Breaking News:

Kupi Beungoh

Rahasia Batin Latihan Persiraja

Demi menjaga mimpi itu, cara yang dilakukan adalah dengan menonton Persiraja saban sore, seperti yang dikisahkan oleh Fadli dalam....

For Serambinews.com
Muhammad Alkaf 

Saya semakin mempercepat langkah. Dalam bayangan, guru olahraga yang terkenal tegas sudah menunggu di pintu utama sekolah, sepertinya hukuman untuk saya, karena terlambat, sudah menunggu.

Tiba-tiba, saya dikejutkan oleh seseorang yang bermurah hati menawarkan boncengan. Begitu saya melihat orang tersebut, hati ini berdegup kencang, perasaan gugup langsung menyerang. Orang itu adalah Mustafa Jalil.

Tentu saja, kemurahan hati itu, saya sambut. Sambil duduk di jok belakang motornya, kami berbicara. Rupanya, Mustafa mengetahui kalau saya sering menonton Persiraja latihan.

Percakapan kami kemudian seputar Persiraja. Dia bercerita dengan ringan saja pertandingan persahabatan yang baru saja dilakoni.

Dia juga menyebut nama-nama pemain yang hanya bisa saya saksikan dari atas tribun seperti Irwansyah dan Dahlan Jalil. Namun, bagi saya, percakapan di atas motornya itu sangat mewah.

Tidak lama, sampailah saya di depan gerbang sekolah. Setelah mengucapkan terima kasih, Mustafa pun berlalu.

Dari halaman sekolah, guru olahraga yang ditakuti itu sudah menunggu. Sepertinya, dia telah melihat kalau saya diantar oleh Mustafa Jalil.

Begitu tiba di hadapannya, saya sudah bersiap menerima hukuman. Namun, terjadilah hal yang mengejutkan, saya dibebaskan dari hukuman dan dipersilahkan masuk ke kelas. Mengherankan sekaligus melegakan.

Guru olahraga sekolah kami itu memang fans berat Persiraja. Saya sering melihatnya di stadion Lampineung, baik saat Persiraja bertanding dan berlatih.

Tentu saja, baginya, pemain Persiraja adalah kumpulan elite dan idola masyarakat Aceh saat itu.

Dalam konteks itulah, dia melihat saya dengan cara pandang yang baru: siswanya yang diantar langsung oleh salah satu pemain andalan Persiraja.

Sejak saat itu, hubungan kami berlangsung akrab. Wajahnya terlihat ramah bila berjumpa saya di sekolah. Posisi saya semakin mulia di matanya karena sering bertemu di stadion.

Sebagai siswa yang punya sopan santun - - apalagi yang bisa diandalkan di hadapan guru olahraga yang disegani kecuali hal itu - - saya menyapanya dengan hormat. Dia pun membalas dengan sikap welas asih.

Hubungan baik itu berlangsung lama. Sampai pada satu waktu, dengan keberanian yang mungkin sudah dipupuknya dengan lama, dia bertanya kepada saya.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved