Jurnalisme Warga
Sensasi Air Panas Wisata Ie Seuum
Objek wisata air panas Ie Seuum terletak di Gampong Ie Seuum, Kemukiman Krueng Raya, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar
OLEH SYAHRIL, S.Pd., M.Ag, Guru SMAN 6 Banda Aceh dan Staf Lembaga Pemantau Pendidikan Aceh (LP2A), melaporkan dari Gampong Ie Seuum, Aceh Besar
DI wilayah Kabupaten Aceh Besar cukup banyak terdapat tempat objek wisata yang menarik dan layak dikunjungi oleh siapa saja.
Salah satu objek wisata alamnya adalah kolam air panas Ie Seuum.
Objek wisata alam ini menjadi incaran utama para bagi wisatawan Nusantara yang ingin berwisata.
Setiap hari libur selalu ramai dipadati pengunjung yang berekreasi, baik warga lokal maupun wisatawan asing.
Objek wisata air panas Ie Seuum terletak di Gampong Ie Seuum, Kemukiman Krueng Raya, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar.
Lokasi air panas ini mempunyai daya tarik tinggi dengan suasana dan pemandangannya yang masih asri.
Terletak persis di kaki bukit Gunong Meuh (Gunung Emas), lokasi air panas ini menjadi salah satu objek wisata andalan Pemkab Aceh Besar.
Air panas alami ini berasal dari gunung api Seulawah Agam.
Sumber mata air panas ini jernih dan berlimpah.
Baca juga: Pantai Jagu, Destinasi Wisata Baru di Kota Lhokseumawe yang Makin Ramai Dikunjungi
Baca juga: Berkeliling Danau Laut Tawar, Peserta Tour de Aceh Lalui Beberapa Destinasi Wisata
Suhu airnya mencapai 85 derajat Celsius, ditambah kandungan sulfur (S) dengan kadar belerangnya berdasarkan hasil penelitian mencapai 1,5 % .
Sehingga, siapa pun berkunjung ke tempat ini pasti tidak ingin melewatkan momen untuk melakukan aktivitas berendam dan mandi yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh.
Pada bulan Mei lalu, saya sempat mengalami sedikit gatal-gatal di bagian pergelangan tangan dan kaki.
Lalu, salah seorang tenaga pengajar di PMDG Kampus 8 Darul Amien Aceh, al-Ustaz Muttaqin NM bersaran kepada saya, “Coba Bapak pergi ke objek wisata air hangat Ie Seuum dan berendam di kolam tersebut.
Air hangat itu bercampur belerang, insyaallah bila ada penyakit gatal- gatal di bagian tubuh akan berkurang, bahkan hilang.
” Kebetulan hari Kamis, 25 Mei hari libur dan saya benar-benar memanfaatkan momen tersebut untuk berkunjung ke Ie Seuum.
Pukul 15.30 WIB saya bersama istri berangkat menuju objek wisata air panas Ie Seuum.
Cuaca sangat cerah saat itu.
Lokasinya berjarak lebih kurang 45 kilometer dari Kota Banda Aceh.
Luar biasa, belum memasuki pintu gerbang saja, suasana objek wisata ini langsung memberikan kenyamanan bagi kami.
Terlihat puncak Glé Seulawah Agam (Gunung Seulawah Agam) berwana biru.
Terasa begitu dekat dan sangat indah dipandang.
Setiba di Gampong Ie Seuum, kami membuka pintu mobil.
Seketika itu juga udara sejuk dingin menyergap kami.
Segar terasa walaupun ada sinar mentari yang terang benderang.
Dari jarak dekat tampak bukit-bukit dengan pepohonan berwarna kehijauan.
Tak lama berselang, datang seorang gadis bernama Musalla dengan senyum ramah menyapa kami sembari menyodorkan tiket masuk ke lokasi wisata Ie Seuum.
Di tiket berwarna hijau muda itu tertera tarif Rp3.000/orang.
Setelah membayar tiket masuk, dari jarak dekat terlihat ada pengunjung sedang duduk sambil mencicipi makanan dan minuman ringan di warung.
Saat mendekati tanjakan, ada pengunjung sedang merebus telur di sumber air panas.
Tampak asap putih mengepul dan jaraknya tak jauh dari kolam.
Tiba di dekat kolam anakanak, seorang pemuda bernama Faisal datang menghampiri kami dan memberikan tiket kolam pemandian air panas/ sauna berwarna pink (merah muda) dengan tarif Rp5.000/ orang.
Maklum, karena baru pertama sekali berkunjung saya diberi pengarahan bahwa di setiap kolam ada petugas penjaga.
Pemegang tiket/pengunjung harus menjauhi perbuatan- perbuatan yang melanggar adat istiadat dan syariat Islam.
Setiap pengunjung diharuskan menjaga kebersihan, ketertiban, dan keindahan lokasi pemandian Ie Seuum.
Dilarang mandi tanpa pelampung dan apabila melanggar ketentuan ini, di luar tanggung jawab pengelola.
Ia menambahkan bahwa di sini terdapat tiga kolam.
Anakanak mandi di kolam yang airnya tergolong dangkal.
Sedangkan lokasi mandi untuk pria dan wanita dewasa kolamnya dipisah oleh dinding yang menjulang tinggi.
Di pintu masuk tertulis larangan bagi kaum pria memasuki area kolam kaum wanita.
Selain itu, tersedia tempat bilas, ruang ganti pakaian, toilet, dan musala.
Teman Faisal, yaitu Ibnu, sebagai penjaga tiket masuk sekaligus pembersih kolam setiap hari Rabu dan Kamis.
Untuk kolam anak-anak airnya diganti dan dibersihkan setiap hari.
Setelah mengucapkan terima kasih, kami duduk sesaat di kursi batu berkeramik.
Tibalah saatnya kami masuk ke dalam kolam yang posisinya di tengah.
Saat tangan menyentuh permukaan air, terasa begitu hangat.
Setelah itu, kami pun masuk ke dalam kolam dan berendam selama 20 menit.
Setelah itu, naik dan duduk sebentar di permukaan kolam sekitar lima menit.
Ada kolam bulat di sebelahnya dan kami ingin mencobanya.
Saat saya menyentuh airnya terasa lebih panas.
Namun, karena ingin mengurangi rasa sedikit gatal di lengan dan kaki, saya pun memaksakan diri untuk berendam seluruh tubuh, kecuali wajah saja yang tidak.
Wow, airnya benar-benar panas.
Kami hanya sanggup berendam lima menit, langsung naik ke atas.
Lebih kurang hanya 25 menit berendam, alhamdulillah rasa gatal di pergelangan tangan dan khaki saya pun hilang.
Setelah berbilas dengan air bersih, lalu berganti pakaian, kami pun bergegas menuju sebuah warung.
Seorang ibu penjaga warung bernama Idawati (37) sambil tersenyum menyapa kami.
Kami memesan dua gelas teh hangat karena kami merasa udara kembali sejuk dan dingin.
Setelah menghidangkan dua gelas teh hangat, beliau duduk menemani kami.
Ia menjelaskan bahwa kolam pemandian air panas ini dibuka mulai pukul 06.00 hingga 18.00 WIB untuk keluarga.
Sedangkan pada pukul 18.00 hingga pukul 06.00 WIB, kaum wanita dilarang keras untuk mengunjungi kolam air panas karena di Aceh diberlakukan syariat Islam.
Sedangkan bagi pria tidak ada batasan kapan pun ingin mandi di kolam air panas yang mirip seperti di Ciater, Jawa Barat, ini.
Bu Idawati mengisahkan, “Banyak orang menjadikan air panas dan sauna sebagai terapi kesehatan.
Bagi yang sehat menjaga kebugaran, menormalkan kembali otototot yang kaku.
Juga sebagai terapi ketenangan, mengurangi stroke dan penyakit penyempitan saraf.
” Menurutnya, ada seorang kakek menderita sakit gatal- gatal di kulit, lalu melakukan terapi sauna enam kali.
“Alhamdulillah, dengan izin Allah, kakek tersebut sudah sembuh,” ujarnya.
Bu Ida menambahkan, ada seorang ibu berusia setengah baya yang terkena penyakit penyempitan saraf.
Lalu, terapi mandi sauna selama satu setengah bulan di kolam ini.
Alhamdulillah, dengan izin Allah Swt, beliau pun sembuh.
Pak Jal, sebagai pengelola tempat wisata mengatakan bahwa selama ini objek wisata air panas Ie Seuum dikelola dengan pendanaan dari Pemkab Aceh Besar.
Ia sangat berharap kepada Pemeritah Aceh yang belum pernah menguncurkan dana untuk perawatan dan merenovasi tempat wisata ini agar memperhatikan objek wisata yang satu ini.
Setelah pamitan, kami pun beranjak pulang melewati pintu gerbang Gampong Ie Seuum menuju jalan besar Krueng Raya.
Tampak banyak ruas jalan yang berlubang dan rusak.
Diperparah lagi dengan penerangan lampu yang sangat terbatas sehingga suasana menjadi gelap dibalut sunyinya malam.
Baca juga: Dua Destinasi Wisata Aceh Tengah Masuk Nominasi API Award 2022
Baca juga: Inong Aceh Rekomendasi Destinasi Wisata di Daerah Ini yang Instagramable untuk Milenial
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/syahril-spd-mag-guru-sman-6-banda-aceh-dan-staf-lembaga.jpg)