Jurnalisme Warga
Serunya Arung Jeram di Krueng Geumpang, Pidie
Tempat inilah kami akan memulai petualangan sore itu: menguji adrenalin dengan melakukan arung jeram di Krueng Geumpang

OLEH IHAN NURDIN, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Geumpang, Pidie
HARI telah memasuki waktu asar ketika kami tiba di Jambo Adventure Camp di Dusun Blang Jambo Mie, Kecamatan Mane, Pidie, Selasa, 2 Agustus 2022.
Udara terasa lebih sejuk setelah sebelumnya hujan mengguyur, bahkan sisa-sisa gerimis masih terlihat.
Dari tempat inilah kami akan memulai petualangan sore itu: menguji adrenalin dengan melakukan arung jeram di Krueng Geumpang.
Untuk menambah daya, kami mengisi perut dengan nasi bungkus yang dibeli di Keude Tangse.
Khusus saya, memilih menu ikan kerling yang kami beli di Lhok Kuala.
Untuk dua porsi, kami harus merogoh kocek Rp55.000.
Menu ikan kerling memang lumayan harganya, tetapi sebanding dengan rasanya yang lezat dan gurih.
Kuahnya yang diracik dengan bumbu cabai rawit dan kunyit benar-benar terasa “manis”.
Baca juga: Ayo Wisata ke Aceh Tengah, Nikmati Arung Jeram di Sungai Peusangan Bersama Gayo Adventure Gerpa
Baca juga: Kepala Dinas Pariwisata: Arung Jeram Agusen Menjadi Yang Terbaik
Sore itu kami makan dengan iringan gemercik Krueng Geumpang dan angin yang basah.
Jambo Adventure Camp merupakan usaha kreatif yang digawangi sekelompok anak muda pencinta alam di Pidie.
Usaha ini didirikan oleh Zian Mustakim bersama tiga rekannya, Rahmat Afrizal, Hamdani Sula, dan Muammar.
Zian merupakan perintis lahirnya Mapala Jabal Everest Universitas Jabal Ghafur Pidie.
Letak Jambo Adventure Camp persis di pinggir jalan lintas Tangse—Geumpang, bersisian langsung dengan Krueng Geumpang yang namanya semakin populer sebagai salah satu spot arung jeram terbaik.
Kamp ini berada di tengah-tengah kebun dan menyediakan fasilitas camping.
Kehadiran Jambo Adventure telah mempermudah wisatawan yang ingin menikmati pesona alam Pidie, khususnya wisata arung jeram, air terjun, dan penjelajahan gua.
Di kamp inilah berbagai peralatan yang digunakan untuk arung jeram disimpan, seperti perahu karet, kayak, pelampung, dan helm.
Maka sore itu, setelah urusan mengganjal perut selesai, beberapa teman seperjalanan dari Mapala Jabal Everest segera mengambil satu unit perahu karet yang masih kempis, helm, pelampung, dan pendayung.
Tiga benda terakhir tak boleh tak ada kalau ingin melakukan arung jeram.
Dengan sigap barang-barang itu diangkut ke mobil.
Selanjutnya kami bergerak menuju titik start yang berada tak jauh dari lokasi air terjun Lhok Jok.
Wisata arung jeram atau olahraga arus deras mulai diperkenalkan di Pidie sejak 2013.
Bisa dikatakan Zianlah pelopor hadirnya olahraga ini di Pidie.
Awalnya ia mempelajari arung jeram dari rekanrekannya di Mapala Lawalata IPB Bogor, kemudian mengajari juniornya di Mapala Jabal Everest dan dibantu oleh personel dari Mapala Leuser Universitas Syiah Kuala.
Belakangan Zian mendirikan Jambo Adventure agar lebih mudah dalam mengorganisasi wisatawan.
Selain Jambo Adventure, terdapat satu operator lagi untuk arung jeram di Pidie, yakni Wahana Lestari.
Saya yang baru pertama kali akan melakukan arung jeram terus terang sedikit cemas setelah melihat kondisi sungai hari itu.
Airnya keruh dan arusnya lebih deras dari biasa.
Ditambah cuaca juga mendung.
Saya waswas karena tak bisa berenang.
Pikiran saya dikelebati berbagai kekhawatiran.
Bagaimana kalau tiba-tiba muncul air bah atau saya tercebur ke sungai yang berbatu? Aduh! Saya berusaha untuk tenang.
Terus menyugesti diri bahwa pengalaman ini akan mengasyikkan.
Semua ini berawal dari ajakan sahabat saya, Fitriani, sehari sebelumnya ketika saya dalam perjalanan pulang dari Takengon.
“Besok kita ngarung, yuk? Kebetulan adik-adik di mapala ajak healing sambil ngarung di Mane.
” Fitriani merupakan alumnus Unigha dan aktif di Mapala Jabal Everest sebagai pegiat olahraga ekstrem.
Meski memegang ijazah sarjana pendidikan, tetapi hidupnya habis untuk menjelajah alam.
Kini dia menjadi pelatih panjat tebing dan masuk jajaran pengurus Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Aceh.
Kemampuannya di dunia panjat tebing telah mendapatkan sertifikasi khusus.
Ini bukanlah ajakan pertama dari Fitri dan sebelumnya selalu saya tolak, tetapi hari itu langsung saja saya bilang oke.
Saya tepis semua rasa takut yang selama ini menjadi alasan untuk menolak ajakannya.
Sebelumnya Fitri juga membawa saya untuk menjelajah dua gua di Pidie.
Setelah tiba di titik start, kami segera turun menuju sungai.
Teman-teman langsung memompa perahu dengan pompa portabel.
Mereka melakukannya bergantian.
Memerlukan waktu setidaknya 20 menit untuk menggendutkan perahu berkapasitas enam orang itu.
Sembari itu, saya mengenakan jaket pelampung dan helm.
Setelah selesai dipompa perahu pun didorong ke air.
Kami naik ke atas perahu.
Saya duduk di sisi kanan, Fitri di sisi kiri.
Di depan duduk Nadia dan Raisa.
Di posisi belakang duduk Riski Asman dan Risky Geubrina.
Yang paling berperan adalah pemandu yang duduk di belakang atau istilahnya skiper.
“Skiper ini yang mengendalikan arah dan laju perahu, ibarat mobil mareka yang menyetir,” kata Fitri.
Skiper ini pula yang memberikan aba-aba kepada yang lainnya ke mana atau bagaimana mereka mendayung.
Setelah mengambil posisi duduk yang nyaman di tepi perahu, Fitri memberi abaaba agar saya melakukan kuncian kaki.
Saya menyelipkan kaki kanan di antara floor (lantai) dan thwart yang mirip dengan guling dan melintang di tengah perahu.
Sedangkan kaki kiri dalam posisi tertekuk juga diselipkan di bawah thwart.
Dengan posisi kaki yang terjepit dari dua sisi berlawanan seperti ini akan membuat pengarung tetap aman dan seimbang meskipun perahu dalam keadaan terombangambing diterjang arus.
Perlahan-lahan skiper di belakang menggerakkan perahu.
Sesaat kemudian perahu mulai melaju dan berlenggak-lenggok dan semakin kencang bergerak di permukaan sungai mengikuti arus yang cukup deras.
Saya mendayung sebisanya.
Sesekali terdengar suara skiper memberi aba-aba kepada dua orang yang duduk di bagian depan.
Krueng Geumpang yang berbatu-batu dan arusnya deras memberikan sensasi mengarung yang luar biasa.
Setidaknya begitulah penuturan Fitri yang mulai menjajal olahraga ini sejak 2016.
Di sepanjang jalur pengarungan terlihat vegetasi yang masih hijau.
Pohon-pohon besar menjulang tinggi.
Kadang- kadang akan muncul sekelompok kelelawar dari pepohonan itu.
Jika beruntung pengarung juga akan berpapasan dengan warga yang mencari ikan keureuling, pencari rotan, atau petani yang melintas di jembatan gantung.
Di salah satu titik yang kami lewati, saya juga melihat sekumpulan warga menyaksikan atraksi yang kami lakukan.
Di antara semua itu, sensasi yang paling menegangkan ialah ketika perahu melintasi jeram berupa aliran air yang deras dan menurun.
Jeram-jeram itu adalah rumah bagi ikan keureuling untuk beranak-pinak.
Saat itulah kami menjadi basah kuyup terkena cipratan air yang memberikan sensasi seperti semburan ombak.
Kami berteriak kegirangan.
Perlahan-lahan kecemasan yang tadi sempat merambati pikiran saya musnah dengan sendirinya.
Di sepanjang pengarungan sore itu pikiran saya berkelana jauh.
Saya kagum pada anak-anak muda yang tidak saja memiliki nyali besar, tetapi juga berkontribusi besar dalam mempromosikan pariwisata di daerahnya.
Baca juga: Warga Negara Jerman Kagumi Arung Jeram di Aceh Tenggara
Baca juga: Promosikan Obyek Wisata Arung Jeram di Aceh Tenggara, 24 Tim Siap Adu Nyali Derasnya Sungai Alas