Selasa, 2 Juni 2026

Kupi Beungoh

Rahasia Batin Latihan Persiraja

Demi menjaga mimpi itu, cara yang dilakukan adalah dengan menonton Persiraja saban sore, seperti yang dikisahkan oleh Fadli dalam....

Tayang:
For Serambinews.com
Muhammad Alkaf 

Oleh: Bung Alkaf *)

TEUKU Fadli menulis impiannya tentang memilki Persiraja. Mimpi yang unik. Karena, biasanya, remaja laki-laki Aceh yang sedang tumbuh lebih memilih bermimpi menjadi pemain Persiraja daripada memilikinya.

Membayangkan bermain sepak bola di stadion Lampineung Banda Aceh dengan memakai jersey oranye adalah hal yang terindah.

Namun, tidak semua mampu mewujudkan mimpi itu. Lapangan di stadion Lampineung hanya mampu menampung beberapa puluh orang saja.

Demi menjaga mimpi itu, cara yang dilakukan adalah dengan menonton Persiraja saban sore, seperti yang dikisahkan oleh Fadli dalam kisah mimpinya itu.

Menonton Persiraja latihan, seperti yang saya lakukan di masa remaja, adalah hal yang mengasyikkan. Selepas sembahyang Ashar, saya bersama teman-teman kerap berada di tribun demi menyaksikan para pemain Persiraja menendang bola, berlari, berteriak, tertawa, dan kelimpungan.

Baca juga: Bang Fuad

Baca juga: Serambi

Baca juga: Koes Plus

Dari tribun, ragam aksi terlihat, mulai teriakan dari penonton yang kerap mengundang tawa, kehadiran para pemain lawas Persiraja yang mengamati latihan dengan serius, sampai keberadaan pengamat sepak bola dadakan. Semua menjadi satu saat menyaksikan Persiraja latihan.

Karena sering menonton latihan, saya pernah mendapatkan anugerah yang tak disangka-sangka.

Pada satu pagi, saya terlambat ke sekolah. Tentu, bukan satu-satunya keterlambatan yang pernah saya lakukan. Tetapi, keterlambatan pagi itu sangat bersejarah.

Baca juga: Manajemen Persiraja Ajukan Semua Pertandingan Digelar Sore Hari

Baca juga: VIDEO Setelah Ziarah ke Makam Syiah Kuala, Persiraja Beri Santunan ke Dayah Mini Aceh

Saya saat itu sudah bersekolah di SMA Negeri 4 Lampineung. Karena terlambat, saya memangkas perjalanan melalui stadion Lampineung. Suasana sudah lengang.

Tiada orang di kawasan itu. Kecuali satu orang yang sedang keluar dari pintu utama stadion menuju sepeda motornya.

Saya melihat dari jauh, rupanya Mustafa Jalil, pemain andalan Persiraja.

Dia salah satu tulang punggung tim. Aksinya lincah. Skillnya mumpuni. Dia sering mengacak-ngacak tim lawan dengan gocekannya.

Oleh reporter RRI yang melaporkan siaran langsung pandangan mata, aksinya itu digambarkan dengan, "meliuk-liuk di jantung pertahanan lawan."

Saya semakin mempercepat langkah. Dalam bayangan, guru olahraga yang terkenal tegas sudah menunggu di pintu utama sekolah, sepertinya hukuman untuk saya, karena terlambat, sudah menunggu.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved