Breaking News:

Internasional

Singapura Gantung Pengedar Narkoba, Amnesty International Protes Keras

Jumlah hukuman mati menjadi empat orang sejak Maret lalu Melansir AFP, otoritas terkait mengatakan mereka yang dieksekusi adalah Kalwant Singh (31)

Editor: bakri
montase Tribunnews (Sumber Foto : Facebook/We Believe In Second Chances)
Prabu Pathmanathan, ingin foto terakhirnya disebar agar orang bisa belajar dari apa yang ia alami. Prabu dihukum gantung di Singapura, setelah dinyatakan bersalah menyelundupkan 200 gram heroin masuk ke Singapura. 

JAKARTA - Singapura mengeksekusi dua pengedar narkoba dengan hukuman gantung, Kamis (7/7/2022).

Ini menambah jumlah hukuman mati menjadi empat orang sejak Maret lalu Melansir AFP, otoritas terkait mengatakan mereka yang dieksekusi adalah Kalwant Singh (31) dari Malaysia, dan Norasharee Gous (48), seorang WN Singapura.

Keduanya divonis pada tahun 2016 atas perdagangan heroin dalam kasus yang sama.

Juru kampanye terkemuka hak asasi Singapura Kirsten Han mengatakan jenazah Kalwant telah dibawa kembali ke Malaysia oleh keluarganya pada Kamis sore.

Eksekusi terbaru ini menambah kecaman terhadap Singapura.

Ini juga terjadi setelah otoritas menggantung seorang pria cacat mental pada April lalu dan memicu kemarahan internasional, termasuk dari Uni Eropa dan PBB.

Amnesty International mengatakan penggunaan hukuman mati di Singapura adalah pelanggaran terang-terangan terhadap hak asasi manusia.

"Kami mendesak pihak berwenang Singapura untuk segera menghentikan gelombang gantung terbaru ini dan memberlakukan moratorium eksekusi sebagai langkah untuk mengakhiri hukuman yang memalukan dan tidak manusiawi ini," kata Emerlynne Gil dari kelompok tersebut.

Phil Robertson, wakil direktur Asia di Human Rights Watch, menambahkan bahwa Singapura melanggar norma-norma internasional tentang hak-hak yang melarang hukuman kejam.

Baca juga: Menunggu Giliran di Hukum Gantung, Wanita Ini Mendadak Meninggal, Pengadilan Tetap Eksekusi Tubuhnya

Baca juga: Dinilai Meresahkan, Warga Hukum Gantung Monyet, Tindakan Mereka Dikecam dan Minta Diselidiki

"Penggerebekan narkoba baru-baru ini di negara-kota itu menunjukkan betapa hampanya klaim Singapura tentang efek 'pencegah' dari eksekusi kejam ini," katanya.

Singapura memang memiliki beberapa undang-undang anti- narkoba yang paling keras di dunia.

Negara ini menegaskan bahwa hukuman mati tetap menjadi pencegah yang efektif terhadap perdagangan meskipun ada tekanan untuk menghapusnya.

Setelah jeda lebih dari dua tahun, Singapura itu melanjutkan eksekusi pada Maret dengan menggantung seorang pengedar narkoba Singapura.

Para aktivis khawatir akan lebih banyak lagi yang akan dilakukan dalam beberapa bulan mendatang.

Efek Jera

Dalam wawancara dengan BBC baru-baru ini, Menteri Dalam Negeri dan Hukum Singapura K.

Shanmugam membela posisi Singapura tentang hukuman mati.

Ia mengatakan ada bukti jelas bahwa hukuman ini adalah pencegah serius bagi calon pengedar narkoba.

Dia pun bertekad bahwa Singapura akan terus menerapkan hukuman tersebut untuk memberikan efek jera bagi pelkau lainnya.(okz/bbc.com)

Baca juga: Pembunuh Siswi SMP di Langkat Terancam Hukuman Mati, Dua Kali Rudapaksa Korban saat Pingsan

Baca juga: Pemerintah Malaysia Usul Penghapusan Hukuman Mati

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved