Opini
Cakupan Imunisasi Dasar Turun, Salah Siapa?
Penemuan kasus yang banyak tersebut harusnya sudah bisa dikatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), di- mana secara definisi KLB suspek campak
Untuk imunisasi MR (Measles Rubela/Campak Rubela) di Aceh, pada tahun 2019 cakupannya adalah 50,16 persen, pada tahun 2020 sebanyak 43,28 persen dan tahun 2021 yaitu 43,67 persen.
Yang lebih miris lagi adalah angka cakupan imunisasi MR pada baduta (pemberian booster vaksin MR pada usia 18-24 bulan), pada tahun 2019 angka cakupan adalah 25,55 persen kemudian tahun 2020 sebanyak 13,43 persen sedangkan tahun 2021 yaitu 13,28 persen.
Angka cakupan yang rendah juga terjadi pada cakupan imunisasi MR pada anak sekolah (kelas 1 SD), pada tahun 2019 sebanyak 28,32 persen, tahun 2020 yaitu 13,58 persen dan tahun 2021 sebanyak 15,41 persen.
Apa yang terjadi dengan provinsi tercinta kita ini? Dimana letak kesalahannya? Salah siapakah ini? Sejak bermunculan kelompok antivaksin yang menyebar informasi tentang bahaya imunisasi secara luas kepada masyarakat, menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran.
Berbagai isu yang dilempar oleh pegiat antivaksin antara lain bahwa imunisasi merupakan konspirasi Yahudi.
Mereka menyebarkan informasi bahwa imunisasi bertujuan melenyapkan umat.
Teori ini berlandaskan asumsi curiga dan kecurigaannya sama sekali tidak rasional.
Isu lain yang dilempar adalah bahwa ASI bisa menggantikan imunisasi.
Memang sejak lahir bayi sudah membawa perlindungan terhadap beberapa penyakit dari antibodi ibunya (IgG) yang disalurkan melalui plasenta.
Bayi yang mendapat ASI juga mendapat tambahan antibodi (IgA) dari ASI.
Akan tetapi perlindungan yang didapat bayi tersebut baik dari antibodi ibu atau ASI tidak bisa digunakan untuk melawan semua penyakit dan sifat perlindungannya hanya sementara.
Isu lain yang dilempar dan sangat mempengaruhi masyarakat muslim di Indonesia umumnya dan di Aceh khususnya yaitu tentang haramnya vaksin.
Kita perlu tahu bahwa banyak negara muslim yang melaksanakan imunisasi di negaranya.
Sampai saat ini tidak pernah terdengar ada ulama di negara muslim yang melarang imunisasi kepada bayi dan anak di negaranya.
Akhirnya banyak orang tua yang terpengaruh setelah membaca informasi dari buku dan berita yang disebar oleh pegiat antivaksin, dan memutuskan untuk tidak memberikan imunisasi kepada anaknya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dokter-aslinar-spa-m-biomed.jpg)