Breaking News:

Konsultasi Agama Islam

Hukum Perempuan Berpergian Keluar Negeri Tanpa Mahram - Konsultasi Agama Islam

Mewakili dari para TKW di Dubai dan Arab Saudi, kami mohon jawabaan ustadz tentang rizki bekerja ke luar negeri tanpa ada mahram.

Editor: Syamsul Azman
SERAMBI ON TV
Perempuan berpergian keluar negeri tanpa mahram - Oleh Tgk Alizar Usman - Konsultasi Agama Islam 

لها الخروج بغير إذن للضرورة كخوف هدم وعدو وحريق وغرق وللحاجة للتكسب بالنفقة إذا لم يكفها الزوج وللحاجة الشرعية كالاستفتاء ونحوه إلا أن يفتيها الزوج أو يسأل لها

boleh bagi isteri keluar tanpa izin suaminya karena darurat seperti kuatir ada reruntuhan, takut sama musuh, kuatir terbakar, kuatir tenggelam atau karena ada kepentingan kerja untuk memenuhi nafkah apabila tidak dapat dipenuhi oleh suami ataupun ada keperluan syara’ seperti meminta fatwa dan lainnya kecuali suaminya dapat memberikan fatwa atau dapat bertanya untuk isterinya.(al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubraa IV/205)

Baca juga: Bolehkah Pengantin Tayamum dan Jamak Shalat Setelah di Make-up ? - Konsultasi Agama Islam

4.  Seandainya yang terjadi merupakan perjalanan yang dihukum haram oleh syara’ karena tidak memenuhi syarat kebolehan melakukan perjalanan bagi perempuan, seperti melakukan perjalanan yang tidak wajib tanpa ditemani seorang mahramnya sebagaimana pendapat shahih dalam mazhab Syafi’i dan melakukan perjalanan tanpa izin suami, sementara itu  tidak ada situasi darurat apapun, maka yang menjadi haram hanyalah perjalanan itu sendiri.  Adapun hasil pekerjaan berupa upah kerja atau rezeki lainnya selama dalam perjalanan tersebut, maka itu tidak terkait langsung dengan keharaman perjalanan. Artinya upah kerja atau rezeki lainnya itu adalah halal selama upah atau rezeki tersebut merupakan imbalan dari pekerjaan yang halal. Ini sebagaimana dihukum halal menggauli isteri dari pernikahan seseorang yang menikah dengan tunangan orang lain, meskipun hukum meminang atas tunangan orang lain adalah haram sebagaimana sabda Nabi SAW berbunyi :

وَلاَ يَخْطُبَ الرَّجُلُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ، حَتَّى يَتْرُكَ الخَاطِبُ قَبْلَهُ أَوْ يَأْذَنَ لَهُ الخَاطِبُ

Jangan salah seorang dari kalian meminang pinangan saudaranya sehingga peminang sebelumnya meninggalkannya atau mengizinkannya. (H.R. Bukhari)

Wallahua’lam bisshawab

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved