Selasa, 28 April 2026

Berita Jakarta

Gayo Banyak Sumbang Warisan Budaya Tak Benda ke Unesco

Direktur Perlindungan Kebudayaan dari Kementerian Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Irini Dewi Wanti mengatakan Tanah Gayo termasuk

Editor: bakri
Serambi Indonesia
Gaura Mancacarita (tengah) foto bersama dengan sejumlah tokoh Aceh. 

JAKARTA - Direktur Perlindungan Kebudayaan dari Kementerian Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Irini Dewi Wanti mengatakan, Tanah Gayo termasuk salah satu daerah di Indonesia yang banyak menyumbangkan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).

“Sampai sekarang sudah sembilan karya budaya dari Tanah Gayo yang sudah dicatatkan sebagai WBTB Indonesia.

Dan ditambah Saman jadi warisan budaya tak benda dunia oleh Unesco,” katanya.

Dikatakan, itu ketika hadir dalam acara Gelar Budaya Gayo di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta, Sabtu (23/7/2022) lalu.

Ia menyampaikan agar karya budaya Gayo yang sudah masuk dalam WBTB bisa dirawat dan dikembangkan dengan melibatkan komunitas para maestro dan pemerintah daerah.

“Kita harus jaga dan kembangkan ekosistemnya, sehingga karya budaya itu juga memberi dampak ekonomi kepada masyarakat,” ujar Irini Dewi Wanti.

WBTB Indonesia asal Gayo yang sudah dicatatkan di Unesco yakni, Didong, Kerawang Gayo, Keni Gayo, Guel, Sining, Saman, Bines, Gutel, dan Pacu Kude.

Sementara itu, Pemkab Aceh Tengah kembali mengajukan karya budaya “lepat gantung” sebagai WBTB Indonesia 2022.

Penegasan ini disampaikan Bupati Aceh Tengah Shabela Abubakar di hadapan warga Gayo Jabodetabek dalam acara Gelar Budaya Gayo di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta, Sabtu (23/7/2022) lalu.

Hadir dalam kesempatan itu Direktur Perlindungan Kebudayaan Dirjen Kebudayaan, Kemendikbudristek, Irini Dewi Wanti, Pj Gubernur Aceh diwakili Kadisbudpar Aceh Almuniza Kamal.

Baca juga: Gaura Mancacarita, Pria Asing yang Berperan Atas Masuknya Saman dalam Daftar Warisan Budaya UNESCO

Baca juga: Bupati Gayo Lues HM Amru Minta UNESCO Bangun Museum Saman

“Kami sudah ajukan lepat gantung sebagai warisan budaya tak benda 2022 ini,” kata Shabela.

Dijelaskan lepat gantung merupakan karya intelektual masyarakat Gayo.

Sebab makanan yang terbuat dari tepung beras dan campuran gula aren dan beberapa bahan lainnya, itu ternyata bisa tahan sampai satu tahun.

“Lepat gantung ini tahan sampai setahun.

Tidak lapuk, dan nanti bisa dimakan dengan cara menggoreng,” katanya.

Lepat gantung adalah rangkaian “tandan” lepat yang digantung di dapur orang Gayo atau bagian tertentu dalam rumah.

Tradisi “lepat gantung” ini banyak dilakukan untuk membuat lepat tahan lama. (fik)

Baca juga: Aceh Ujung Tombak Jalur Rempah Nasional Diusulkan Jadi Warisan Budaya Dunia ke Unesco

Baca juga: Keude Kupie Aceh Gayo, Sajian untuk Wakil Rakyat di Senayan

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved