Internasional
Korban Banjir Pakistan Mulai Diserang Penyakit, Diare Sampai Demam Berdarah
Pakistan terus berjuang untuk memerangi wabah berbagai penyakit yang ditularkan melalui air.
SERAMBINEWS.COM, KARACHI - Pakistan terus berjuang untuk memerangi wabah berbagai penyakit yang ditularkan melalui air, usai diterjang banjir.
Terutama di selatan negara itu, kawasan paling parah diterjang banjir bandang.
Dilansir Arab News, Selasa (6/9/2022), pemerintah dan badan amal mendirikan ratusan kamp medis di seluruh negeri untuk merawat pasien di daerah yang dilanda banjir.
Hujan monsun bersejarah dan gletser yang mencair di pegunungan utara membawa banjir dahsyat.
Dimana, telah menewaskan 1.314 orang dan mempengaruhi lebih dari 35 juta orang, menurut data yang dibagikan oleh Pusat Koordinasi Respons Banjir Nasional (NFRCC).
Sepertiga dari negara itu terendam dan cuaca ekstrem, yang secara luas dikaitkan dengan perubahan iklim, masih diperkirakan akan berlanjut selama beberapa hari ke depan.
Di Provinsi Sindh selatan, 511 orang, termasuk 219 anak-anak telah kehilangan nyawa.
Sementara ribuan orang di seluruh negeri diserang oleh berbagai penyakit yang ditularkan melalui air.
Seperti diare, malaria, infeksi kulit dan demam berdarah, menurut petugas medis yang bekerja di lapangan. .
Data resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah Sindh menunjukkan lonjakan jumlah kasus demam berdarah dari 361 pada Juli 2022 menjadi 1.336 pada September 2022.
Baca juga: Banjir Pakistan Terus Berlangsung, Gletser Mencair Massal, Provinsi Jadi Danau Seluas 100 Km
Bahkan, 257 kasus saja telah dilaporkan dalam empat hari pertama September 2022.
Pemerintah Sindh telah mendirikan 110 kamp medis dan menugaskan 117 dokter dan 277 paramedis, yang telah merawat lebih dari 785.000 pasien di daerah yang dilanda banjir sejak Juli.
“Nyamuk menyebar dengan cepat di semua daerah yang terkena banjir di provinsi Sindh, menyebabkan tingginya jumlah kasus demam berdarah setiap hari,” kata Mehar Khursheed, juru bicara Departemen Kesehatan Sindh.
“Kasus malaria juga meningkat karena pencemaran air," tambahnya.
"Banyak tempat yang masih sulit dijangkau oleh tim kesehatan dan gambaran penyakit yang sebenarnya baru diketahui setelah air banjir surut," katanya.