Konsultasi Agama Islam
Hukum Menunda Mandi Junub Karena Datang Haid - Konsultasi Agama Islam
Dari Abu Hurairah r.a, sungguh Nabi SAW bertemu dengannya di salah satu jalan kota Madinah, padahal ia masih dalam kondisi junub
2. Apabila seseorang sedang dalam keadaan berjunub, kemudian datang haid sebagaimana dalam kasus pertanyaan di atas, maka tidak wajib mandi dua kali. Bahkan mandi junub dimana seorang perempuan dalam keadaan berhaid tidak sah mandinya. Karena itu, perempuan tersebut memadai mandi di saat berakhir haidnya dengan satu kali mandi.
Imam as-Syafi’i dalam al-Umm menyatakan,
إذَا أَصَابَتْ الْمَرْأَةَ جَنَابَةٌ ثُمَّ حَاضَتْ قَبْلَ أَنْ تَغْتَسِلَ مِنْ الْجَنَابَةِ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهَا غُسْلُ الْجَنَابَةِ وَهِيَ حَائِضٌ؛ لِأَنَّهَا إنَّمَا تَغْتَسِلُ فَتَطْهُرُ بِالْغُسْلِ وَهِيَ لَا تَطْهُرُ بِالْغُسْلِ مِنْ الْجَنَابَةِ وَهِيَ حَائِضٌ فَإِذَا ذَهَبَ الْحَيْضُ عَنْهَا أَجْزَأَهَا غُسْلٌ وَاحِدٌ
Ketika wanita berjunub, lalu mengalami haid sebelum mandi junub, dia tidak wajib untuk mandi junub selama masa haid. Karena fungsi mandi bisa menyebabkan orang menjadi suci, sementara dia tidak bisa suci dengan mandi junub, sementara dia dalam kondisi haid. Jika haidnya telah selesai, maka memadai mandi sekali. (al-Umm, 1/61).
Hal yang sama juga telah ditegaskan Imam al-Nawawi :
إذَا حَاضَتْ ثُمَّ أَجْنَبَتْ أَوْ أَجْنَبَتْ ثُمَّ حَاضَتْ لَمْ يَصِحَّ غُسْلُهَا عَنْ الْجَنَابَةِ فِي حَالِ الْحَيْضِ لِأَنَّهُ لَا فَائِدَةَ فِيهِ
Ketika wanita berhaid, lalu berjunub atau berjunub, lalu berhaid, maka tidak sah mandi junubnya pada saat berhaid. Karena tidak ada faedah mandinya (Majmu’ Syarh Muhazzab II/150)
Baca juga: Hukum Membaca Basmalah dalam Penyembelihan - Konsultasi Agama Islam
3. Karena memadai dengan satu kali mandi di saat berakhir haid, maka tentunya memadai dengan satu niat saja, yakni niat mengangkat hadats besar. Bahkan apabila mandi dengan niat mengangkat hadats salah satunya seperti niat mengangkat hadats sebab junub, tetap terangkat juga hadats sebab haid. Karena maksud dari mandi haid dan junub ini sama-sama mengangkat hadats besar. Qaidah fiqh mengatakan :
إذَا اجْتَمَعَ أَمْرَانِ مِنْ جِنْسٍ وَاحِدٍ وَلَمْ يَخْتَلِفْ مَقْصُودُهُمَا دَخَلَ أَحَدُهُمَا فِي الْآخَرِ غَالِبًا
Apabila berhimpun dua perkara yang sejenis, sedangkan maksud keduanya tidak berbeda, maka salah satunya masuk dalam yang lain pada kebiasaan. (al-Asybah wan Nadhair lil Suyuthi : 126)
Al-Imam ‘Amirah menegaskan :
قَوْلُ الشَّارِحِ: (أَوْ حَيْضٍ) لَوْ كَانَ عَلَى الْمَرْأَةِ حَيْضٌ وَجَنَابَةٌ فَنَوَتْ أَحَدَهُمَا فَقَطْ ارْتَفَعَ الْآخَرُ قَطْعًا، وَاسْتَشْكَلَ الْقَطْعَ مَعَ جَرَيَانِ الْخِلَافِ فِي نَظِيرِهِ مِنْ الْوُضُوءِ.
Perkataan pensyarah : (atau haid). Jika seorang perempuan mengalami haid dan junub, lalu ia meniatkan mandi salah satunya saja, maka terangkat hadats yang lain tanpa khilaf.(Hasyiah Qalyubi wa ‘Amirah I/74-75)
Wallahua’lam bisshawab
Baca juga: Bagaimana Hukum Wakaf Uang? - Konsultasi Agama Islam
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Hukum-Menunda-Mandi-Junub.jpg)