Kupi Beungoh
Bloh Lam Apui, Tradisi Warisan Indatu Khas Samatiga Aceh Barat
Tradisi turun-temurun itu sejatinya menjadi ciri khas yang perlu digali dan dikembangkan sehingga menjadi daya tarik agar orang-orang
Prosesi pembakaran kayu sebagai sarana “bloh lam apui” dilakukan pada malam hari di awal atau akhir bulan qamariah (hijriyah).
Pemilihan awal atau akhir bulan ini bertujuan agar kondisi malam benar-benar gelap sehingga cahaya api benar-benar terpantul dengan terang.
Baca juga: Melihat Kegigihan Darmiati, Janda “Eksportir” Pisang Asal Laweung Pidie
Kayu-kayu kering itu ditempatkan ke dalam wadah besi tempat membakarnya ukuran kira-kira 1 meter kali 1,5 meter. Wadah itu mirip tempat bakar ikan.
Seorang tokoh masyarakat membaca setempat “basmalah” dan Ummul Quran saat mulai membakar kayu dengan korek yang disirami bensin.
Tokoh tersebut memohon doa kepada Allah agar bara api tersebut tidak terasa panas saat dilintasi telapak kaki telanjang warga desanya.
Doa tersebut terkabul. Warga yang berjalan di atas bara api tidak ada terbakar dan tidak merasa kepanasan. Allah Maha Kuasa.
Baca juga: Berkat Kerja Sambil Kuliah, Kini Suryadi Jadi Toke di Banda Aceh
Potensi Wisata
Tradisi “bloh lam apui” menjadi tontonan menarik di Desa Leukeun Samatiga. Kiranya ia perlu digalakkan secara khusus dan dipromosikan oleh Dinas Pariwasata setempat.
Para wisatawan Aceh, nasional dan internasional diyakini akan terdorong untuk menyaksikan langsung ke desa tersebut.
Kala tamu berdatangan, maka akan berdampak kepada perekonomian warga setempat. Warung-warung kopi/nasi, tempat parkir hingga penginapan akan laku.
Demikian juga souvenir hasil olahan masyarakat setempat. Initinya dapat menjadi sumber ekonomi baru bagi warga.
Sejarah “Bloh Lam Apui”
“Bloh lam apui” pertama sekali diperkenalkan kepada publik oleh Almarhum Bumai Husen. Dia sendiri adalah pribumi asli desa tersebut. Bumai mengajarkan tata cara “bloh lam apui” kepada beberapa penduduk setempat.
Perlu diketahui, “bloh lam apui” tidak bisa dilakukan secara sembarangan oleh seseorang. Akan tetapi untuk keselamatan seseorang berjalan di atas api tentunya dibutuhkan ilmu (doa) yang dibacakan oleh ahlinya.
Setelah lama menghilang, akhir-akhir ini tradisi “bloh lam apui” dimunculkan kembali oleh ahli api yang baru, yakni Maznim. Dia sendiri adalah cucu dari Bumai Husen, anak dari Tgk Imum Marzuki.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Suwandi-kiri-Hasan-Basri-M-Nur-kanan.jpg)