Opini
Membongkar Bjorka di Sekolah
Bjorka bukan satu-satunya hacker Indonesia yang membuat seantero negeri beralih perhatian pada mereka
Putra yang belajar otodidak, senang bermain game, ternyata mempelajari development coding pada suatu website dan kemudian mempraktikkannya pada sebuah keamanan website yang tidak tanggung, NASA.
Lembaga milik pemerintah Amerika Serikat yang bertanggung jawab atas program luar angkasa Amerika Serikat dan penelitian umum luar angkasa jangka panjang tentu memiliki keamanan data yang rumit ditembus, namun Putra Aji membuktikan dirinya sanggup.
Anak muda lain, Jim Geovedi pernah membobol sistem keamanan data pada satelit China.
Kini Jim bekerja di perusahaan keamanan data komputer di Inggris.
Namun beberapa hacker meneruskan pengambilan data tersebut untuk kejahatan lain sehingga meraup keuntungan besar.
Baca juga: LBH Surabaya Dampingi Pemuda Madiun yang Diduga Bantu Bjorka
ADC Hacker meraup miliaran rupiah setelah berhasil mengambil data dari website Pemda.
Duo hacker Indonesia SFR dan MZSRBP membuat Amerika Serikat merugi 60 Juta USD dengan membuat 14 website fake yang kemudian mengirim short message blast untuk memperoleh bantuan covid.
Para hacker yang sudah ditangkap ternyata anak-anak muda yang kesehariannya seperti remaja lainnya, bermain game, saling bertaruh, suka coding, mempelajari development platform dalam komunitas atau otodidak dan tidak ada pengetahuan formal tentang hacking di sekolah mereka.
Baik white hacker maupun cuan hacker, kegiatan meretas website suatu instansi merupakan kejahatan cyber.
Pelanggaran yang paling kecil sebatas pada etika digital, meski white hacker sebenarnya menguntungkan suatu instansi, ibaratnya mereka punya uji sistem pengamanan gratis dari kaum peretas.
Namun sayangnya di Indonesia, kita tidak memiliki Undang- undang Keamanan Data yang sebenarnya sangat penting di era digitalisasi.
Edukasi masyarakat kita pun rendah terhadap pentingnya keamanan data pribadi, sehingga Bjorka pun dianggap sebagai pahlawan oleh sebagian besar masyarakat terutama netizen.
Keamanan data Salah satu ciri kehidupan di era Revolusi Industri 4.0 adalah big data dan internet of things.
Digitalisasi serta aplikasi berbasis internet, senantiasa menjanjikan kemudahan.
Namun seiring intensitas yang tinggi aspek kehidupan pada dunia internet, seperti pasar online serta aplikasi yang menopang kebutuhan hidup termasuk lifestyle, semuanya mengharuskan kita memiliki akun dan password.
Baca juga: Pemuda Penjual Es Jadi Tersangka, Bantu Hacker Bjorka Buat Grup Telegram
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/KHAIRUDDIN-SPd-MPd-Kepala-SMA-Negeri-1-Matangkuli.jpg)