Internasional

WHO Peringatkan Penyebaran Wabah Kolera di Suriah, Usai Kasus Pertama Tercatat Pada 2009

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Selasa (13/9/2022) memperingatkan risiko kolera sangat tinggi yang menyebar ke seluruh Suriah.

Editor: M Nur Pakar
AFP/File
Seorang pasien kolera yang terbaring di ranjang rumah sakit diperiksa oleh tim dokter Suriah. 

SERAMBINEWS.COM, BEIRUT - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Selasa (13/9/2022) memperingatkan risiko Kolera sangat tinggi yang menyebar ke seluruh Suriah.

Negara yang sedang berperang itu mencatat kasus pertamanya pada 2009 lalu.

"Risiko penyebaran kolera ke provinsi lain sangat tinggi," kata WHO, setelah kasus tercatat di setidaknya lima dari 14 provinsi di Suriah, seperti dilansir AFP.

“Sumber infeksi dapat dikaitkan dengan orang yang minum air dari sumber yang tidak diolah,” kata WHO.

"Atau kontaminasi makanan karena mengairi tanaman dengan air yang terkontaminasi,” tambahnya.

Pada Senin (12/9/2022), Kementerian Kesehatan Suriah melaporkan dua kematian akibat kolera di daerah yang dikuasai pemerintah.

Baca juga: Korban Banjir Pakistan Mulai Diserang Penyakit, Diare Sampai Demam Berdarah

Pada Sabtu (10/9/2022), pihak berwenang Kurdi melaporkan tiga kematian di wilayah utara dan timur Suriah di bawah kendali mereka.

WHO mengatakan kasus tersebut menjadi yang pertama dilaporkan di Suriah sejak 2009, ketika 342 kasus dikonfirmasi di timur Provinsi Deir Ezzor dan utara Provinsi Raqqa.

Penyakit ini umumnya tertular dari makanan atau air yang terkontaminasi, dan menyebabkan diare dan muntah.

Tetapi, juga dapat menyebar di daerah pemukiman yang tidak memiliki jaringan pembuangan air limbah atau air minum utama.

Perang saudara selama satu dekade telah merusak dua pertiga instalasi pengolahan air Suriah.

Bahkan, setengah dari stasiun pompa dan sepertiga menara airnya rusak, kata Dana Anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF).

Baca juga: Jet Tempur Rusia Bombardir Idlib, Tujuh Warga Sipil Suriah Tewas

Hampir setengah populasi bergantung pada sumber air alternatif dan seringkali tidak aman, sementara setidaknya 70 persen limbah tidak diolah, tambahnya.

PBB mengeluarkan seruan mendesak kepada negara-negara donor untuk pendanaan tambahan untuk memerangi wabah tersebut.

“Wabah ini menghadirkan ancaman serius bagi orang-orang di Suriah dan kawasan itu,” kata Koordinator Kemanusiaan dan Kependudukan PBB di Suriah, Imran Riza.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved