Kupi Beungoh
Keutamaan Sepuluh Hari Awal Dzulhijjah
Amalan Dzulhijjah menjadi amalan yang paling dan paling dicintai oleh Allah ta'ala sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits yang shahih.
Pada hadits ini pula terdapat keutamaan beberapa waktu dari sebahagian lainnya seperti tempat-tempat dan keutamaan sepuluh hari (awal) Dzhulhijjah atas selainnya dari hari-hari setahun. (Fathul Bari: 2/593).
Baca juga: Jamaah Haji Bergerak ke Arafah
Keutamaan Amalan Pada Sepuluh Hari Zhulhijjah
Dalam hadits Ibnu Abbas di atas, Nabi shallahu 'alaihi wa saalam menegaskan bahwa Allah ta'ala sangat mencintai amal shalih pada hari-hari sepuluh awal Zhulhijjah melebihi hari-hari lainnya dalam setahun.
Inilah keutamaan amalan yang dilakukan pada hari-hari sepuluh awal Dzuhijjah.
Semua amalan yang dilakukan pada hari-hari sepuluh awal Dzulhijjah menjadi paling utama dan paling dicintai oleh Allah ta'ala, meskipun amalan itu tidak utama pada waktu lainnya.
Namun karena dilakukan pada hari-hari ini, maka amalan tersebut menjadi utama, bahkan lebih utama dari amalan yang utama di bulan lainnya.
Jika amalan yang tidak utama pada bulan-bulan lainnya menjadi paling utama dan paling dicintai karena dilakukan pada hari-hati sepuluh awal Dzulhijjah, maka terlebih lagi amalan yang utama di bulan-bulan lainnya dilakukan pada hari-hari ini.
Tentu lebih utama dan lebih dicintai oleh Allah ta'ala.
Imam Ibnu Rajab berkata, "Jika amalan pada sepuluh hari (awal) bulan Dzulhijjah lebih utama dan lebih dicintai oleh Allah dari amalan pada hari-hari lain dalam setahun semuanya, maka amalan padanya meskipun tidak utama menjadi lebih utama dari amalan pada selainnya meskipun itu amalan yang utama." (Lathaif Al-Ma'arif: 326)
Keutamaan lainnya yaitu dilipat gandakan pahala pada hari-hari sepuluh Zhulhijjah, karena keagungan bulan Zhulhijjah sebagai bulan Haram, khususnya sepuluh awal Bulan Zhulhijjah.
Imam Ibnu Rajab berkata, "Hadits Ibnu Abbas menjadi dalil dilipat gandakan (pahala) semua amalan shalih pada sepuluh hari awal Dzulhijjah tanpa pengecualian apapun." (Lathaif Al-Ma'arif: 328).
Imam Ibnu Rajab berkata, "Dan telah diriwayatkan mengenai kekhususan puasa pada hari-harinya dan menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah serta memperbanyak zikir padanya disebutkan dalam hadits-hadits yang patut disebutkan karena shahih, bukan yang tidak patut disebutkan karena tidak shahih." (Lathaif Al-Ma'arif: 328).
Di antara hadits-hadits yang menjelaskan amalan-amalan khusus pada sepuluh hari awal Zhulhijjah berupa puasa, memperbanyak zikir seperti takbir, tahlil, tahmid, dan lainnya, yaitu:
Dari Huwaidah bin Khalid, dari istrinya, dari sebahagian istri Nabi Shallahu 'alaihi wa sallam, bahwa Nabi shallahu 'alaihi wa sallam berpuasa di sembilan hari (awal) dari bulan Dzulhijjah, hari 'Asyura, dan tiga hari setiap bulan yaitu awal Senin dan dua Kamis." (HR. An-Nasa'i dan Abu Daud)".
Dari Hafsah radhiyallahu 'anha ia berkata, "Ada empat hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu puasa 'Asyura, sembilan hari (awal) bulan Dzulhijjah, tiga hari setiap bulan, dan dua rakaat sebelum shubuh." (HR. Ahmad dan An-Nasa'i).
Baca juga: Kiswah Kabah Akan Diserahkan ke Masjidil Haram Untuk DIganti Baru pada 10 Dzulhijjah
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ustaz-yusran-soal-haji-mabrur.jpg)