Berita Pidie
GPS Collar Copot, Mobilitas Gajah Liar Tak Lagi Terlacak, 69 Gampong di Pidie Jadi Langganan Amukan
Ironisnya, pergerakan gajah liar tersebut tak lagi bisa terdeteksi karena GPS Collar yang dipasang sudah copot.
Penulis: Muhammad Nazar | Editor: Saifullah
Laporan Muhammad Nazar I Pidie
SERAMBINEWS.COM, SIGLI - Puluhan gampong dalam 12 kecamatan di Pidie menjadi langganan amukan gajah liar setiap tahunnya.
Kawanan gajah liar itu mengganggu gampong dengan berpindah-pindah tempat saat dilakukan penggiringan.
Gangguan satwa dilindungi itu telah terjadi sejak tahun 2015.
Ironisnya, pergerakan gajah liar tersebut tak lagi bisa terdeteksi karena GPS Collar yang dipasang sudah copot.
"12 kecamatan yang selama ini menjadi sasaran amukan kawanan gajah adalah Geumpang, Mane, Tangse, Titeu, Keumala, Sakti, Mila, Padang Tiji, Tiro/Truseb, Glumpang Tiga, Delima, dan Muara Tiga (Laweung)," kata Leader Tim CRU Mila, Kausar kepada Serambinews.com, Kamis (3/11/2022).
Ia menjelaskan, dari 12 kecamatan itu, tercatat adanya 69 gampong yang menjadi langganan serangan kawanan gajah.
Baca juga: Sawah dan Kebun Warga Abah Lueng Pidie Jaya Dirusak Kawanan Gajah Liar
Satwa besar itu telah mengusik warga mulai tahun 2015, yang bergerak dari habitatnya Simeuluek Aceh Besar menuju Kabupaten Pidie.
Menurutnya, pertama konflik kawanan gajah dengan manusia terjadi pada tahun 2016, di Kecamatan Keumala.
"Setelah konflik pertama itu, gangguan gajah terus terjadi yang kini merenggut nyawa M Affan, warga Gampong Pako, Kecamatan Keumala,” beber dia.
Saat ini, gangguan gajah belum reda dan terus meningkat," jelasnya.
Ia menyebutkan, saat ini penanganan gajah hanya dilakukan dengan pengusiran sehingga hanya menyelesaikan masalah pada satu tempat.
Sementara akan muncul masalah pada tempat lain.
Baca juga: Puluhan Gajah Liar Sudah 15 Hari Duduki Perkebunan Warga di Pidie, Obrak Abrik Padi Siap Panen
"Saya rasa untuk menyelesaikan konflik gajah, tentunya kawanan gajah itu harus ditampung pada tempat penampungan gajah di Seumileuk, Aceh Besar," ulasnya.
Ia menambahkan, saat ini GPS Collar sebagai alat untuk membantu menangani konflik gajah, masa pemakaian alat pendeteksian gajah itu telah berakhir.
GPS Collar itu hanya bekerja dua tahun, sehingga pergerakan kelompok gajah di Mila tidak terdeksi lagi dengan alat tersebut.
"Sejak Maret, GPS Collar itu tidak aktif lagi dan lepas sehingga ada warga yang menemukan di Geuni, Tangse dan telah diserahkan ke BKSDA Aceh," pungkasnya.(*)