Breaking News:

Sejarah Perang Aceh

Sejarawan UIN Syarif Hidayatullah: Tengku Tapa Asal Bur ni Telong, Layak Jadi Pahlawan Nasional

Teungku Tapa merupakan salah satu pejuang terkenal dalam Perang Aceh abad 19 dari Aceh Tengah.

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Taufik Hidayat
Serambinews.com
Prof Dien Madjid, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 

Laporan Fikar W Eda | Jakarta

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Pejuang dari Gayo, Teungku Tapa layak disulkan jadi Pahlawan Nasional dari Bener Meriah. Tengku Tapa yang dalam laporan Belanda, disebut sebagai sosok ajaib dan telah membuat repot Belanda dalam peristiwa Perang Aceh,  berasal dari Burni Telong, Bener Meriah.

Pandangan ini disampaikan guru besar sejarah UIN Syarif Hidayatullah, Prof Dien Madjid dan seorang sejarawan UIN lainnya, Johan Wahyudi. Keduanya sudah menelusuri rekam jejak Tengku Tapa secara selintas melalui beberapa dokumentasi arsip Belanda.

Prof Dien Madjid mengatakan, Provinsi Aceh merupakan daerah yang kaya dengan potensi sejarah, tidak terkecuali di tengah suku bangsa Gayo dan Alas. Belakangan, pahlawan lokal yang diangkat sebagai pahlawan nasional adalah puak Aceh yang tinggal di pesisir. Belum ada pahlawan berlatar etnis Gayo maupun Alas yang diajukan menjadi pahlawan nasional. "Menimbang fakta demikian, maka dianggap penting kiranya untuk mengajukan satu nama yaitu Teungku Tapa," kata Prof Dien Madjid.

Teungku Tapa merupakan salah satu pejuang terkenal dalam Perang Aceh abad 19 dari Aceh Tengah. Ia dilahirkan di Bur ni Telong. Ketika  mengetahui pasukan Belanda sudah menancapkan pengaruhnya mulai dari Kuala Piada sampai dengan Asahan, pada 1898, ia mengorganisir kekuatan rakyat Aceh untuk bersiap menghadapi perang panjang melawan Belanda. "Dikabarkan, banyak yang menjadi pasukan bawahannya yang berasal dari warga Aceh kebanyakan. Para lelaki rela meninggalkan isteri dan anaknya untuk bersama berjuang dengan Teungku Tapa secara suka rela," kata Prof Dien Madjid. 

Kendati tidak mengenyam pendidikan militer a la Eropa, Teungku Tapa dikenal mempunyai keahlian dalam meracik startegi melumpuhkan lawan. Mengutip laporan Belanda, Tengku Tapa  mempunyai 300 hingga 500 orang yang terampil menggunakan senjata api. Beberapa pengikutnya juga ahli dalam peperangan jarak dekat,  bersenjatakan kelewang dan rencong. 

"Meksipun berasal dari kawasan pedalaman, Tengku Tapa mempunyai koneksi yang luas dengan para bangsawan dan ulama Aceh di kawasan pesisir. Menurut pengakuan seorang bangsawan Aceh yang tertangkap pasukan Belanda, diceritakan bahwa banyak dari kalangan orang kaya Aceh yang menghibahkan hartanya untuk modal perjuangan para pejuang Aceh, melalui Tengku Tapa. Bahkan, ada yang rela ikut berjuang setelah lebih dahulu menukar sebagian besar harta bendanya untuk kepentingan perjuangan Aceh," kata Prof Dien Madjid.

Sejarawan Johan Wahyudi dalam Bincang Sejarah Pusat Kajian Kebudayaan Gayo mengatakan, lokasi perjuangan Tengku Tapa mulai dari Aceh Tengah, Aceh Timur sampai Asahan (Sumatera Utara).  Salah satu daerah yang banyak dilalui oleh pasukan Tengku Tapa, termasuk di daerah ini pula sering terjadi bentrokan dengan Belanda, adalah di sekitar daerah Idi, terutama di sekitar Sungai Idi. 

"Pasukan Belanda kerap mengalami kesulitan menghadapi pasukan Tengku Tapa, karena mereka pandai bersembunyi di antara celah sungai dan hutan – hutan di sekitar sungai itu," kata Johan Wahyudi.

Mengutip tulisan Miles dalam buku Herinneringen uit den Van Heutsztijd, Johan Wahyudi menyebutkan,   ribuan orang Gayo bergabung di bawah panji perang Tengku Tapa. Mereka menjalin hubungan yang padu, dan mengadakan penyebaran pasukan di lokus – lokus yang dianggap sebagai area yang sering dilalui patroli musuh.

Bukan hanya itu, Tengku Tapa juga menjalin komunikasi dengan aliansi pedagang lada Aceh Timur untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat terkait pergerakan musuh di pantai hingga ke wilayah pedalaman. 

"Kelebihan dalam bidang komunikasi inilah yang membuat Tengku Tapa seperti belut yang licin sekali untuk ditangkap," kata Johan Wahyudi. 

Sosok Tengku Tapa juga disinggung penulis Belanda, Snouck Hourgonje dalam buku "Get Gajiland en zijne bewoners" diterbitkan Pe

merintah Hindia Belanda Batavia, 1903.

Kata Snouck, Tengku Tapa adalah seorang ajaib, yang pada tahun 1898 dan selanjutnya begitu banyak mendapat pengikut di daerah Aceh Timur dan juga Pase di Aceh Utara, adalah seorang Gayo dari Telong.

"Dia tetap melakukan dan menggerakkan kekacauan dengan pengikut-pengikutnya yang terdiri dari orang-orang Gayo dan dari orang-orang Aceh, hingga tewas pada 1900 di daerah Pase," tulis Snouck.

Sejarawan Mohammad Said   dalam buku "Atjeh Sepanjang Abad" (1961),  menyebutkan bahwa Tengku Tapa dari Gayo  memimpin pertempuran  di Aceh Timur setelah Nyak Makam tewas oleh Belanda.

"Tengku Tapa berjuang bersama istrinya. Sejak 30 Juni 1898 pertempuran melawan serbuan pasukan Belanda di daerah Aceh Timur berkobar. Idi Cut telah dapat dikuasai  oleh Tengku Tapa dan membuat pekan ini menjadi kompleks pertahanannya. Pihak Belanda mencoba untuk merebut Idi Cut kembali. Tapi Tengku Tapa bukan mundur malahan makin maju mengadakan serangan ke ibu kota Idi sendiri. Dekat dengan Idi yaitu Teupin Batee Tengku Tapa telah membangun kubu-kubu pertahanan pasukannya. 

Van Heutsze terpaksa untuk sementara menghentikan pencarian terhadap Teuku Umar dan Polim, dan pergi ke Idi untuk memadamkan perlawanan Tengku Tapa. Tapa diserang habis-habisan pada 11 Juli 1898. Benteng yang dibangun Tapa bobol, dan ia dan pasukannya kemudian mengundurkan diri ke Tanah Gayo.(*)

Baca juga: Prof Dien Madjid: Banyak Sejarah Gayo Belum Terungkap

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved