Internasional
Pemilu Malaysia Mandek, Polisi Waspada Konflik Etnis
Barisan Nasional dinilai Raja menjadi koalisi partai yang sampai saat ini menguasai mayoritas suara di Dewan Rakyat
Namun, baik koalisi Anwar dan Muhyiddin sampai saat ini tidak ada yang bisa mendapatkan dukungan sesuai ambang batas yang ditentukan.
Polisi Malaysia memperingatkan warga agar tidak mengunggah konten provokatif terkait ras dan agama setelah pemilihan umum Negeri Jiran berujung mentok dan panas.
"Tindakan tegas akan diambil terhadap pengguna yang mencoba menghasut situasi yang dapat mengancam keamanan dan ketertiban umum," kata Inspektur Jenderal Polisi, Acryl Sani Abdullah Sani, seperti dikutip Reuters.
Polisi sendiri mengklaim telah mendeteksi konten media sosial yang sarat rasial dan agama serta menghina monarki negara itu usai pemilu berlangsung.
Dua kubu terkuat dalam pemilu saling mengklaim menang, tapi sebenarnya, belum ada yang berhasil mencapai ambang batas minimal parlemen.
Di tengah ketidakpastian ini, muncul narasi-narasi terkait ras yang mendominasi obrolan politik di media sosial.
Berdasarkan penelusuran proyek pemantauan ujaran kebencian daring yang dijalankan oleh Pusat Jurnalisme Independen, narasi-narasi ini sebenarnya sudah mulai muncul sejak sebelum pemilu.
Narasi-narasi ini kian panas setelah Partai Islam Se-Malaysia (PAS) yang kerap menggembar-gemborkan hukum syariah, unggul dalam pemilu.
Keunggulan PAS membuat kalangan investor khawatir akan potensi dampak hukum syariah tersebut terhadap kebijakan.
Ras dan agama merupakan masalah pelik di Malaysia, sebagai negara multikultural dengan mayoritas etnis Melayu Muslim yang hidup berdampingan bersama minoritas Tionghoa dan etnis India. (CNN Indonesia)
Baca juga: Anwar Ibrahim dan Mahathir Kembali Bersaing Dalam Pemilu Malaysia, Proses Pengitungan Suara Dimulai
Baca juga: Menanti yang Terbaik Untuk Malaysia
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Pemilu-Malaysia-2022_19-november.jpg)