Selasa, 2 Juni 2026

Kupi Beungoh

Nilai-nilai Pendidikan Dalam Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS

Dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim sudah menikah lebih dari 10 tahun, namun Allah SWT belum memberikan keturunan, sementara  beliau menginginkan anak.

Tayang:
Editor: Amirullah
ist
Dr. Ainal Mardhiah, S.Ag, M.Ag adalah Dosen Tetap Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Ar Raniry Banda Aceh 

Oleh: Dr. Ainal Mardhiah, S.Ag, M.Ag*)

Belajar dari kisah Istri Nabi Ibrahim, dengan anaknya yang bernama Nabi Ismail.

Dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim sudah menikah lebih dari 10 tahun, namun Allah SWT belum memberikan keturunan, sementara  beliau sangat menginginkan seorang anak. Karena alasan tersebut,  dengan saran dan seizin istri beliau Siti Sarah.

Nabi Ibrahim, menikah dengan Siti Hajar, yang kemudian Nabi Ibrahim dikaruniai seorang anak, yang bernama Ismail yang dikenal dengan Nabi Ismail as.

Baru senang senangnya Nabi Ibrahim, menimang Ismail kecil,  Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim as, membawa Ismail kecil ke Mekah beserta ibunya Siti Hajar.

Sesampainya di padang pasir yang panas, lagi tandus dan tidak ada air tersebut,  Nabi Ibrahim meninggalkan Ismail dan Siti Hajar di tempat tersebut tampa orang lain hanya berdua saja. 

Nabi Ibrahim kembali pulang, sesuai dengan perintah Allah SWT. (Misalnya kita wanita sekarang ada diposisi Siti Hajar, tentu akan marah, sedih dan kecewa dengan perlakuan Nabi Ibrahim tersebut).

Baca juga: Pendidikan Seks Pada Anak Antisipasi Pelecehan Seksual, Pemerkosaan dan Pergaulan Bebas

Ketika Nabi Ibrahim, hendak berbalik arah kembali pulang, Nabi Ibrahim berpesan satu hal pada istrinya Siti Hajar:  "jangan pernah keluar dari padang pasir ini".  

(Kalau kita di posisi ibunda Siti Hajar, mungkin makin marah, kita ditinggal di padang tandus, tanpa sumber air, tanpa makanannya, hanya berdua dengan anak, masih bayi lagi,  sangat tega, mungkin kira-kira begitu ungkapan perasaan kita sebagai perempuan).

Ketika Nabi Ibrahim berbalik melangkah hendak pulang

Ibunda Siti Hajar bertanya: atas perintah siapa,  wahai Nabiyullah Ibrahim engkau tinggalkan kami berdua di padang pasir yang tandus ini? 

Nabi Ibrahim menjawab : tanpa menoleh, "ini perintah Allah, wahai istriku.."

Ibunda Siti Hajar berkata: jika ini perintah Allah maka pulanglah,  Allah yang akan menjaga kami di sini. Begitu kuat nya ketakwaan, keimanan,  dan keyakinan Ibunda Siti Hajar kepada Allah SWT.

Lalu kembalilah Nabi Ibrahim,  tinggallah Siti Hajar hanya berdua  Nabi Ismail di padang pasir nan  tandus, gersang lagi panas.

Baca juga: MENGAJAR Dengan Pendekatan Gaya Belajar Anak Didik,  Akan Lebih Menarik dan Efektif

Sepeninggal Nabi Ibrahim, Ismail menangis karena kehausan, menangis dengan sangat kerasnya, sambil memukul mukul kakinya ke tanah karena sangat hausnya.

Ibunda Siti Hajar, mencoba mencari air, kesegala arah, ke timur, ke barat, ke utara juga keselatan di padang pasir tersebut, namun hasilnya nihil. Tidak ada air sama sekali,  tidak ada mata air satupun.

Ingin beliau pergi ke pedesaan terdekat, karena keduanya sudah sangat haus dan panas, namun beliau teringat pesan Nabi Ibrahim, jangan pernah keluar padang pasir ini.

Setelah lelah mencari air, namun tidak dapat, Siti Hajar pun kembali ke tempat Nabi Ismail tadi diletakkan,  betapa kagetnya Siti Hajar  mendapati mata air itu, keluar di tanah di bekas hentakan kaki Ismail, masya Allah.

Mata air tersebut yang kita kenal dengan sebutan "Sumur Zamzam" yang dengan kehendak Allah sampai saat ini tidak pernah kering, meski sudah di gunakan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia ketiga musim haji maupun oleh penduduk setempat.

Ganjaran dan imbalan yang luar biasa  diberikan Allah SWT, kepada orang yang bertaqwa (yang yakin, patuh, dan ta'at kepada Allah SWT dan Rasul Nya).

Baca juga: ISLAM Melarang SIKAP TENTATIF Terhadap Keyakinan Agama

Sebagaimana disebutkan dalam ayat Al Qur'an berikut ini: 

Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia (Allah) akan membukakan jalan keluar bagi nya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya." (QS ath-Thalaq: 2- 3)

Kemudian kisah ini Allah abadikan dalam ayat berikut ini: 

"Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syiar (agama) Allah. Maka barang siapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. Dan barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui."

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 158)

Setelah ujian ini berhasil dilewati oleh Nabi Ibrahim dengan baik, dengan tawakkal yang luar biasa, Nabi Ibrahim Allah uji kembali dengan perintah menyembelih anaknya Ismail yang sedang remaja. 

Setelah  diperintahkan untuk meninggalkan Ismail di padang pasir tandus, kemudian di perintahkan lagi Ismail untuk disembelih.

( Kalau kita, mungkin akan berfikir, ayah macam apa yang tega minta izin untuk  menyembelih anaknya. Pasti ayah yang tidak ada hati, begitu kira-kira). Namun tidak demikian dengan Nabi Ismail, melainkan mendengar, patuh dan ta'at kepada Nabi Ibrahim ayahnya.

Ketik Nabi Ibrahim bermimpi,  dalam mimpi tersebut  Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk  menyembelih anaknya Ismail. Keesokan harinya,  mimpi ini disampaikan oleh Nabi Ibrahim kepada Ismail. 

Ibrahim berkata: wahai anakku, Aku bermimpi, dalam mimpi itu aku (Nabi Ibrahim) diperintahkan Allah untuk menyembelih dirimu, wahai anakku

Ismail menjawab: jika itu perintah Allah SWT, laksanakan wahai ayah. 

Kemudian Nabi Ibrahim bermimpi lagi, mimpi yang sama, dalam mimpinya Allah perintahkan Nabi  Ibrahim menyembelih Nabi Ismail.

3x Nabi Ibrahim bermimpi yang sama  lalu disampaikan oleh Nabi Ibrahim kepada anaknya Ismail,  bahwa dalam mimpinya Allah perintahkan menyembelih anaknya Ismail.  Jawabannya Nabi Ismail,  tetap sama jika itu perintah Allah, laksanakan wahai ayah.

Meskipun disuruh sembelih, tawakkalnya Ismail kepada Allah luar biasa. Kemudian kita dengar dalan kisah, ketika Nabi Ibrahim sedang menyembelih Nabi Ismail, Allah ganti dengan seekor kibas, begitu ganjaran balasan bagi orang  bertaqwa.  

Luar biasa indahnya akhlak seorang Ismail. Tetap patuh, ta'at kepada orang tua meski minta disembelih. 

Dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dapat kita ambil beberapa pelajaran antara lain yaitu, pertama, pelajaran tentang pentingnya setiap orang tua berikhtiar bersungguh-sungguh mendidik anak,  agar anak ta'at kepada Allah, Rasul-Nya dan orang tua.

Kedua, Pelajaran tentang pentingnya orang tua menjadi teladan yang baik bagi anak-anak. Ketiga, Pelajaran tentang seorang anak harus di didik berprasangka baik kepada  Allah SWT.

Keempat, Pelajaran tentang keyakinan bahwa imbalan atau balasan setiap kebaikan dari  Allah jauh lebih baik.

Kelima, Pelajaran tentang pentingnya memilih  pasangan yang shaleh atau shalehah bagi yang belum menikah agar ia bisa menjaga diri dan keluarga, agar ia bisa patuh dan ta'at kepada suami.  

Agar ia bisa menjaga amanah dan harta suami. Bagi yang sudah menikah agar dapat terus belajar  mendidik diri menjadi pribadi yang shaleh dan shalehah.  

Keenam, Pelajaran tentang pentingnya mendidik anak untuk rela berkorban senang membantu orang lain yang sedang kesulitan dan kesusahan.

Ketujuh, pelajaran tentang kesabaran dan keikhlasan menerima ketentuan dan takdir dari Allah SWT.

 

*) PENULIS Dr. Ainal Mardhiah, S.Ag, M.Ag adalah Dosen Tetap Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Ar Raniry Banda Aceh.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca juga: Menutup Aurat itu Aturan Syariat Islam Bukan Budaya Arab

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved