Breaking News:

Berita Bener Meriah

Hakim Periksa Dua Saksi Ahli Dalam Sidang Lanjutan Kasus Kulit Harimau

Pengadilan Negeri (PN) Bener Meriah, Senin (26/9/2022), menggelar sidang lanjutan kasus perdagangan kulit harimau, dengan agenda pemeriksaan saksi

Editor: bakri
IST
Terdakwa Iskandar menjalani sidang kasus dugaan perdagangan kulit harimau, di PN Bener Meriah, Senin (26/9/2022). 

BENER MERIAH - Pengadilan Negeri (PN) Bener Meriah, Senin (26/9/2022), menggelar sidang lanjutan kasus perdagangan kulit harimau, dengan agenda pemeriksaan saksi.

Sidang tersebut menghadirikan terdakwa Iskandar (43), satu dari tiga terdakwa dalam kasus perdagangan kulit harimau yang diusut KLHK tersebut.

Hakim memeriksa dua saksi ahli yang dihadirkan.

Dua saksi ahli tersebut, yaitu Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, Dr Dahlan Ali SH MHum yang dihadirkan oleh Penasihat Hukum (PH) terdakwa.

Sedangkan saksi ahli dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) adalah drh Taing Lubis MM.

Sidang dipimpin Ketua Majelis Hakim Ahmad Nur Hidayat SH MH didampingi dua hakim anggota, Fadilah Usman SH MH dan Riki Fadilah SH, serta turut hadir JPU dari Kejari Bener Meriah dan PH terdakwa.

Dalam sidang tersebut, Dosen Fakultas Hukum USK, Dr Dahlan mengatakan, dakwaan yang disangkakan kepada Iskandar belum memenuhi unsur pidana.

Menurutnya, melihat kasus tersebut harus dikaitkan unsur pasal dengan perbuatan terdakwa.

“Jika unsur-unsur itu belum dipenuhi, seharusnya dakwaan itu dibebaskan,” katanya.

Baca juga: PPNS-KLHK Serahkan Tersangka ke Kejati Kasus Kulit Harimau

Baca juga: Ahmadi Jadi Tersangka, Praperadilan Kasus Kulit Harimau Ditolak

Melihat perbuatan terdakwa terkait perniagaan yang dimaksud, kata Dahlan, bahwa Iskandar ditelepon seseorang untuk memintanya mencari barang tersebut.

“Artinya, di sini saya tidak melihat adanya unsur perniagaan, niat itu dimulai dari yang menelepon,” katanya.

Jika dapat barangnya, maka diserahkan kepada yang menelepon.

Namun, kata Dahlan, hingga saat ini yang menelepon itu tidak tersentuh sama sekali.

Sehingga, jika hari ini hanya ada satu orang terdakwa, maka secara unsur pasal tersebut belum terpenuhi.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved