Salam

Semestinya Anwar Mengubur Dendam

Sultan Abdullah memilih dan melantik Anwar Ibrahim sebagai perdana menteri baru

Editor: bakri
AFP
Perdana Menteri terpilih Malaysia Anwar Ibrahim meninggalkan Istana Negara setelah bertemu Yang di-Pertuan Agong Sultan Abdullah, Selasa sore (22/11/2022) 

RAJA Malaysia, Yang di-Pertuan Agong Al-Sultan Abdullah Ri'ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah atau Sultan Abdullah, memilih dan melantik Anwar Ibrahim sebagai perdana menteri baru.

Konstitusi Malaysia memang memberi Raja kekuatan untuk menunjuk seorang perdana menteri yang dia yakini dapat memimpin mayoritas di antara anggota parlemen.

Raja yang naik tahta pada 2019 itu turun tangan ketika politik Malaysia memanas dan pemilu yang berlangsung pada Sabtu pekan lalu tidak menghasilkan partai dengan suara mayoritas di parlemen.

Ia kemudian mengadakan pertemuan dengan sembilan sultan yang ada di negara itu lalu menunjuk Anwar Ibrahim sebagai perdana menteri.

Ini adalah yang ketiga kalinya Raja memilih perdana menteri hanya dalam waktu dua tahun, sekaligus yang pertama kalinya Raja turun langsung setelah pemilihan.

Biasanya, perdana menteri dipilih berdasarkan pemilhan umum atau pemilu.

Namun, untuk kasus tertentu, Raja memiliki kekuasaan untuk memilih perdana menteri jika melihat ada potensi besar dari seseorang untuk memimpin parlemen, atau jika terjadi situasi seperti baru-baru ini, di mana belum ada suara mayoritas atau ada dua calon yang masih deadlock.

Alasan lain mengapa Raja memilih Anwar, karena kiprah Anwar di dunia politik Malaysia memiliki pengaruh yang besar.

Di tangannya, perekonomian Malaysia sempat melejit hingga Newsweek pernah menobatkan Anwar sebagai "Asian of the Year.

" Keputusan Raja itu tentu menggembirakan bagi Anwar Ibrahim yang selama dua dekade berjuang untuk meraih posisi dimaksud.

Baca juga: Muhyiddin Yassin Akhirnya Akui Kalah Pemilu Malaysia dan Ucapkan Selamat ke Anwar Ibrahim

Baca juga: Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim Tegaskan Tak Ambil Gaji, Juga Ingin Gaji Menteri Dikurangi

Tapi Muhyiddin Yassin tidak bisa menerima begitu saja penunjukan Anwar Ibrahim menjadi PM karena saingan Anwar ini merasa dirinya juga memiliki cukup dukungan untuk menjadi PM.

Makanya, Muhyiddin menuntut Anwar menunjukkan bukti dukungan mayoritas dari parlemen.

Muhyiddin Yassin yang memimpin koalisi Perikatan Nasional dalam pemilu 19 November berhasil meraup 73 kursi parlemen.

Sedangkan koalisi Pakatan Harapan yang dipimpin Anwar meraup 82 kursi parlemen.

Anwar Ibrahim berjanji memikul kepercayaan dengan penuh kerendahan hati dan tanggung jawab.

“Saya akan memikul tanggung jawab berat ini bersama tim berdasarkan kemauan dan hati nurani rakyat,” kata Anwar setelah diambil sumpahnya sebagai PM ke-10 Malaysia.

Anwar menanti 24 tahun untuk memikul tanggungjawab tersebut.

Selama itu, dia bukan hanya teraniaya secara politis –termasuk oleh Mahathir Mohammad---, tapi juga tersiksa dan terhina secara fisik.

Dia dua kali harus mendekam di penjara karena tuduhan kasus sodomi yang tak pernah diakuinya.

Justru itulah, bagi dia dan keluarganya, pengangkatan sebagai PM ini sekaligus menjadi momentum bagi manghapus jejak hina itu.

Dan, yang lebih penting amanah ini juga dapat memberi kekuatan kepadanya untuk mengubur dendam.

Pengangkatan Anwar sebagai PM baru Malaysia juga memiliki sisi positif bagi Indonesia, termasuk Aceh, karena Anwar punya kedekatan dengan sejumlah orang atau tokoh di Indonesia.

Ketika ia dalam posisi teraniaya secara politis di Malayisa, banyak temannya di Indonesia memberi panggung bagi Anwar untuk curhat dan membela diri.

Semoga kedekatan ini menguntungkan kedua pihak.

Nah?!

Baca juga: Penantian 24 Tahun Anwar Ibrahim, Ditunjuk Raja Jadi PM Malaysia

Baca juga: Anwar Ibrahim Disumpah sebagai Perdana Menteri ke-10 Malaysia, Akhir Kisah 24 Tahun Penantiannya

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved