Breaking News:

Internasional

Presiden Equatorial Guinea Menjadi Pemimpin Terlama di Dunia, Sudah Memerintah 43 Tahun

Presiden terlama di dunia telah memenangkan pemilihan ulang di Equatorial Guinea untuk terus memimpin rezim otoriternya.

Editor: M Nur Pakar
AFP
Teodoro Equatorial Guinea, Obiang Nguema Mbasogo menjadi pemimpin terlama di dunia. 

SERAMBINEWS.COM, MALABO - Presiden terlama di dunia telah memenangkan pemilihan ulang di Equatorial Guinea untuk terus memimpin rezim otoriternya.

Teodoro Obiang Nguema Mbasogo (80) memperoleh hampir 95 persen suara, kata para pejabat mengumumkan enam hari setelah pemungutan suara.

"Hasilnya membuktikan kami benar lagi," kata Wakil Presiden Teodoro Nguema Obiang Mangue, putra presiden.

"Kami akan terus melaksanakan pesta demokrasi yang hebat," tambahnya.

Beberapa kandidat oposisi mencalonkan diri, tetapi tidak ada yang diharapkan menang, seperti dilansir Insider, Minggu (27/11/2022).

Presiden Obiang memiliki cengkeraman kuat di negara Afrika tengah yang kaya minyak itu, dengan anggota keluarga dalam peran kunci pemerintah.

Baca juga: Guinea Adili Bekas Junta Tersangka Pembantaian yang Tewaskan 157 Orang

Dia merebut kekuasaan pada tahun 1979 setelah militer mengambil alih dan selamat dari beberapa upaya kudeta.

Setelah mendapatkan jabatan dari pendahulunya dan pamannya, Francisco Macias Nguema, dia melakukan beberapa reformasi tetapi mempertahankan kendali mutlak Nguema atas negara.

Oposisi politik nyaris tidak ditoleransi dan sangat terhambat oleh kurangnya kebebasan pers, karena semua media penyiaran dimiliki langsung oleh pemerintah atau dikendalikan oleh sekutunya.

Presiden Obiang, yang sebelumnya membantah tuduhan pelanggaran hak asasi manusia dan kecurangan pemilu, berniat menggunakan masa jabatan keenamnya untuk membersihkan reputasi internasionalnya.

Pada September 2022 , pemerintah menghapuskan hukuman mati, sebuah langkah yang dipuji oleh PBB.

Guinea Khatulistiwa memiliki sejarah tentang apa yang oleh para kritikus disebut sebagai hasil pemilu yang curang.

Baca juga: Pelaut India Ditahan di Guinea Makin Putus Asa, Desak Pemerintah Segera Membebaskan Mereka

Pada tahun 1968, Guinea Spanyol memperoleh kemerdekaan dan menjadi Republik Guinea Khatulistiwa dengan Francisco Macias Nguema sebagai presiden.

Kelompok hak asasi manusia menyebut dua presiden negara itu. Francisco Macias Nguema dan Teodoro Obiang Nguema sebagai pelanggar hak asasi terburuk di Afrika.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved