Senin, 4 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Kegalauan Menunggu Banjir Seumadam Surut

ACEH Tamiang sedang dilanda banjir sehingga hubungan darat Aceh-Sumut putus total selama tiga hari

Tayang:
Editor: bakri
hand over dokumen pribadi
Prof. Dr. APRIDAR, S.E., M.Si, Guru Besar Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan Universitas Syiah Kuala (USK) dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh, melaporkan dari Seumadam, Aceh Tamiang 

OLEH Prof. Dr. APRIDAR, S.E., M.Si, Guru Besar Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan Universitas Syiah Kuala (USK) dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh, melaporkan dari Seumadam, Aceh Tamiang

ACEH Tamiang sedang dilanda banjir sehingga hubungan darat Aceh-Sumut putus total selama tiga hari.

Saya termasuk pelintas yang terjebak dalam banjir besar ini.

Posisi saya saat terjebak banjir di Seumadam, salah satu gampong yang berada di Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh.

Kabupaten ini merupakan hasil pemekaran dari kabupaten induknya, Aceh Timur, terletak di perbatasan Aceh-Sumatra Utara (Sumut) di jalur timur Sumatra.

Daerah lintasan ini sangat strategis dan hanya berjarak sekitar 250 km dari Kota Medan sehingga akses serta harga barang di kawasan ini relatif lebih murah daripada di daerah lainnya di Aceh.

Di samping itu, kawasan ini relatif lebih aman dari konflik pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sejak 1976- 2005.

Ketika seruan mogok oleh GAM diberlakukan di seluruh Aceh, hanya kawasan ini, khususnya Kota Kuala Simpang, yang aktivitas ekonominya relatif tetap berdenyut.

Dengan terwujudnya nota kesepahaman damai antara Pemerintah RI dan GAM di Helsinki 16 Agustus 2005, menjadikan Aceh damai dan sejahtera.

Masyarakat merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya setelah konflik reda, utamanya bebas bergerak ke mana pun secara leluasa sehingga dapat mencari nafkah ke berbagai daerah, bahkan hingga ke hutan belantara.

Baca juga: Kendaraan ‘Mengular’ Sampai Langkat, Medan-Banda Aceh Masih Lumpuh, Jenazah Sempat Tertahan 7 Jam

Baca juga: Polres Aceh Tamiang Bagikan Makanan untuk Pengendara yang Terjebak Banjir

Kebiasaan masyarakat pencari rotan, para pemburu rusa liar, maupun pengelolaan berbagai hasil hutan dapat dilakukan dengan aman.

Keadaan yang menyenangkan tersebut juga membuat para perusak lingkungan seperti pembalak hutan juga dengan leluasa dapat menjalankan kebiasaan buruknya.

Akibatnya, hampir sebagian besar daerah Aceh diselimuti banjir saat hujan rahmat Allah turunkan.

Kontradiksi dengan rahmat hujan yang diturunkan dari atas tersebut, para pengelola negara dinilai masih sangat lemah serta belum memberikan manfaat lebih terhadap kesejahteraan masyarakat pada umumnya.

Secara umum masyarakat berharap banyak agar kebodohan dalam merawat lingkungan tidak dipelihara secara permanen.

Kekecewaan masyarakat di Aceh yang ingin menyeberang ke luar provinsi, serta mereka yang ingin masuk ke Aceh di seputaran Gampong Seumadam terlihat dengan nyata.

Sebagian besar mereka yang berada dalam kendaraan yang dikelilingi oleh air yang tumpah ruah di jalan di hampir sepuluh titik jalan yang banjir mulai memengeluarkan unek-unek serta ketidakpuasan terhadap kepedulian pemerintah yang dirasakan sangat minim.

Begitu banyak masyarakat yang terlunta-lunta dalam tiga hari ini.

Di lapangan hampir tidak ada aparatur pemerintah yang mengatur serta memberikan pelayanan agar mereka bisa melalui area banjir yang merintangi tersebut.

Apabila ada pengaturan, semisal kendaraan kecil tidak diizinkan melintas, sehingga tidak menutupi jalan yang telah diisi oleh ratusan kendaraan baik sisi kiri maupun di sisi kanan.

Apabila ada pengaturan yang baik, misalnya kendaraan besar dipandu hingga bisa berkurang penumpukan kendaraan di titik-titik tertentu.

Setelah air mulai surut, baru dibolehkan kendaraan sedang dan kecil melintas berikutnya.

Baca juga: Polres Aceh Tamiang Bagikan Makanan untuk Pengendara yang Terjebak Banjir

Pengaturan cerdas itu semestinya dapat dilakukan oleh aparatur yang berwenang sehingga masyarakat dapat mengikuti dengan tertib dan baik.

Hal ini tentu akan dapat mengurai kemacetan sehingga kelancaran perjalanan dapat terjadi secara bertahap.

Sebagian pengguna jalan yang sudah membeli tiket penerbangan untuk terbang melalui Bandara Kualanamu (KNO) terlihat sangat cemas.

Mereka memastikan tak sampai ke bandara dan tentu tiketnya akan hangus dengan sendirinya.

Yang lebih susah lagi terlihat para sopir yang membawa ikan segar.

Es batu yang dimasukkan dalam fiber ikan efektif bertahan di bawah 12 jam.

Namun, apabila telah melebihi waktu tersebut yang dihitung saat pengisian dari kapal tangkap, kemungkinan besar ikan tersebut akan membusuk tentu tak akan mau dibeli oleh penampung besar yang berada di Medan.

Perkara banjir ini membuat para nelayan rugi ratusan juta rupiah.

Kerugian para pengusaha ikan tersebut sering membuat pengusaha di bidang perikanan ini gulung tikar.

Di mana keuntungan yang diharap beberapa juta, kenyataannya mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah.

Dengan kerugian yang menimpanya tentu modal usaha yang dimiliki hilang bagaikan melelehnya es akibat terperangkap di jalan selama 18 hingga 24 jam.

Fenomena memilukan tersebut seharusnya tidak terjadi apabila koordinasi para petugas serta kesadaran masyarakat dalam menghadapi masa tunggu air Seumadam surut dan dapat dilakukan dengan baik dan efektif.

Dengan adanya kesabaran serta tertib para pengguna jalan dengan dipandu para petugas, tentu akan menjadikan perjalanan lebih lancar.

Baca juga: Brimob Polda Aceh Bantu Sembako kepada Korban Banjir Aceh Tamiang, Brimob Aramiah Siaga di Lokasi

Pokok persoalan utama sebenarnya terjadi akibat dari perusakan lingkungan yang amat luar biasa.

Tidak hanya kebersihan lingkungan dengan membuang sampah sembarangan sebagai pelanggaran yang membuat banyak saluran tersumbat, tetapi yang lebih parah terjadi adalah pembalakan hutan yang dilakukan dengan semena-mena.

Luasnya area hutan membuat aparat yang sangat terbatas jumlahnya kewalahan dalam menjaga perusakan terhadap hutan.

Para pegiat lingkungan sangat mengharapkan penanganan lingkungan ini perlu gerakan bersama.

Peran cendikia dan ulama dalam menyosialisasikan pentingnya menjaga kebersihan serta memelihara lingkungan hidup menjadi tanggung jawab bersama merupakan suatu keharusan.

Berbagai ruang publik seperti mimbar-mimbar di masjid, podium-podium pada lembaga pendidikan harus diisi dengan pencerahan terhadap pentingnya melestarikan anugerah alam yang dititipkan kepada kita.

Mengabaikan pemelihara berbagai anugerah yang luar biasa manfaatnya bagi makhluk, merupakan salah satu pembangkangan terhadap sunatullah oleh makhluk yang berakal.

Dengan menggunakan akal sehat, tentu manusia akan menggapai kebajikan dalam menelusuri jalan lurus memperoleh kesuksesan dunia akhirat.

Musibah yang diterima manusia bukan ketentuan atau takdir.

Namun, merupakan akibat dari ulah manusia itu sendiri.

Untuk itu, saatnya kita semua perlu memberikan pencerahan agar kita tidak masuk dalam lubang kesalahan yang selalu kita lakukan di dunia ini.

Keledai saja hampir tidak pernah masuk ke lubang yang sama saat berjalan.

Musibah banjir yang selalu dirasakan masyarakat yang mendiami dataran rendah khususnya, perlu adanya jalan keluar agar tidak menjadi pelanggan terhadap banjir yang mengharuskan mereka berjibaku dengan air yang memang selalu melewati tempat yang lebih rendah secara sunatullah.

Banyak sudah musibah yang diterima masyarakat Aceh khusuanya, harus dijadikan pembelajaran yang berharga.

Penggunaan akal yang disematkan pada manusia, seharusnya digunakan secara efektif sebagai implementasi ibadah untuk kemaslahatan bersama.

Menerapkan kebajikan dalam mengantisipasi berbagai musibah di dunia ini, merupakan salah satu jalan menuju akhirat yang lebih baik dan bermartabat.

Pembinaan masyarakat sejak dini merupakan salah satu upaya yang dilakukan Rasulullah yang mesti kita lanjutkan dalam rangka menggapai kesejahteraan dunia akhirat.

Kegalauan para pengguna jalan dalam menunggu banjir Semadam surut seharusnya diisi dengan berbagai petuah kesabaran.

Semoga musibah yang telah menelan banyak kerugian ini mampu dijadikan sebagai pembelajaran untuk menggapai masa depan Aceh yang lebih gemilang.

Menyatukan kebersamaan pandang dalam menyelesaikan berbagai musibah yang datang lebih utama dibandingkan mencari kambing hitam untuk dipersalahkan. (apridar@unimal.ac.id)

Baca juga: Aksi Kapolsek Tamiang Hulu Bantu Evakuasi Pasien Gawat Darurat dari Banjir

Baca juga: Banjir Ancam Penurunan Produksi dan Kenaikan Harga Beras

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved