anak kehilangan ritme belajar, dan orang dewasa kehilangan pekerjaan musiman serta jejaring ekonomi lokal yang selama ini menopang kehidupan sehari-hari.
Di sinilah letak kekeliruan cara pandang kita terhadap bencana. Banjir bukanlah peristiwa satu hari, melainkan proses sosial yang berlangsung panjang. Bekerja serentak dalam tiga lapisan yaitu fisik, sosial, dan psikis.
Ketika banjir direduksi semata-mata sebagai “curah hujan ekstrem”, kita menutup mata dari kenyataan bahwa kerusakan ekologis dan kebijakan tata ruang yang keliru justru memperpanjang penderitaan manusia, jauh setelah kamera media meninggalkan lokasi bencana.
Dikotomi dalam Krisis Lingkungan.
Di tengah realitas seperti Aceh, mempertentangkan antara “menyelamatkan bumi” dan “menyelamatkan manusia” kian kehilangan relevansinya. Tidak ada kehidupan manusia yang dapat bertahan tanpa menjaga sistem alam yang menopangnya, dan tidak ada pula alam yang sungguh “diselamatkan” jika peradaban manusia runtuh oleh tindakannya sendiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ProfDrdr-Rajuddin-SpOGKSubspFER-Guru-Besar-USK-Ketua-IKA-UNDIP-Aceh.jpg)