Breaking News:

Kupi Beungoh

Refleksi Perjuangan Habib Abdurrahman Teupin Wan dalam Nilai-nilai Patriotisme

Berdasarkan catatan Lembaga Asyraf Aceh (Lembaga Sejarah & Nasab Keluarga Sayid Aceh), Habib Abdurrahman Teupin Wan, Aceh Besar. Sebuah kawasan yang t

Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
Sara Rahma Dela, Peneliti di Yayasan Asyraf Aceh. 

Oleh: Sara Rahma Dela*)

MEMBAHAS kata perjuangan, mengingatkan kita pada para sosok pejuang pembela tanah air Indonesia. Indonesia adalah negara dengan keberagaman suku dan budaya yang terbentang dari Sabang sampai Meurauke. Namun keberagaman tersebut harus dijaga dengan baik agar tidak terjadi perpecahan antar bangsa, dan untuk menjaganya dibutuhkan upaya yang besar. Oleh sebab itu diperlukan sifat patriotisme dalam diri sebagai pemersatu bangsa. Setiap orang wajib memiliki rasa cinta tanah air dalam memelihara negaranya. Nilai-nilai pada sifat patriotisme diantaranya kesetiaan, keberanian, rela berkorban dan kecintaan pada bangsa dan negara. Salah satu faktor pendorong semangat patriotisme adalah melihat kilas balik kisah para pejuang melawan penjajah kolonial untuk kemerdekaan Indonesia.

Dalam rangka memperingati hari pahlawan, penulis akan melakukan kilas balik perjuangan Habib Abdurrahman Teupin Wan sebagai seorang tokoh pahlawan yang berjuang membela tanah air dan mempertahankan kedaulatan bangsa dan negaranya dari penindasan para penjajah. Nilai-nilai perjuangan Habib Teupin Wan dalam melawan penjajahan oleh Hindia Belanda adalah dasar terciptanya Integrasi nasional. Jika di masa lalu rasa senasib seperjuangan digunakan untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia, di era sekarang ini rasa senasib seperjuangan digunakan untuk memperkuat stabilitas nasional demi terwujudnya persatuan Indonesia.

Hari Pahlawan, Pj Wali Kota Sabang Ajak Masyarakat Kobarkan Semangat Perangi Kebodohan & Kemiskinan

Berdasarkan catatan Lembaga Asyraf Aceh (Lembaga Sejarah & Nasab Keluarga Sayid Aceh), Habib Abdurrahman Teupin Wan, Aceh Besar. Sebuah kawasan yang terletak ditepi (dalam bahasa Aceh disebut Teupin) sungai Krueng Aceh mukim Lamreung diwilayah sagi mukim XXVI yang di diami oleh keluarga dari keturunan mulia atau dihormati oleh masyarakat Aceh yakni keluarga Habaib. Beliau adalah salah satu keturunan cucu Rasulullah SAW yang menjadi tokoh ulama pejuang Aceh yang berjuang sejak awal perang Hindia Belanda berkecamuk di Aceh pada tahun 1873 M.

Beliau dikenal sebagai ulama pejuang yang tidak kenal kompromi dengan kolonial Hindia Belanda dan salah satu pejuang yang paling dicari oleh Belanda pada masanya. Dalam sebuah surat dinas yang bersifat rahasia yang dikirim oleh Snouck Hourgonje ke Gubernur Jendral Hindia Belanda Carel Herman Aart Van Der Wijck (1893-1899) pada tanggal 5 september 1894, dimana isi surat tersebut memberitakan tentang Habib Abdurrahman Teupin Wan yang banyak menyusahkan Hindia Belanda dan menebarkan semangat jihad di Aceh Besar. Snouck Hourgonje menasehati sang jendral agar segera mengambil langkah tegas untuk menghentikan usaha-usaha yang dilakukan habib tersebut.

Kilas Balik Perjuangan Habib Abdurrahman Teupin Wan Melawan Penjajahan Belanda Selama 38 Tahun

Masyarakat Aceh menganggap ulama Teupin Wan tersebut sebagai sosok Tengku Chik Tiro yang kedua. Selepas syahidnya Syeikh Muhammad Saman bin Ubaidillah atau masyhur dikenal dengan laqab Tengku Chik di Tiro pada tahun 1891 M, sosok Habib Abdurrahman Teupin Wan adalah tokoh yang mampu membangkitkan semangat rakyat Aceh untuk terus berjuang melawan kolonial yang ingin merampas kedaulatan Aceh. Tidak mengherankan apabila dalam buku Jendral Swart (Pacivicator Van Atjeh) menggambarkan ketokohan Habib Abdurrahman Teupin Wan dengan tiga karakter yakni Nestor der Geestelijke (Ulama), Verzetsleider (Leader/Pemimpin perlawanan) dan Heilig (Keramat).

Semangat Habib Abdurrahman Teupin Wan dalam mencintai tanah air dan menegakkan kedaulatan bangsanya adalah sebuah nilai dalam mewujudkan kesatuan bangsa. Dimana dengan mencintai tanah air, maka menjaga kesatuan bangsa dapat terwujud dengan prinsip mendahului kepentingan bangsa dari pada kepentingan pribadi. Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Habib Abdurrahman Teupin Wan yang lebih mendahulukan kepentingan bangsanya dari pada kepentingan pribadi dengan terus berjuang melawan kolonial. Kisah Patriot dan kontribusinya dalam melawan penjajah di Aceh Besar memberikan karisma dan daya tarik tersendiri sebagai seorang pahlawan berjasa namun terlupakan.

Di sisi lain banyak para pemimpin Aceh telah tunduk dengan Hindia Belanda melalui perjanjian Lang Verklaring atau Korte Verklaring dan intensifnya pembentukan lini konsentrasi serta banyaknya pos-pos militer Hindia Belanda di Aceh Besar, maka Habib Abdurrahman Teupin Wan dan para pejuang lainnya terpaksa berhijrah dari kampung halamannya menuju ke Pidie. Beliau berhijrah ke Pidie bersama Sultan Muhammad Daud Shah (1874-1903) tepatnya ke wilayah Keumala. Pada tahun 1903 M, Sultan bertaslim kepada Hindia Belanda dikarenakan anggota keluarganya ditahan oleh mereka.

Berhijrahnya Habib Abdurrahman Teupin Wan dari Aceh Besar ke Pidie adalah bagian dari pada sebuah strategi dalam perang geurilya dan beliau juga mendapatkan dukungan besar dari masyarakat dan ulama-ulama di Pidie khususnya dari pada ulama Tiro. Kondisi Aceh Besar sudah tidak memungkinkan sebagai medan geuriliya, sehingga Habib dan pengikutnya lebih memilih berhijrah ke Pidie untuk terus berjuang dan menebarkan semangat jihad fi sabilillah kepada masyarakat Aceh.

Dengan semakin banyaknya dukungan masyarakat untuk Habib Abdurrahman Teupin wan, membuat pihak kolonial Hindia Belanda mempercepat pencarian terhadap keturunan cucu Rasulullah SAW tersebut. Berdasarkan surat kabar Soerabaia Handelblad tahun 1904 melaporkan perihal keresahan Hindia Belanda tentang pergerakan kaum muslimin yang dipimpin oleh Habib Abdurrahman Teupin Wan, Syeikh Muhammad Thahir Tiro (Tengku Cot Plieng) dan Tengku Cot Cicem yang terus-menerus melakukan penyerangan terhadap pos-pos kolonial Hindia Belanda di Pidie.

Pada tahun 1905 M, Habib Abdurrahman Teupin Wan harus kehilangan teman seperjuangannya yakni Syeikh Muhammad Thahir Tiro yang syahid pada tanggal 2 Juli 1905 M/28 Rabiul Akhir 1323 H di Tiro. Syeikh yang dikenal dengan laqab Tengku Cot Plieng tersebut adalah murid dari pada Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi (w.1281 H/1865 M) di Mekkah. Dimana salah satu karya beliau adalah Majmu’ah Masa’il fi al-Fiqh al-Syafi’I. Beliau adalah salah satu tokoh yang paling dicari oleh Hindia Belanda.

Habib Abdurrahman Teupin Wan tidak hanya berjihad dengan harta dan jiwanya. Tapi bersama keluarga dan anaknya yang syahid lebih awal. Sejarah dan peranan anaknya belum banyak dijumpai, kecuali sebuah catatan dari Zentgraff, penulis buku Atjeh yang menyebutkan tentang peristiwa syahidnya Habib Muhammad bin Abdurrahman Teupin Wan bersama pejuang Tiro lainnya dalam pertempuran di Gunong Meureuseu, Tangse Pada tanggal 21 Mei 1910. Dalam Islam juga banyak menyebutkan sejarah ayah dan putranya sama-sama berjuang dalam mensyiarkan Islam sehingga syahid diantaranya adalah kisah Khaitsamah bin Al-Harist dan putranya dalam perang Badar sebagaimana dijelaskan oleh Imam Abu Laits As-Samarqandi (w.373 H) dalam kitabnya Tanbihul Ghafilin.

Ketika Hindia Belanda kesulitan menangkap Habib, maka mereka menggunakan para penguasa yang telah bertaslim dan mempunyai pengaruh yang besar untuk membujuk Habib Abdurrahman Teupin Wan beserta pengikutnya. Seperti seruan bertaslim dari keluarga Kesultanan dan Panglima Polem dari mukim XXII. Alih-alih terbujuk, Habib Teupin Wan dan Ulama Tiro malah semakin kuat berjihad untuk mengalahkan musuh. Sampai sebuah surat dikirimkan pada tanggal 27 Rajab 1327 H/ 14 Agustus 1909 M atas nama Tuanku Mahmud Banta Keucik, Tuanku Raja Keumala dan Panglima Polem. Salah satu alasan dari pada Ijtihad Tuanku Raja Keumala untuk bertaslim adalah Hindia Belanda tidak mengganggu urusan agama umat Islam, sebagaimana yang tersebut “Maka adapun seperti kita-kita semuanya berperang dahulu dengan kompeni Belanda, maka jikalau sudah habis ikhtiar tiada kuasa lagi melawan dia patutlah kita taslim kepadanya oleh karena dianya tiada mengubah dan melarang kita punya agama melainkan kita juga masing-masing yang mengubahnya”.

Perjuangan yang ditunjukkan Habib Abdurrahman Teupin Wan yang setia dan pantang menyerah atas jajahan kolonial merupakan bagian dari nilai-nilai Patriotisme untuk mewujudkan kemerdekaan bangsanya. Untuk memiliki sikap patriotisme tidak harus berkorban dalam perang seperti pejuang terdahulu, namun dapat diwujudkan dengan sikap saling membantu sesama dan menjalin kerukunan dilingkungan sekitar.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved