Opini
Prof Azra, Aceh dan Islam Kosmopolitan
Salah seorang ilmuan muslim yang sangat reputatif, dan memiliki pengaruh positif terhadap tatanan dunia yang dikehendaki sekarang
OLEH TEUKU TAUFIQULHADI, Ketua DPW Partai NasDem Aceh
AZYUMARDI Azra, cendekiawan muslim paling dihormati secara internasional, menghembuskan napas terakhir di rumah sakit Malaysia kemarin.
Seharusnya, ia akan menyampaikan makalahnya dalam sebuah seminar di negeri Melayu itu tentang "Kosmopolitisme Islam".
Kepergiannya sungguh sangat mendadak, yang membuat para sahabat karibnya kaget dan terpukul.
Bukan hanya di Indonesia tapi hampir seluruh dunia menyampaikan rasa kehilangan mereka.
Kenapa demikian luas? Karena Prof Azra adalah salah seorang ilmuan muslim yang sangat reputatif, dan memiliki pengaruh positif terhadap tatanan dunia yang dikehendaki sekarang.
Karena itu, Kerajaan Inggris menganugerahkan gelar kehormatan "Commander of the Orde of Brittish" .
Dengan demikian, ia berhak membubuhkan gelar "Sir" di depan namanya, sama seperti ilmuan-ilmuan dan seniman hebat lain yang berjasa bagi dunia seperti kosmolog Stephen Hawking, aktor terkenal Anthony Hopkins, sejarawan ekonomi Harold Pinter dll.
Rata-rata dari Inggris, dan Prof Azra yang pertama dari Indonesia.
Baca juga: Prof Azyumardi Azra Dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata
Baca juga: Azyumardi Azra Orang Indonesia Pertama Bergelar Sir, Siapa Tokoh Dunia Lainnya?
Baca juga: Wakil Wali Kota Langsa Sebut MAN - IC Aceh Timur Cikal Bakal Tunas Cendekiawan Muslim Indonesia
Sebagai pengajar di UIN Ciputat Jakarta, lingkungan yang sangat kondusif bagi munculnya gagasan-gagasan pembaharu penting tentang Islam, Prof Azra berminat soal pembaruan pendidikan Islam.
Ia memandang sangat penting upaya mengembangkan pendidikan yang sesuai dengan nilainilai yang diajarkan Nabi Muhammad.
Hanya kini pendidikan Islam itu harus dilakukan pembaruan yaitu modernisasi dalam tujuan, kurikulum dan lembaga.
Tujuan pendidikan Islam sangat mendesak untuk mengubah paradigma pendidikan yang hanya mementingkan akhirat saja.
Justru harus juga melihat secara bijaksana kepentingan-kepentingan dunia.
Modernisasi kurikulum dilakukan dengan mengembangkan Islamic Studies dalam penyelesaian persoalan umat Islam, mengembangkan ilmu-ilmu humaniora degan ciri khas Islam serta memasukkan iptek dalam struktur kurikulum pendidikan Islam.
Modernisasi lembaga dilakukan dengan memperbaiki sarana dan prasarana lembaga pendidikan Islam dengan memadukan majeman modern dan kultur masyarakat setempat.
Berbasis modernisasi pendidikan Islam ini, Prof Azra bergerak menjelajah semua literatur dan khazanah yang ada.
Berawal dari lulusan Universitas Columbia, New York, dengan judul disertasi "The Transmission of Islamic Reformism to Indonesia: Network of Middle Eastern and Malay-Indonesian Ulama in Seventeenth Eighteenth Century", Azra mengajukan pandangan-pandangannya tentang isu sosial dan politik.
Ia berpendapat, demokrasi harus masuk dalam pendidikan Islam.
Baca juga: Profil Azyumardi Azra, Ketua Dewan Pers yang Pernah Jadi Rektor UIN Jakarta Meninggal Dunia
Karena dengan demikianlah kita dapat mengharapkan pendidikan Islam yang bermutu.
Proses pendidikan yang tidak didukung oleh iklim pendidikan yang demokratis akan menghasilkan output yang tidak sesuai dengan tuntutan kekinian Indonesia.
Prof Azra menolak klaim dominasi suatu kelompok etnik dan agama di atas negara ini.
Hal itu, menurutnya, tidak sesuai pemahamannya sebagai sebuah ajaran Islam yang unggul dan anggun.
Ia, merujuk kepada nomenklatur "wasath" yang berasal dari al-Quran yang terkenal dengan ungkapan 'ummatan wasathan' (Al-Baqarah 2:143), yang sangat terkenal itu.
Meski 'wasath' diperkenalkan 14 abad yang lalu, tetapi resonansi nomenklatur qurani ini justru lebih menggema dan relevan sekarang ini.
Menurut Azra konsep Wasathiyah Islam lebih pas dibandingkan istilah 'moderasi beragama'.
Wasathiyah Islam ini, menurut Prof Azra, ada jejak yang kuat dalam literatur kepulauan nusantara sejak abad ke-17 dan terus melanjut pada masa sesudahnya.
Dalam kajian nomenklatur dan kajian Islam sekarang, tulis Azra, Wasasthiyah Islam bisa disebut 'justly balance" atau "middle path".
Wasathiyah Islam mengambil posisi 'tengahan', sesuai rumusan para ulama dan cendekiawan muslim dunia dalam konsultasi tingkat tinggi di Bogor pada 2018: tawassuth (tengahan) tawazun (berkeseimbangan), i'tidal (adil, lurus dan tengah), tasamuh (toleran), dan syura (konsultatif), dan ibtikar (inovatif).
Dalam perspektif Prof Azra, pribadi muslim yang ideal adalah memiliki nilai-nilai itu semua: tidak ekstrem.
Baca juga: INNALILLAHI, Prof Azyumardi Azra Meninggal Dunia di Malaysia
Selain itu harus toleran, kosmopolit dan berpandangan jauh ke depan.
Sejatinya, Prof Azra, yang tengah dalam pesawat ketika mulai sakit, akan terlibat dalam sebuah seminar tentang "Kosmopolitan Islam", topik yang sangat digandrunginya.
Konsep kosmoplitan ini, bagi Azra, berakar dari konsep wasathiyah Islam.
Konsep ini menganggap manusia berasal dan mempunyai kedudukan yang sama dalam suatu komunitas atau di ruang publik.
Batas-batas seperti ekonomi, keyakinan, fisik, budaya tidak menjadi penghalang untuk menyarakat saling berhubungan.
Menurut keyakinan modern, kosmopolitansime lahir dan membentuk jaringan transnasional dan menjangkau institusi global dan akhirnya membentuk institusi global.
Jaringan ini diciptakan oleh imigran dan kaum urban dalam suatu negara bangsa atau etnik yang akhirnya menciptakan kosmopolitanisme.
Globalisasi merupakan faktor pendorong terjadi masyarakat global tanpa batas tertentu.
Globalisasi mendorong kultur kosmpolit yang berkaraker inovatif, toleran dan tidak curiga dengan hal baru.
Bagaimana Aceh? Aceh memiliki karakter dasar dan sejarah yang sangat kosmoplit.
Kosmopolitanisme Aceh didorong oleh para imigran yang datang dari berbagai penjuru dunia.
Para pendatang dari Arab dan Gujarat, antara lain, memberi warna terhadap wajah Aceh dan Islam.
Aceh di masa lalu persis seperti "melting pot", yaitu kuali besar tempat luluhnya berbagai latar-belakang etnik dan budaya.
Hasil adonan dari kuali besar ini menghasilkan kultur Aceh yang sangat percaya diri.
Di masa lalu, pendukung kultur Aceh ini membuka diri dan menyambut hangat semua etnik, agama dan budaya di muka bumi untuk berpartisipasi guna memperkaya budaya Aceh.
Undangan itu diterima warga dunia lain pada saat dengan senang dan nyaman.
Mereka berbondong-bondong tiba dan menetap di Aceh.
Jejak kehadiran warga dunia itu masih ada sekarang.
Kudapan berbentuk panjang yang disebut "bak" pasti berasal dari Tiongkok.
Bumbu merica, kunyit, cabe dll, dapat diduga berasa dari India.
Ketika jenis makanan panjang itu diberi bumbu dari India maka disebut "mi Aceh", bukan mi China atau mi India.
Kunci Aceh mampu membangun budaya yang hebat di masa lalu adalah karena rasa percaya diri yang tinggi.
Bagaimana sekarang? Saya kurang mendalaminya.
Tapi Kalau kini masyarakat Aceh tidak memiliki rasa percaya diri dan kuat rasa curiganya kepada nilai-nilai baru, maka itu artinya orang Aceh bukan lagi pendukung Islam Kosmopolit.
Dan, karena secara faktual kita memang dipandang sebagai pendukung institusionalism dan formalisme Islam, pasti hal itu membuat Prof Azra pergi dengan sedih. (teukutaufiqulhadi3@ gmail.com)
Baca juga: Azyumardi Azra Minta Yaqut Hati-hati Beri Pernyataan, Menteri Agama: Cuma Sebatas Semangati Santri
Baca juga: Syariat Islam Kenapa Digugat
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/teuku-taufiqulhadi-ketua-nasdem-aceh.jpg)