Kupi Beungoh
Keutamaan Sepuluh Hari Awal Dzulhijjah
Amalan Dzulhijjah menjadi amalan yang paling dan paling dicintai oleh Allah ta'ala sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits yang shahih.
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Tidaklah hari-hari yang paling agung dan paling dicintai oleh Allah untuk melakukan amal shalih padanya melainkan sepuluh hari (awal Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid“. (HR. Ahmad).
Anjuran untuk memperbanyak amal shalih pada sepuluh hari awal Dzulhijjah tidak hanya pada hari-harinya, tapi juga pada malam-malamnya.
Imam Ibnu Rajab berkata, "Adapun menghidupkam malam-malam sepuluh awal Dzulhijjah mustahab (dianjurkan). Telah ada hadits dalam hal itu.
Ada hadits-hadits yang menjelaskan kekhususan menghidupkan dua malam pada dua hari raya namun tidak shahih, dan disebutkan dikabulkan doa pada kedua malam itu.
Imam Syafi'i dan para ulama lainnya menganjurkannya (menghidupkan malam-malam sepuluh Dzulhijjah).
Sa'id bin Jubair yang meriwayatkan hadits ini dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, "Jika masuk sepuluh hari awal Dzulhijjah ia bersungguh-sungguh dalam ibadah sehingga hampir saja tidak mampu lagi melakukannya.".
Diriwayatkan pula darinya, ia berkata, "Jangan kamu padamkan lampu pada malam sepuluh hari awal Dzhulhijjah", ibadah itu menarik hatinya." (Lathaif Al-Ma'arif: 339).
Keutamaan Hari-Hari Sepuluh Zhulhijjah Dari Hari-Hari di Bulan-Bulan Lainnya
Dari segi waktu itu sendiri, sepuluh hari merupakan hari-hari yang agung dan mulia melebihi hari-hari dalam setahun.
Ini menunjukkan keutamaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah dari hari-hari bulan-bulan lainnya dalam setahun.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata,
"Tampaknya sebab yang menjadikan istimewanya sepuluh hari (pertama) Dzulhijjah adalah karena padanya terkumpul ibadah-ibadah induk (besar), yaitu: shalat, puasa, sedekah dan haji, yang (semua) ini tidak terdapat pada hari-hari yang lain." (Fathul Baari: 2/593).
Di antara keutamaan sepuluh hari awal Zhulhijjah yaitu Allah subhanahu wa ta'ala bersumpah dengan sepuluh malam pada sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah secara umum dan dengan sebahagianya secara khusus. (Lathaif Al-Ma'arif: 345).
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, "Demi fajar, Dan demi malam yang sepuluh." (Al-Fajr: 1-2).
Para ulama menafsirkannya dengan sepuluh malam awal Dzulhijjah, sebagaimana ditafsirkan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Az-Zubair, Mujahid, 'Ikrimah, Masruq, dan kebanyakan para ulama dari kalangan ulama salaf dan khalaf. (Tafsir Ath-Thabari: 30/180, Tafsir Ibnu Katsir: 8/255).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ustaz-yusran-soal-haji-mabrur.jpg)