Minggu, 10 Mei 2026

Internasional

‘Kami Akan Mati’ Krisis Ekonomi di Sri Lanka

Antrean itu bukan hanya terjadi di satu tempat, melainkan di banyak bagian di kota berpenduduk sekitar 900.000 orang itu

Tayang:
Editor: bakri
ISHARA S. KODIKARA/AFP
Polisi menggunakan gas air mata dan water canon membubarkan mahasiswa di dekat gedung parlemen di Kolombo, Jumat (6/5/2022). Mahasiswa memprotes menuntut pengunduran diri Presiden Sri Lanka, Gotabaya Rajapaksa, atas krisis ekonomi yang melumpuhkan negara itu. 

Jepang, yang memiliki hubungan ekonomi lama dengan Sri Lanka, mengatakan akan memberikan hibah darurat sebesar 3 juta dollar AS untuk obat-obatan dan makanan, kata Kementerian Luar Negerinya.

Tak Punya Menteri Keuangan

Sri Langka menunjuk sembilan menteri baru pada Jumat (20/5/2022), tetapi posisi menteri keuangan masih kosong.

Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe yang menggantikan Mahinda Rajapaksa setelah kakak laki-laki presiden Gotabaya Rajapaksa itu mengundurkan diri, berjanji membentuk koalisi lintas partai setelah kabinet sebelumnya dibubarkan.

Para menteri baru--antara lain di posisi kesehatan, pendidikan, dan keadilan-- dilantik di hadapan Presiden Gotabaya Rajapaksa di kediaman resminya yang dijaga ketat di Colombo, kata pemerintah dikutip dari AFP.

Sebanyak dua legislator dari partai oposisi utama SJB memutuskan untuk bergabung dengan pemerintahan baru.

Oposisi lainnya, Partai Kebebasan Sri Lanka, setuju mendukung Presiden Rajapaksa dan diberikan satu kursi.

Adapun posisi menteri keuangan--yang akan bertanggung jawab memimpin negosiasi dengan Dana Moneter Internasional (IMF) mengenai bail-out--masih kosong.

Namun, kantor perdana menteri yang baru mengatakan kepada AFP, seseorang akan ditunjuk minggu depan untuk menjabat Menkeu Sri Lanka.

Penundaan menunjuk menteri keuangan dapat menghambat negosiasi IMF, kata kepala bank sentral memperingatkan pada Kamis (19/5/2022).

Sri Lanka menghadapi kekurangan devisa terburuk sepanjang masa.

Pemerintah tidak mampu membiayai bahkan impor bahan paling penting seperti makanan, bahan bakar, dan obat-obatan.

Negara berpenduduk 22 juta orang itu mengalami kesulitan ekonomi yang parah selama berbulan-bulan. (kompas.com)

Baca juga: Aksi Protes Pemerintah Tak Terbendung, Perdana Menteri Sri Lanka Akhirnya Mengundurkan Diri

Baca juga: Sri Lanka Kembali Aktifkan Status Darurat Nasional

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved