Opini
PON Aceh 2024 Antara Harapan dan Kenyataan
Pekan Olahraga Nasional (PON) sering dipandang terlalu sederhana dan mudah, padahal suksesnya penyelenggaraan multieven tersebut
OLEH Prof Dr NYAK AMIR MPd, Profesor dalam bidang Ilmu Keolahragaan dan Dosen Program Studi Magister Pendidikan Olahraga FKIP USK serta Sekretaris Jenderal PB PERPANI
DALAM penyelenggaraan kegiatan olahraga untuk multieven seperti Pekan Olahraga Nasional (PON) sering dipandang terlalu sederhana dan mudah, padahal suksesnya penyelenggaraan multieven tersebut, memerlukan perencanaan yang komprehensif, karena harus menyiapkan infrastruktur yang memadai dan menggunakan jaringan sistem yang komprehensif juga.
Multieven PON diselenggarakan setiap empat tahunan, pelaksanaannya diselenggarakan secara periodik dan berkesinambungan (Undang-Undang Nomor 11 tahun 2022 tentang Keolahragaan (Pasal 47 ayat 1), ayat 2 Pemerintah Pusat bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan PON dengan menugaskan komite olahraga nasional selaku penyelenggara, ayat 3 Pemerintah Daerah yang ditetapkan oleh penyelenggara bertanggungjawab terhadap pelaksanaan PON.
Selanjutnya Pasal 48 penyelenggaraan kejuaraan olahraga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 dilakukan dengan prinsip efisiensi, keunggulan, terukur, akuntabel, sistematis, dan berkelanjutan.
Maka persiapan dan penyelenggaraan PON perlu diatur dan ditata secara manajemen yang baik dan benar.
Penyelenggaraan PON merupakan momentum yang tepat bagi mempercepat pemerataan pembangunan dan untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.
Pembangunan venue PON, tentunya akan diikuti dengan pembangunan infrastruktur dasar lainnya yang mendukung pengembangan wilayah tersebut, baik perumahan, jalan dan jembatan, jaringan air bersih, daya listrik dan telekomunikasi.
Selain itu tujuan PON, diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pariwisata, menjaring bibit atlet, meningkatkan prestasi olahraga nasional, serta juga PON dapat menuju proses memperkuat solidaritas sosial antar anak bangsa dari berbagai provinsi.
PON sebagai pesta terbesar olahraga nasional yang dilaksanakan pertama kali digelar pada tahun 1948 di Solo, dan terakhir penyelenggaraannya di Papua tahun 2021.
Penentuan Penyelenggaraan PON XXI 2024, merupakan hasil bidding, tepatnya pada tanggal 24 April 2018 di Hotel Grand Bidakara Jakarta, Aceh-Sumut berhasil memenangkan bidding tersebut, Aceh-Sumut memperoleh 24 suara unggul jauh dari Bali-Nusa Tenggara Barat yang hanya mendapat 8 suara, serta Kalimantan Selatan 2 suara.
Baca juga: Wandi Gayo akan Bela Aceh dalam PON 2024 Cabor Wusu, Dijadwalkan Bertemu Ketua KONI Aceh
Baca juga: Alhamdulillah, KONI Setujui Tambahan Nomor Panahan di PON 2024, Jadi 19 Nomor & Sediakan 19 Emas
Dan hari ini sudah bulan September 2022, tidak terasa waktu sudah terlewati lebih dari 4 tahun dan PON Aceh-Sumut akan digelar pada bulan September 2024, hanya tersisa waktu 2 tahun lagi.
Sayangnya progres persiapan belum memberikan tahapan- tahapan capai yang baik, terutama dalam menyiapkan landasan hukum (Perda atau Pergub), perencanaan (Peta jalan dan grand strategis PON, penyediaan anggaran (APBA-APBN) dan pembangunan infrastruktur (stadion utama dan 13 venue cabor yang harus dibangun baru serta perkampungan atlet).
Mampukah Aceh mengejar ketinggalan tahapan persiapan PON? Tahapan persiapan Setelah terpilih sebagai tuan rumah PON XXI Aceh- Sumut pada tahun 2018, idealnya Aceh sebagai tuan rumah penyelenggaraan harus menentukan tahapan-tahapan persiapan yang sistematik dan konkret, sebagai ilustrasi konseptual kegiatan persiapan yang harus dilakukan fase tahunan, yakni di tahun 2019-2020 meliputi kegiatan 1) Penyusunan cetak biru peta jalan PON; 2) Pembentukan Panitia PB PON; 3) Perencanaan awal pembangunan infrastruktur; 4) Perencanaan logo dan maskot; 5) Sosialisasi program PON dan 6) Penyediaan anggaran APBA dan APBN untuk 2019-2020;.
Di tahun 2020- 2021 meliputi kegiatan 1) Perencanaan lanjutan; 2) Pembangunan infrastruktur; 3) Konsolidasi para pemangku kepentingan; 4) Sosialisasi logo dan maskot; dan 5) Penyediaan anggaran APBA dan APBN untuk 2020-2021.
Di tahun 2021-2022, meliputi kegiatan 1) Sosialisasi pelaksanaan; 2) Pembangunan infrastruktur lanjutan; dan 3) Penyediaan anggaran APBA dan APBN untuk 2021-2022.
Di tahun 2022-2023 meliputi kegiatan 1) Pelatihan dan pendidikan SDM; 2) Pembangunan infrastruktur lanjutan; 3) Pengadaan peralatan pendukung; dan 4) Penyediaan anggaran APBA dan APBN untuk 2022-2023.
Di tahun 2023-2024 meliputi kegiatan 1) Pendidikan dan pelatihan SDM; 2) Pengadaan dan pelatihan SDM Pengelola Venue; 3) Penyelesaian akhir pembangunan infrastruktur; 4) Pengadaan peralatan pendukung; 5) Penyusunan SOP; dan 6) Penyediaan anggaran APBA dan APBN untuk 2022-2023.
Di tahun 2024 meliputi kegiatan 1) Perancangan acara pembukaan dan penutupan; 2) Finalisasi stadion utama dan venue lainnya; 3) Pengadaan peralatan pendukung; 4) Ujicoba venue; 5) Persiapan acara pembukaan dan penutupan; dan 6) Penyediaan anggaran APBA dan APBN untuk 2024.
Pembiayaan PON Pembiayaan yang dibutuhkan untuk penyelenggaraan PON Aceh-Sumut 2024, sebagai referensi dapat kita lihat pembiayaan dari PON Papua, yakni PON Papua dibiayai sejak 2018-2021 dengan APBD dan APBN.
Pembiayaan bersumber dari Dana Tambahan Infrastruktur, Dana Otonomi Khusus, Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Khusus Fisik dan belanja kementerian dan lembaga yang disalurkan melalui APBD.
Baca juga: Sungai Alas Lokasi Arung Jeram PON 2024, Ketua DPRK dan Rakyat Agara Apresiasi Menpora
Dana Penyelenggraan PON Papua menembus angka Rp10.43 triliun.
Dengan rincian: Di tahun 2018 (DTI: Rp 881,5 miliar dan K/L: Rp 211,2 miliar); Di tahun 2019 ( DTI: Rp 716,5 miliar, DOtsus: Rp 1,10 triliun, DBH: Rp 1,708 triliun, DAK Fisik: Rp 82,53 miliar dan K/L: Rp 758,93 miliar); Di tahun 2020 (DTI: Rp 140,5 miliar, DOtsus: Rp 1,44 triliun, DAK Fisik: Rp 18,55 miliar dan KL: Rp 999,66 miliar); Di tahun 2021 (KL: Rp 793,73 miliar dan Bantuan Pemerintah Pusat melalui Kemenpora ke Papua: Rp 1,58 triliun).
Kebutuhan biaya penyelenggaraan PON Aceh, penulis mengestimasikan membutuhkan anggaran menembus angka 5,1 triliun, dengan rincian, yakni pembangunan stadion utama di lokasi utama PON Aceh di Neuheun Aceh Besar membutuhkan dana berkisar 1,8 trilium dan membangun 13 venue serta perkampungan atlet akan terserap dana berkisar 1,6 triliun, renovasi venue lainnya membutuhkan kisaran dana 500 miliar, penyelenggaraan PON dengan 33 cabang dan untuk pembukaan dan penutupan membutuhkan kisaran dana 800 miliar, serta persiapan atlet dan bonus membutuhkan kisaran dana 400 miliar.
Penganggaran hanya tersisa 2 tahun lagi, yakni tahun 2023 dan 2024.
Apa mungkin pembiayaan PON dapat terpenuhi? SDM PON Dalam rangka mempersiapkan infrastruktur dan kesuksesan penyelenggaraan PON Aceh, yang menjadi indikator kesuksesan, yakni sukses penyelenggaraan, sukses prestasi, sukses pemberdayaan ekonomi, sukses manajemen administrasi, dan sukses promosi daerah.
Kesuksesan tersebut sangat ditentukan oleh tersedianya Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal.
SDM tersebut perlu segera disiapkan dan diberdayakan dengan baik, termasuk juga sejumlah dinas teknis terkait yang perlu segera difungsikan perannya, yakni Dispora selaku leading sektor, PU, Dinas Keuangan, Badan Pertahanan, Dishub, Diskes, DisSos, Disbudpar, Dispend, Diskes, Biro Hukum, KONI dan Perguruan Tinggi serta peranan DPR Aceh.
Harapan masyarakat Melihat progres persiapan penyelenggaraan PON Aceh yang belum berjalan sesuai dengan tahapan di atas, dan hanya baru beberapa komponen saja yang telah memiliki progres persiapan, yakni SK Penunjukan tuan rumah, penentuan cabang yang dipertandingkan, pemetaan dan penentuan lokasi lahan utama venue PON dan pembentukan panitia PB.PON XXI.
Di sisi lain masyarakat sangat berharap kepada Pemerintah Aceh agar dapat mempersiapkan infrastruktur dan penyelenggaraan PON Aceh yang berkualitas serta adanya pembangunan infrastruktur dalam rangka pemerataan pembangunan di Aceh.
Baca juga: PON 2024 di Enam Daerah
Apakah kita mampu memenuhi harapan tersebut, menyiapkan anggaran, membangun infrastruktur PON dan mengejar tahapan persiapan tersebut.
Apakah Pemerintah Pusat dapat berpihak ke PON Aceh sebagai daerah modal, seperti keberpihakan ke PON Papua.
Apakah PON Aceh dapat menjadi kenyataan atau hanya sekadar terlaksana seperti kejuaraan biasa dengan infrastruktur yang minimalis yang tidak memadai.
Mudahmudah menjadi kenyataan? Semoga! (amir_fkip@unsyiah.ac.id)
Baca juga: PODCAST Srategi Aceh Menembus 10 Besar PON 2024
Baca juga: 13 Venue PON 2024 Dibangun di Neuheun Aceh Besar, Termasuk Stadion Bertaraf Internasional Rp 1,8 T
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Dr-NYAK-AMIR-MPd-Profesor-dalam-bidang-Ilmu-Keolahragaan.jpg)