Breaking News:

Konsultasi Agama Islam

Hukum Perempuan Berpergian Keluar Negeri Tanpa Mahram - Konsultasi Agama Islam

Mewakili dari para TKW di Dubai dan Arab Saudi, kami mohon jawabaan ustadz tentang rizki bekerja ke luar negeri tanpa ada mahram.

Editor: Syamsul Azman
SERAMBI ON TV
Perempuan berpergian keluar negeri tanpa mahram - Oleh Tgk Alizar Usman - Konsultasi Agama Islam 

Keringanan pada katagori wajib ini karena perjalanan tersebut hukumnya wajib, sehingga membedakan dengan hukum perjananan yang tidak wajib. Ini merupakan pendapat dalam mazhab Syafi’i. Berbeda dengan mazhab Syafi’i, misalnya dalam Mazhab Malik tetap mensyaratkan minimal ada perempuan yang menemaninya dalam perjalanan dalam rangka melakukan sesuatu yang wajib.(Hasyiah al-Dusuqi ‘ala Syarh al-Kabiir II/9). Menurut Imam Syafi’i hadits-hadits Nabi SAW yang melarang perempuan melakukan perjalanan tanpa mahram, itu dimaksudkannya dalam perjalanan yang tidak wajib. (Asnaa al-Mathalib I/448). Hadits tersebut antara lain :

لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاَللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ يَوْمًا وَلَيْلَةً لَيْسَ مَعَهَا ذُو حُرْمَةٍ

Tidak halal seorang perempuan yang beriman kepada Allah dan hari akhir melakukan perjalanan satu hari satu malam yang tidak ada mahram bersamanya (H.R. Bukhari dan Muslim)

2.  Berpergian dalam rangka melakukan sesuatu yang tidak wajib, baik sunnah atau mubah. Katagori yang tidak wajib ini antara lain melaksanakan ibadah haji sunnah atau mencari pekerjaan atau usaha untuk mendapat sejumlah harta sebagai nafkah hidup, sedangkan suami atau walinya masih sanggup memenuhinya. Terjadi perbedaan pendapat ulama dalam Mazhab Syafi’i dalam menetapkan hukum untuk katagori ini, apakah boleh seseorang perempuan melakukan perjalanan tanpa mahram dan hanya ditemani beberapa perempuan atau seorang perempuan yang terpercaya. Imam al-Nawawi dalam Majmu’ Syarah al-Muhazzab menyebut pendapat-pendapat tersebut sebagai berikut :

(أَحَدُهُمَا) يَجُوزُ كَالْحَجِّ (وَالثَّانِي) وَهُوَ الصَّحِيحُ بِاتِّفَاقِهِمْ وَهُوَ الْمَنْصُوصُ فِي الْأُمِّ وَكَذَا نَقَلُوهُ عَنْ النَّصِّ لَا يَجُوزُ لِأَنَّهُ سفر لبس بِوَاجِبٍ هَكَذَا عَلَّلَهُ الْبَغَوِيّ وَيُسْتَدَلُّ لِلتَّحْرِيمِ أَيْضًا بِحَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ (لَا تُسَافِرْ امْرَأَةٌ ثَلَاثًا إلَّا وَمَعَهَا مَحْرَمٌ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Pendapat yang pertama ; boleh sama hukumnya dengan melaksanakan haji. Pendapat kedua pendapat yang shahih dengan sepakat para ulama ; tidak boleh, karena itu adalah perjalanan tidak wajib. Demikian alasan yang dikemukakan oleh al-Baghwi. Pendapat ini merupakan pendapat yang ada nash dalam al-Um. Demikian juga ini telah dikutip oleh para ulama dari Nash Imam Syafi’i. Dalil pendapat ini ada hadits Ibnu Umar, Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : “Seorang perempuan jangan melakukan perjalanan tiga hari kecuali bersamanya ada mahram.” Diriwayat oleh Bukhari dan Muslim. (Majmu’ Syarah al-Muhazzab : V/87)

Baca juga: Bolehkah yang Berkurban memakan daging Kurban Wajib ? - Konsultasi Agama Islam

Teks ini menjelaskan kepada kita bahwa pendapat yang shahih dalam Mazhab Syafi’i seorang perempuan tidak boleh melakukan perjalanan bukan wajib kecuali bersamanya ada mahram. Namun pendapat lain mengatakan, boleh seandainya ada bersamanya seorang perempuan terpercaya atau lebih. Sebagian ulama zaman sekarang seperti Syeikh Ali Jum’ah (seorang mufti Mazhab Syafi’i di Mesir) memahami hadits larangan melakukan perjalanan bagi perempuan di atas sebagai larangan atas dasar kekuatiran keamanan atas diri perempuan. Karena itu, selama kekuatiran tersebut tidak ada, maka larangan tersebut tidak berlaku. Atas dasar ini, sebagian ulama Malikiyah berpendapat larangan melakukan perjalanan hanya berlaku bagi perempuan muda yang ada potensi syahwat. Adapun perempuan tua yang tidak ada lagi potensi syahwat bagi yang melihatnya, maka boleh melakukan perjalanan dalam setiap kondisi tanpa suami dan mahram. Pemahaman seperti ini juga didakwa oleh Ibnu Daqiq al-‘Id merupakan pilihan dari Imam Syafi’i yang mengatakan:

أَنَّ الْمَرْأَةَ تُسَافِرُ فِي الْأَمْنِ. وَلَا تَحْتَاجُ إلَى أَحَدٍ، بَلْ تَسِيرُ وَحْدَهَا فِي جُمْلَةِ الْقَافِلَةِ، فَتَكُونُ آمِنَةً

Sesungguhnya perempuan dapat melakukan perjalanan dalam keadaan aman, tidak membutuhkan kepada orang lain, bahkan dapat melakukannya sendiri dalam rombongan kafilah, karena dia dalam keadaan aman.(Ihkam al-Ahkam : II/55)

3.  Adapun seorang isteri apabila melakukan perjalananan keluar dari rumah suaminya tanpa izin suami, maka tindakan tersebut merupakan perbuatan haram dan dihukum nusyuz (durhaka). Nabi SAW bersabda :

إِذَا اسْتَأْذَنَكُمْ نِسَاؤُكُمْ ‌بِاللَّيْلِ إِلَى الْمَسْجِدِ فَأْذَنُوا لَهُنَّ

Apabila istri kalian meminta izin kepada kalian untuk berangkat ke masjid malam hari, maka izinkanlah. (H.R. Bukhari )

Imam Al-Nawawi mengatakan, hadis ini dijadikan dalil bahwa wanita tidak boleh keluar dari rumah suaminya kecuali dengan izin suaminya. (Fathulbarri, II/347-348).

Namun demikian, seorang isteri apabila dalam keadaan darurat atau ada kepentingan mendesak, maka dibolehkan keluar dari rumah suaminya meskipun tanpa izin suami, seperti takut kepada musuh, kuatir tenggelam, membutuhkan kerja sementara belanja dari suaminya tidak mencukupi. Ini sesuai dengan fatwa Ibnu Hajar al-Haitami yang mengatakan :

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved