Jurnalisme Warga
Bermain Ular Tangga Sambil Kelola Emosi di Pesantren Baitul Arqam Muhammadiyah
Permainan edukatif bukan sekadar hiburan, melainkan laboratorium sosial yang aman bagi remaja untuk melatih regulasi emosi
SYARIFAH ZAINAB, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Aceh, melaporkan dari Sibreh, Aceh Besar
Permainan edukatif bukan sekadar hiburan, melainkan laboratorium sosial yang aman bagi remaja untuk melatih regulasi emosi dan mencegah perundungan.
Masa remaja merupakan periode transisi krusial yang kerap diwarnai fluktuasi emosional yang sangat intens. Pada fase ini, individu mengalami perubahan biologis, kognitif, dan sosial yang signifikan. Perubahan tersebut sering kali membuat remaja menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, serta mengalami kesulitan dalam memahami dan mengendalikan emosinya sendiri.
Di Aceh, tantangan kesehatan mental cukup nyata, di mana prevalensi gangguan jiwa dilaporkan mencapai 2,7 persen. Angka ini menunjukkan bahwa kesehatan mental masih menjadi isu yang perlu mendapat perhatian serius, khususnya pada kelompok usia remaja.
Rendahnya kemampuan remaja dalam mengelola emosi negatif berdampak langsung pada munculnya berbagai perilaku malaadaptif.
Dalam konteks pendidikan, hal ini sering kali termanifestasi dalam bentuk konflik antarteman, perilaku agresif, hingga perundungan (bullying).
Tidak jarang, remaja yang tidak mampu mengelola kemarahan atau rasa frustrasi akan menyalurkan melalui tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Tantangan ini menjadi semakin spesifik di lingkungan pendidikan berasrama seperti pesantren. Para santri tidak hanya menghadapi tuntutan akademik, tetapi juga harus beradaptasi dengan kehidupan kolektif yang penuh aturan, keterbatasan privasi, serta interaksi sosial yang intens selama 24 jam.
Selain itu, adanya tuntutan untuk menghafal Al-Qur’an atau setor hafalan harian, dan menjaga kedisiplinan tinggi dapat menjadi tekanan tambahan bagi sebagian santri. Kondisi ini menjadikan pesantren sebagai lingkungan yang kaya akan pengalaman sosial, tetapi sekaligus berpotensi menimbulkan stres jika tidak diimbangi dengan keterampilan regulasi emosi yang baik.
Menyadari urgensi tersebut, saya dan tim peneliti dari Fakultas Psikologi Unmuha, dengan dukungan dari Riset Muhammadiyah (RisetMu), mengembangkan sebuah langkah preventif yang sederhana, tetapi bermakna. Kami berupaya menghadirkan pendekatan yang lebih kontekstual, menyenangkan, dan mudah diterima oleh remaja, khususnya di lingkungan pesantren. Pendekatan ini diwujudkan dalam bentuk permainan edukatif yang kami sebut sebagai “Ular tangga emosi”.
Alih-alih menggunakan pendekatan klinis yang formal dan terkadang terasa kaku bagi remaja, kami memilih media permainan yang sudah sangat familier. Permainan ular tangga dipilih karena sifatnya sederhana, interaktif, dan mampu melibatkan banyak peserta dalam suasana yang santai.
Namun, permainan ini kami modifikasi sedemikian rupa sehingga tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana pembelajaran emosional.
Pentingnya meregulasi emosi
Kemampuan mengelola emosi (regulasi emosi) merupakan salah satu keterampilan hidup (life skill) yang sangat penting bagi remaja. Regulasi emosi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menahan amarah, tetapi juga mencakup kemampuan mengenali emosi, memahami penyebabnya, serta mengekspresikannya secara tepat dan adaptif.
Remaja yang memiliki kemampuan regulasi emosi yang baik cenderung lebih mampu menghadapi tekanan hidup, memiliki hubungan sosial yang lebih sehat, serta menunjukkan perilaku yang lebih prososial.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/SYARIFAH-ZAINAB-LALALALALA.jpg)