Mantan Kanselir Jerman Angela Merkel Ulangi Sikapnya Tak Ingin Ukraina Masuk NATO
Menurut Merkel, prakarsa perdamaian yang ditengahi Jerman pada 2014, gagal memberi waktu Kiev untuk mempersiapkan diri secara politik dan militer.
Ini menurutnya menenangkan masalah dan memberi Ukraina banyak waktu, tujuh tahun, untuk berkembang menjadi seperti sekarang.
Baca juga: Paspampres Diduga Aniaya Sekuriti, Panglima TNI Jenderal Andika Minta Pelaku Dihukum Pasal Berlapis!
Baca juga: Italia Peringatkan Rusia, Blokade Pelabuhan Ukraina Akan Dapat Sebabkan Jutaan Orang Mati Kelaparan
Mengutip penolakan Kiev untuk menerapkan persyaratan inisiatif perdamaian, Moskow akhirnya mengakui Donetsk dan Lugansk sebagai negara merdeka, dan mengirim pasukan ke Ukraina pada 24 Februari.
Rusia kini menuntut agar Ukraina secara resmi menyatakan dirinya sebagai negara netral yang tidak akan pernah bergabung dengan blok militer NATO.
Kiev menegaskan serangan Rusia benar-benar tidak beralasan dan membantah klaim mereka berencana merebut kembali kedua republik secara paksa.
Merkel mengutuk serangan (Rusia) itu sebagai kesalahan besar atas nama Rusia dan serangan brutal yang bertentangan hukum internasional.
Dia menuduh Presiden Rusia Vladimir Putin berusaha menghancurkan Eropa, bersikeras dia tidak pernah naif dalam interaksinya dengan Putin dan mengklaim kekuatan adalah “satu-satunya bahasa” yang dia (Putin) mengerti.
"Sangat penting bagi Uni Eropa untuk tetap bersatu sekarang," tambah Merkel, meskipun dia tetap menekankan perlunya menemukan cara untuk hidup berdampingan.
Merkel mengingatkan agar semua melupakan perbedaan, karena negara-negara seperti Rusia atau Cina terlalu besar untuk diisolasi atau diabaikan.
Jerman Tak Percayai Zelensky
Beberapa waktu lalu, media terkemuka Jerman, Der Spiegel, mengungkap keraguan Jerman mengirim tank ke Ukraina untuk melawan pasukan Rusia.
“Karena alasan historis,” kata sumber-sumber pemerintah Jerman kepada majalah Der Spiegel.
Menurut pejabat yang tidak disebutkan namanya, ada kekhawatiran dalam pemerintahan Kanselir Olaf Scholz, Kiev bisa menjadi terlalu percaya diri jika mencapai serangkaian kemenangan.
Hal itu akan mendorong mereka meluncurkan serangan ke wilayah Rusia.
Perkembangan seperti itu berarti tank-tank Jerman akan sekali lagi berada di dalam Rusia. Situasi ini mengacu invasi Nazi Jerman ke Uni Soviet pada 1941.
Ketakutan persenjataan Jerman akan masuk Rusia ini menyoroti ketidakpercayaan tertentu di Berlin terhadap Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Baca juga: Bupati Shabela Isi Diskusi Program Agroforestry PUR Project Aceh