Opini
Membaca Fenomena 'Anak Melawan'
BAGI setiap orang tua, tidak ada 'badai' yang lebih hebat menghantam jiwa selain ketika nasihat yang dirajut dengan benang-benang doa
Hayail Umroh SPsi MSi, Dosen Psikologi Keluarga dan Duta Kesehatan Mental Dandiah
BAGI setiap orang tua, tidak ada 'badai' yang lebih hebat menghantam jiwa selain ketika nasihat yang dirajut dengan benang-benang doa dan kasih sayang justru dibalas dengan bantahan yang tajam serta tatapan yang menantang. Ada rasa patah hati yang sunyi dan sulit dilukiskan saat melihat anak yang dahulu lekat dengan kita, kini di usia remaja, justru membangun benteng pertahanan yang tinggi setiap kali kita mencoba menyampaikan secuil arah kebaikan.Ruang komunikasi yang dulunya hangat kini sering kali berubah menjadi medan perang urat syaraf, di mana setiap kalimat arahan dianggap sebagai ancaman terhadap kebebasan mereka, meninggalkan kita dalam sisa tanya yang menyakitkan, di mana letak kesalahan kita, apa yang harus dilakukan saat menghadapinya. Akhirnya seringkali kita merasa gagal menjadi orang tua.
Fenomena "anak melawan" sering kali dianggap sebagai kegagalan pendidikan di rumah, namun jika kita bedah lebih dalam, ini adalah titik krusial dalam pembentukan karakter yang membutuhkan pendekatan baru, bukan lagi sekadar instruksi, melainkan sebuah riset hati yang mendalam. Kita memegang mandat berat dari Allah SWT dalam Surah An-Nisa ayat 9. Sebuah peringatan keras agar kita tidak meninggalkan keturunan yang lemah. Kelemahan yang dimaksud bukan hanya soal fisik, melainkan spiritual (agama), ekonomi, serta mental dan psikologis.
Namun, sebuah pertanyaan besar muncul di benak kita hari ini, bagaimana mungkin kita bisa mencetak generasi yang kuat jika misalnya untuk urusan shalat Subuh saja mereka masih harus "diseret" dari tempat tidur? Dan yang lebih menyesakkan, mengapa saat diingatkan, mereka justru menampakkan bantahan bahkan perlawanan yang melukai perasaan? Padahal kita hanya ingin mereka menjadi anak yang salih.
Akar perlawanan
Kasus remaja yang sulit dinasihati bukanlah fenomena tunggal, melainkan realitas yang juga dirasakan oleh banyak orang tua di era transisi digital ini. Di usia remaja, seorang anak sedang berada di persimpangan jalan identitas. Secara biologis mereka cenderung sudah dewasa, namun secara psikologis mereka sedang berjuang melepaskan diri dari bayang-bayang otoritas orang tua demi menemukan jati diri mandiri. Kasus yang lazim di rumah tangga misalnya, seorang anak laki-laki sering begadang dengan gadget yang berakibat pada kelalaian ibadah shalat Subuh.
Saat orang tua mencoba menjalankan perannya untuk mengingatkan, respons yang muncul sering kali berupa kalimat melawan seperti, "Aku sudah besar, jangan diatur-atur terus!" atau "Nanti juga bangun sendiri, nggak usah bawel!" yang diiringi dengan nada tinggi, bantingan pintu atau raut muka masam.
Secara ilmiah, ini disebut sebagai Reaktansi Psikologis. Teori yang menyatakan bahwa ketika seseorang merasa kebebasannya terancam atau dibatasi, muncul motivasi kuat untuk memulihkan kebebasan tersebut dengan cara melakukan hal yang berlawanan. Anak remaja sangat sensitif terhadap otonomi diri. Semakin keras kita menekan dengan nada memerintah, semakin kuat mereka melawan, hal ini bukan karena mereka membenci nasihatnya, tapi karena mereka ingin membuktikan bahwa mereka memiliki kendali atas hidup mereka sendiri.
Bantahan mereka sebenarnya adalah "alarm" bagi orang tua bahwa metode komunikasi kita perlu bermigrasi, dari sosok "Manajer" yang memberi instruksi harian, menjadi sosok "Konsultan" yang mengajak berdiskusi setara, berdiskusi dengan melihat perspektif mereka, tanpa amarah, tapi harapan agar pesan dapat didengar dan diterima dengan tepat dan tanpa luka.
Karakter yang kuat, sebagaimana yang diminta dalam Surah An-Nisa adalah hasil dari proses panjang yang konsisten. Untuk itu kita perlu mengubah paradigma dari sekadar bereaksi secara emosional menjadi bertindak secara metodologis. Kita jadikan rumah sebagai "laboratorium" di mana karakter anak diteliti, dipahami, dan dikembangkan secara objektif.
Karakter adalah akumulasi dari keputusan kecil yang diambil setiap hari. Jika kita ingin anak memiliki kekuatan ekonomi dan agama di masa depan, maka kedisiplinan diri adalah otot yang harus dilatih. Perubahan perilaku pada anak, hanya akan terjadi jika pemicunya datang dari dalam, bukan dari tekanan luar.
Tiga pilar nasihat
Dalam upaya mencetak generasi yang kuat secara mental dan spiritual, ada tiga pilar yang bisa kita terapkan sebagai bagian dari riset karakter di rumah. Pertama, Transisi Otonomi melalui Dialog Visi. Anak remaja laki-laki, misalnya, butuh alasan logis yang maskulin untuk melakukan sesuatu. Nasihat harus berubah bentuk menjadi pertanyaan strategis.
Daripada menyebutnya "pemalas", kita bisa mengajaknya berpikir melalui pertanyaan yang dapat membuatnya bervisi, misal "Nak, Ayah ingin kamu menjadi pemimpin yang tangguh secara ekonomi dan disegani karena integritasmu. Menurutmu, disiplin apa yang harus kita bangun sejak sekarang agar kamu siap memegang tanggung jawab besar itu kelak?" Pertanyaan ini memicu anak untuk berpikir tentang masa depannya sendiri, bukan sekadar menuruti kemauan orang tua.
Kedua, Validasi Perasaan sebelum Koreksi Tindakan. Dalam ilmu komunikasi non-konfrontatif, sering kali bantahan anak muncul karena mereka merasa tidak dipahami. Sebelum mengoreksi kesalahannya, validasi tantangan yang dihadapi. Kita bisa menggunakan pendekatan “I-Message” yang menitikberatkan pada perasaan kita sebagai orang tua, contohnya "Ayah merasa khawatir karena Ayah sangat menyayangimu dan ingin kamu sukses dunia-akhirat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Hayail-Umroh-PENULIS-OPINI.jpg)