Mihrab
Politik ala Rasulullah
Banyak sejarah yang diabadikan dalam sirah nabawiyah tentang kesuksesan Rasulullah SAW dalam siyasah/politik menggapai keberhasilan dakwah.
Penulis: Sara Masroni | Editor: Taufik Hidayat
SERAMBINEWS.COM - Banyak sejarah yang diabadikan dalam sirah nabawiyah tentang kesuksesan Rasulullah SAW dalam siyasah/politik menggapai keberhasilan dakwah.
Dua fakta penting yang familiar dalam memori umat yaitu hijrah dan proses pemindahan batu Hajarul Aswad.
Hal itu disampaikan Komisioner KIP Aceh sekaligus Anggota Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh, Tgk Akmal Abzal kepada Serambinews.com, Kamis (20/10/2022).
Pertama, perjalanan hijrah Rasulullah bersama sahabat dari Mekkah ke Madinah menjadi momentum awal sejarah baru bagi keberhasilan dakwah sucinya.
Misi politik perdana dijalankan Nabi Muhammad SAW di Madinah dengan merekatkan emosional antara kaum Muhajirin sebagai pendatang dari Mekkah dengan kaum Anshar sebagai tuan rumah di Madinah.
Ikatan keyakinan dan emosional ini terdoktrin dalam kalimat tauhid sekaligus dijadikan perekat yang tidak boleh dibedakan antara kedua kaum.
“Semangat kebersamaan dipadu menjadi kekuatan yang menumbuhkan kasih sayang dan saling menghargai,” kata Tgk Akmal Abzal.
Untuk diketahui, menyatukan dua kaum yang memiliki latar belakang yang amat berbeda, pertalian darah yang tak sama bahkan karakter dan kehidupan sosialnya juga selalu berwarna bukanlah perkara mudah.
Namun Rasulullah SAW mampu menyakinkan dua komunitas besar itu dalam kedudukan yang sama, setara dan saling membutuhkan sehingga eksistensi Muhammad SAW sebagai Rasul benar-benar menjadi magnet yang sangat mempengaruhi dinamika kehidupan setempat.
Potret inilah yang nyaris telah terkikis pada pemimpin negeri ini pasca terpilih sebagai pemenang dalam setiap event pemilu dan pemilihan.
Justru polarisasi terbangun demikian tajam, sikap ke-akuan dan primordial orientik kian dipertontonkan bahkan menggunakan slogan "Menyoe kon ie, leuhop. Menyoe kon awak droe maka awak gop'.
“Narasi liar yang tidak bisa dianggap sebagai slogan belaka malah dewasa ini hampir menjadi hal yang sulit dihindari,” katanya.
Baca juga: Ini Daftar Khatib dan Imam Shalat Jumat di Aceh Besar, 21 Oktober 2022
Bagaimana mungkin dukungan publik bisa all out untuk kepemimpinan seseorang jika negeri ini dibangun oleh personal bermindset ashabiyah atau primordial kedaerahan, partai, kelompok atau golongan?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Pimpinan-LPI-Al-Anshar-Lambaro-Tgk-Akmal-Abzal.jpg)