Sabtu, 30 Mei 2026

Kupi Beungoh

Bloh Lam Apui, Tradisi Warisan Indatu Khas Samatiga Aceh Barat

Tradisi turun-temurun itu sejatinya menjadi ciri khas yang perlu digali dan dikembangkan sehingga menjadi daya tarik agar orang-orang

Tayang:
Editor: Amirullah
For Serambinews
Suwandi (kiri), Hasan Basri M Nur (kanan) 

Oleh: Suwandi Wandian dan Hasan Basri M Nur

Setiap daerah memiliki tradisi turun-temurun tersendiri yang menjadi pembeda dari daerah lain.

Tradisi turun-temurun itu sejatinya menjadi ciri khas yang perlu digali dan dikembangkan sehingga menjadi daya tarik agar orang-orang berkunjung ke suatu tempat.

Sejauh tidak bertentangan dengan ajaran agama, tradisi turun-temurun itu mesti dilestariakan. Ia adalah wujud local wisdom (kearifan lokal) yang perlu diturunkan ke generasi penerus.

Ia juga perlu dikampanyekan kepada masyarakat luas sehingga menjadi objek wisata.

Jika tanah Gayo terkenal dengan tarian Saman, maka di Samatiga Aceh Barat terdapat sebuah tradisi yaitu “bloh lam apui” (berjalan di atas bara api).

Tradisi ini sudah berlangsung puluhan tahun di Samatiga, walaupun nyaris luput dari pengetahuan publik.

Salah satu desa di Kecamatan Samatiga yang masih melestarikan tradisi indatu “bloh lam apui” adala Desa Leukeun, Kemukiman Mesjid Baro.

Baca juga: Potensi Wisata Melimpah, Aceh Butuh Sentuhan Pengusaha Visioner

Aparat desa ini belakangan ini mulai menggelar kembali tradisi “bloh lam apui” dengan pemainnya adalah penduduk setempat yang punya nyali.

Generasi millennial hingga generasi Z di Desa Leukeun Samatiga mengetahui bahwa “bloh lam apui” itu adalah tradisi warisan indatu (leluhur) yang diwarisi secara turun-temurun lintas generasi.

Mereka sekarang sudah melihat dengan mata sendiri kisah heroik dan patriotik cucu-cucu Teuku Umar Johan Pahlawan.

Meskipun tradisi berjalan di atas bara api hampir saja terlupakan dalam sejarah dan budaya ke Acehan, namun sekelompok masyarakat setempat masih mempertahankan keberlangsungan tradisi tersebut sampai saat ini.

Momen Malam Gelap

Menjelang pelaksanaan upacara “bloh lam apui” masyarakat Desa Leukeun mempersiapkan kayu dari pohon tertentu ditambah tempurung sebagai bahan dasar bara api.

Kayu-kayu itu dipotong-potong dan dijemur selama 7 hari hingga benar-benar kering.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved