Kamis, 28 Mei 2026

Luar Negeri

Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa Sembunyi di Singapura, Minta Suaka?

Sumber tersebut mengatakan kepada CNN bahwa Rajapaksa meninggalkan Ibu Kota Maladewa, Male, dengan "penerbangan Saudi".

Tayang:
Editor: Faisal Zamzami
AFP
Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa 

Reuters melaporkan, Rajapkasa tidak meminta suaka dan dia juga tidak akan diberikan suaka.

Sebagai presiden, Rajapaksa memiliki kekebalan hukum dari penangkapan dan penuntutan.

 
Dia diyakini ingin meninggalkan Sri Lanka sebelum mengundurkan diri untuk menghindari kemungkinan penangkapan oleh pemerintahan yang akan datang.

Tak lama setelah Rajapaksa kabur ke Maladewa, pengunjuk rasa menyerbu kantor plt Presiden Ranil Wickremesinghe untuk menuntut pemecatannya.

Wickremesinghe menanggapi aksi tersebut dengan menyerukan jam malam skala nasional pada Rabu.

Banyak pengunjuk rasa telah bersumpah untuk terus berdemonstrasi sampai keduanya mundur.

Seorang pejabat tinggi militer mengatakan kepada CNN bahwa Wickremesinghe telah menunjuk komite komandan angkatan bersenjata senior untuk memulihkan hukum dan ketertiban di seluruh negeri.

Baca juga: Presiden Sri Lanka Diusir Warga di Maladewa Karena Lindungi Penjahat, Kini Mendarat di Singapura

Baca juga: Sri Lanka Bangkrut dan Warganya Rusuh, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky Malah Salahkan Rusia

Pedemo Akan Kembalikan Gedung-gedung Pemerintah yang Diduduki

 Krisis Sri Lanka masih berlanjut, dan para pedemo anti-pemerintah pada Kamis (14/7/2022) dalam pembicaraan untuk mengembalikan gedung-gedung negara yang mereka duduki, kata perwakilan massa.

Para pengunjuk rasa menyerbu istana Presiden Gotabaya Rajapaksa pada akhir pekan lalu, sehingga presiden Sri Lanka melarikan diri ke Maladewa pada Rabu (13/7/2022). Massa juga menyerbu kantor Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe.

PM yang ditunjuk Gotabaya Rajapaksa sebagai penjabat presiden selama dia di luar negeri itu menuntut massa keluar dari gedung-gedung negara, dan menginstruksikan pasukan keamanan melakukan apa pun yang diperlukan demi memulihkan ketertiban.

Omalpe Sobitha biksu Buddha terkemuka yang mendukung perkataan PM tersebut menyerukan agar istana kepresidenan yang berusia lebih dari 200 tahun itu diserahkan kembali kepada pihak berwenang, untuk memastikan seni dan artefaknya yang berharga tidak rusak.

"Bangunan ini adalah harta nasional dan harus dilindungi," kata dikutip dari kantor berita AFP. "Harus ada audit yang tepat dan properti dikembalikan ke negara."

Ratusan ribu orang merangsek masuk kompleks tersebut setelah Presiden Sri Lanka kabur ke Maladewa dan penjaga keamanannya mundur.

"Ada upaya mengembalikan bangunan itu kepada pihak berwenang," kata seorang pedemo yang ikut mengampanyekan slogan #GotaGoHome, kepada AFP.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved