Kupi Beungoh
Nilai-nilai Pendidikan Dalam Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS
Dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim sudah menikah lebih dari 10 tahun, namun Allah SWT belum memberikan keturunan, sementara beliau menginginkan anak.
Ibunda Siti Hajar, mencoba mencari air, kesegala arah, ke timur, ke barat, ke utara juga keselatan di padang pasir tersebut, namun hasilnya nihil. Tidak ada air sama sekali, tidak ada mata air satupun.
Ingin beliau pergi ke pedesaan terdekat, karena keduanya sudah sangat haus dan panas, namun beliau teringat pesan Nabi Ibrahim, jangan pernah keluar padang pasir ini.
Setelah lelah mencari air, namun tidak dapat, Siti Hajar pun kembali ke tempat Nabi Ismail tadi diletakkan, betapa kagetnya Siti Hajar mendapati mata air itu, keluar di tanah di bekas hentakan kaki Ismail, masya Allah.
Mata air tersebut yang kita kenal dengan sebutan "Sumur Zamzam" yang dengan kehendak Allah sampai saat ini tidak pernah kering, meski sudah di gunakan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia ketiga musim haji maupun oleh penduduk setempat.
Ganjaran dan imbalan yang luar biasa diberikan Allah SWT, kepada orang yang bertaqwa (yang yakin, patuh, dan ta'at kepada Allah SWT dan Rasul Nya).
Baca juga: ISLAM Melarang SIKAP TENTATIF Terhadap Keyakinan Agama
Sebagaimana disebutkan dalam ayat Al Qur'an berikut ini:
Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia (Allah) akan membukakan jalan keluar bagi nya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya." (QS ath-Thalaq: 2- 3)
Kemudian kisah ini Allah abadikan dalam ayat berikut ini:
"Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syiar (agama) Allah. Maka barang siapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. Dan barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 158)
Setelah ujian ini berhasil dilewati oleh Nabi Ibrahim dengan baik, dengan tawakkal yang luar biasa, Nabi Ibrahim Allah uji kembali dengan perintah menyembelih anaknya Ismail yang sedang remaja.
Setelah diperintahkan untuk meninggalkan Ismail di padang pasir tandus, kemudian di perintahkan lagi Ismail untuk disembelih.
( Kalau kita, mungkin akan berfikir, ayah macam apa yang tega minta izin untuk menyembelih anaknya. Pasti ayah yang tidak ada hati, begitu kira-kira). Namun tidak demikian dengan Nabi Ismail, melainkan mendengar, patuh dan ta'at kepada Nabi Ibrahim ayahnya.
Ketik Nabi Ibrahim bermimpi, dalam mimpi tersebut Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya Ismail. Keesokan harinya, mimpi ini disampaikan oleh Nabi Ibrahim kepada Ismail.
Ibrahim berkata: wahai anakku, Aku bermimpi, dalam mimpi itu aku (Nabi Ibrahim) diperintahkan Allah untuk menyembelih dirimu, wahai anakku
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Ainal-Mardhiah-SAg-MAg-adalah-Dosen-UIN-Ar-Raniry-Banda-Aceh.jpg)