Jurnalisme Warga
Di Lembah Semeru Pemuda Indonesia Bersatu
Di tangan kalianlah, tampuk kepemimpinan 2045 berada, baik itu kepemimpinan struktural, politik, masyarakat, dan kultural
OLEH MARDHATILLAH, delegasi Aceh pada Program Pertukaran Pemuda Antarprovinsi, melaporkan dari Lumajang, Jawa Timur
“SERATUS tahun kemerdekaan Indonesia adalah 2045.
Jika kita hitung mundur dari hari ini, yaitu 23 tahun lagi, akan kita rasakan.
Saat ini, rata-rata usia kalian adalah 20 tahun.
Nanti, saat Indonesia Emas 2045, maka kalian akan berusia 41 tahun.
44 Tahun adalah usia di mana Bung Karno tergerak untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.
Beliau lahir 1901, tidak jauh dari tempat ini, yaitu di Blitar.
Di tangan kalianlah, tampuk kepemimpinan 2045 berada, baik itu kepemimpinan struktural, politik, masyarakat, dan kultural lainnya,” tutur Dr HM Asrorun Ni’am Sholeh MA selaku Deputi Bidang Pengembangan Pemuda Kemenpora RI pada 4 Agustus 2022, saat melepas peserta Pertukaran Pemuda Antarprovinsi (PPAP) di Hotel Aria, Surabaya.
Baca juga: Tiga Polres Tanam Pohon Semarakkan HUT ke-77 Kemerdekaan RI
Baca juga: Semarak Hari Kemerdekaan Masih Berlangsung di Aceh Singkil
Mata yang berbinar-binar dan semangat yang membara, tampak terlihat dengan jelas dari raut wajah para peserta.
Lebih lanjut Asrorun menambahkan, sesuai arahan presiden, komitmen untuk membangun SDM unggul dan yang menentukan adanya gerakan reformasi mental bangsa adalah sumber daya pemuda.
Terdapat dua prioritas yang ditetapkan oleh Kemenpora.
Pertama, pemberdayaan pemuda yang kreatif dan inovatif, serta menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan.
Kedua, penguatan karakter dan ideologi berbangsa.
Program ini merupakan upaya mengimplementasikan dua prioritas tersebut.
Karakter keindonesiaan itu harus mampu menjadi kesadaran kolektif kita.
Bhineka tunggal ika itu bukan hanya sekadar jargon, tetapi bagaimana kita implementasikan saat kita bertemu dan berbaur di masyarakat.
Baca juga: Jelang Hari Kemerdekaan Ukraina, Zelenskyy: Rusia Bakal Lakukan Hal Jahat dan Kejam
Seluruh aktivitas tersebut, disalurkan melalui PPAP ini, yang akan didedikasikan untuk mengexplore minat bakat dan mengenali perbedaan kebudayaan.
Pada akhirnya, akan menumbuhkan ‘open minded’ dan menjauhkan dari ‘mental block; yang menghambat kesempatan untuk maju.
Program ini dilaksanakan dari tanggal 3 Juli–5 Agustus 2022.
Dari 34 peserta yang mewakili seluruh provinsi di Indonesia, telah dibagi kedalam 17 desa di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
Masing- masing desa ditempati oleh dua orang peserta.
Kecamatan Senduro menjadi pusat utama lokasi penempatan karena dari 17 desa penempatan, 12 desa yang berada dalam wilayah kecamatan ini menjadi lokasi penempatan peserta PPAP.
Farid Rahman selaku Kepala Desa Senduro menyampaikan, kehadiran peserta PPAP yang berpusat di Senduro ini, mengingatkannya pada sejarah zaman kerajaan dahulu.
Para raja dari berbagai penjuru Nusantara berkumpul untuk bertapa di Senduro sebelum mendirikan sebuah kerajaan.
Saat ini, momen tersebut terulang kembali.
Para calon pemimpin bangsa di masa yang akan datang, mendedikasikan dirinya selama sebulan di sini.
Kekayaan alam, keberagaman umat beragama yang hidup rukun dan berdampingan, serta jauh dari ingar bingar keramaian kota ini, menjadikan Senduro seperti sebuah harta karun yang belum tersentuh.
Selama satu bulan mengabdi di Senduro, terdapat dua kegiatan keagamaan besar yang kami hadiri.
Pertama, upacara Piodalan yang digelar di Pura Mandala Giri Semeru Agung.
Pura ini berlokasi di Desa Senduro dan menjadi tempat ibadah umat Hindu.
Setelah dua tahun perayaan hari jadi tempat suci ini tidak dilaksanakan karena pandemi, tahun ini kembali digelar selama sebelas hari dari 13 sampai 24 Juli 2022.
Ramainya umat Hindu yang berdatangan ke Senduro, menjadi potret keberagaman masyarakat di sana.
Pura ini juga merupakan pura terbesar di Asia Tenggara dan menjadi pura yang dituakan.
Oleh karena itu, masyarakat lokal pun mendapat keberkahan dari perayaan ini karena mampu menggerakkan roda perekonomian melalui penyewaan penginapan, rumah makan, transportasi, dan lahan parkir.
Umat Hindu yang beribadah ke pura ini, terlihat mengenakan pakaian putih dan hitam.
Untuk yang berpakaian putih, mereka berasal dari Bali, sedangkan yang berwarna hitam berasal dari suku Tengger.
Kedua, ialah Kirab Jolen.
Kegiatan ini dirayakan dalam rangka memperingati 1 Muharam dan menjadi tradisi bersyukur masyarakat atas segala nikmat yang diberikan Tuhan.
Seluruh warga desa se-Kecamatan Senduro mengikuti kegiatan ini dengan membawa jolen atau tumpeng yang diletakkan di sebuah wadah, lalu dipikul bersama-sama.
Jolen tersebut bentuknya beraneka macam yang berisikan aneka hasil bumi, makanan, hingga jajanan pasar kreasi masyarakat.
Antusias masyarakat yang sudah menanti selama dua tahun karena pandemi, menambah kemeriahan yang memadati hampir seluruh bahu jalan.
Arak-arakan jolen ini dimulai dari Pura Mandara Giri Semeru Agung menuju Kantor Desa Senduro yang turut serta diikuti oleh peserta PPAP dengan menggunakan pakaian adat provinsi asalnya.
PPAP merupakan program angkatan pertama yang diinisiasi oleh Kemenpora dengan dua lokasi penempatan.
Setiap provinsi mengirimkan dua orang delegasi yang terdiri atas perempuan dan laki-laki.
Saya dan Muhammad Noza menjadi utusan dari Provinsi Aceh.
Saya ditugaskan di zona barat yang berlokasi di Kabupaten Lumajang, sedangkan Muhammad Noza di zona timur yang bertempat di Distrik Sidey Provinsi Papua Barat.
Program ini mengusung tema “Pemuda Membangun Desa”, yang memiliki tujuan agar pemuda desa dapat berkontribusi dan berpartisipasi untuk mendorong berbagai sektor pembangunan yang sesuai dengan potensi lokal.
Suasana haru biru menyelimuti siang hari yang terik, pada acara penutupan.
Setelah satu bulan lamanya tinggal di rumah orang tua asuh dan hidup berdampingan dengan masyarakat, tiba saatnya untuk berpisah.
Bingkai keberagaman Nusantara terbalut dalam berbagai pakaian adat yang dikenakan oleh para peserta pada saat acara penutupan.
Acara yang berlangsung pada 5 Agustus ini diselenggarakan di Pendopo Bupati Lumajang.
Suguhan spesial di acara penutupan ini, dipersembahkan oleh para peserta lewat gabungan tarian dari berbagai provinsi dan diberi nama sebagai tari kreasi Tunggal Ika.
Acara ditutup dengan nyanyian lagu Lumajang Sayang yang diiringi dengan alat musik tradisional dan modern.
Zainul Arifin selaku tim asistensi program PPAP mengaku sangat bangga dengan berbagai program yang diinisiasi oleh peserta di masing-masing desa.
Mulai dari program pendampingan UMKM, literasi digital, peningkatan soft skills, pengelolaan lingkungan hingga bidang pendidikan.
Keseluruhan program tersebut dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat terutama pemuda desa.
Meskipun program PPAP ini telah usai, menurutnya tidak ada kata perpisahan dalam perjuangan.
Ia berpesan untuk terus mengabdikan diri di mana pun kami berada.
Bumi Pertiwi membutuhkan pemuda-pemudi hebat untuk memajukan negeri.
Baca juga: Ribuan Murid PAUD dan TK Pawai HUT Kemerdekaan
Baca juga: Sekda Amiruddin Lepas Pawai Karnaval Kemerdekaan RI Ke-77 di Banda Aceh
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/mardhatillah-anggota-komunitas-jurnalis-warga-ba.jpg)