Jumat, 1 Mei 2026

Berita Banda Aceh

Sekolah Berperan Hilangkan Bullying

Anak mengalami gangguan tidur, terdapat luka pada tubuh maupun cedera, sulit untuk berinteraksi dan gangguan pada prestasi, adalah beberapa tanda

Tayang:
Editor: bakri

BANDA ACEH - Anak mengalami gangguan tidur, terdapat luka pada tubuh maupun cedera, sulit untuk berinteraksi dan gangguan pada prestasi, adalah beberapa tanda seorang anak mengalami tindakan bullying di sekolah.

Bullying adalah tindakan yang bisa menyakiti seseorang maupun sekelompok orang baik secara verbal, fisik maupun psikologis, sehingga korban merasa tertekan dan trauma sampai tak berdaya.

Pembahasan mengenai bahaya bullying bagi anak sekolah ini diulas dalam program ‘30 Menit Bersama Tokoh’ dengan tema "Bahaya Bullying Bagi Anak Sekolah" disampaikan Direktur Pascasarjana UIN Ar-Raniry yang juga Anggota Majelis Pendidikan Aceh, Prof Eka Srimulyani PhD yang dipandu News Manajer Serambi Indonesia, Bukhari M Ali, Senin (12/9/2022).

Prof Eka menerangkan, kasus bullying seperti gunung es, berusaha ditutupi dengan berbagai alasan.

Namun semenjak adanya media sosial, kasus-kasus bullying sulit ditutupi sehingga mudah diketahui.

"Kasus bullying ini seperti gunung es, berusaha untuk ditutupi dengan berbagai cara dan alasan, namun semenjak masyarakat ramah dengan media sosial, kasus-kasus bullying mudah untuk terbongkar," katanya.

"Jangan khawatir jika kasus bullying viral.

Tapi khawatirkan kasus bullying itu memang terjadi, apa yang harus kita lakukan? kita bisa membangun mekanisme komplain, jangan mempersoalkan mengenai kasus itu viral, namun persoalkan bagaimana kejadian bullying itu terjadi," tambahnya.

Direktur Pascasarjana UIN Ar-Raniry ini juga menerangkan, ada hasil penelitian menjelaskan praktek bullying dilakukan sebagai kegiatan selingan.

Baca juga: Darurat Bullying di Sekolah

Baca juga: SMA Mosa Gandeng ICMI dan BNN, Beri Siswa Pemahaman Bahaya Bullying dan Narkoba

Sehingga, untuk menghilangkan praktek bullying, pihak sekolah harus mengambil peran dengan melakukan kegiatan selingan lain bagi pada murid agar terhindar dari praktek bullying.

"Hasil dari penelitian, ditemukan bahwa praktek bullying ini dilakukan sebagai kegiatan selingan, murid melakukan aktivitas bullying untuk mendapatkan hiburan, pihak sekolah harus menyadari ini dan mesti membuat kegiatan selingan lain, seperti olahraga, seni dan sebagainya, sehingga anak-anak tidak membuat kegiatannya sendiri dengan praktek bullying," terang Anggota Majelis Pendidikan Aceh.

Peran orang tua

Dikatakan, orang tua sangat berperan dalam mencegah anaknya agar tidak menjadi korban bullying.

Apabila anak tidak berani mengatakan kepada guru kalau menjadi korban bullying, maka masih ada orang tua tempat untuk mengadu.

Sangat penting bagi orang tua, untuk peka dengan keadaan anaknya, seperti pulang dengan keadaan lemas, fisiknya terluka dan sebagainya, karena bisa saja anak tersebut menjadi korban bullying.

Bullying fisik bisa dibawa ke ranah hukum, meski demikian bullying sebagian besar berpengaruh pada kecerdasaan maupun emosional anak.

Kerap, anak korban bullying sering trauma dan tidak berani berinteraksi dengan orang baru, karena psikologis mereka telah terpengaharui dengan tindakan-tindakan yang membuat dirinya trauma.

"Apabila anak tidak berani melaporkan ke sekolah, maka anak masih bisa melaporkan ke orang tua.

Orang tua akan melaporkan ke sekolah.

Bukan hanya di Indonesia, bullying juga terjadi di lingkungan sekolah di luar negeri, apabila bullying telah mencederai fisik, bisa dibawa ke ranah hukum, namun trauma anak tidak mudah sembuh, kerap korban bullying mengalami trauma meskipun dirinya sudah menginjak usia dewasa," tutup Prof Eka. (sa)

Baca juga: Ingat! Candaan Bisa Dipidanakan Jika Masuk Kategori Bullying, Jaksa Beri Kesadaran Hukum untuk Siswa

Baca juga: Ini 8 Oknum Pegawai KPI Pusat Diduga Lakukan Bullying, Ini Perannya Masing-masing

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved