Internasional

Arab Saudi Keluarkan Izin 725 Proyek Industri Dalam Negeri, Targetkan Jadi Produsen Logam Dunia

Kerajaan Arab Saudi telah mengeluarkan izin untuk 725 proyek industri senilai SR1,37 triliun atau $265 miliar, sekitar Rp 4.978 triliun dalam sembilan

Editor: M Nur Pakar
Foto: Saudi Press Agency
Khalid Al-Mudaifer, Wakil Menteri Urusan Pertambangan, Kementerian Perindustrian dan Sumber Daya Mineral Arab Saudi 

SERAMBINEWS.COM, RIYADH - Kerajaan Arab Saudi telah mengeluarkan izin untuk 725 proyek industri senilai SR1,37 triliun atau $265 miliar, sekitar Rp 4.978 triliun dalam sembilan bulan pertama 2022.

Kementerian Perindustrian dan Sumber Daya Mineral mengatakan hal itu terjadi untuk mendorong sektor industri dan manufaktur dalam negeri sebagai bagian dari melakukan diversifikasi ekonomi berbasis minyak.

Pada September 2022, kementerian mengeluarkan izin untuk 79 proyek industri yang diperkirakan bernilai SR3,1 miliar dengan hingga 1.882 pekerja berlisensi.

Sementara investor nasional menyumbang 84 persen dari proyek pada September 2022, 16 persen dimiliki asing atau usaha patungan dengan negara asing.

Apalagi, sebanyak 68 pabrik mulai berproduksi pada September 2022 dengan volume investasi sebesar SR3,5 miliar.
Data Kementerian Perindustrian dan Sumber Daya Mineral mengungkapkan pembukaan pabrik-pabrik tersebut juga menghasilkan hingga 4.219 pekerjaan selama September 2022.

Baca juga: Komisi Mode Arab Saudi Bahas Keberlanjutan Usaha Dengan Para Pemimpin Industri Dunia

Pada akhir September 2022, jumlah proyek industri di Kerajaan mencapai 10.728, naik dari 10.192 yang tercatat pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada Agustus 2022, MIMR mengumumkan bahwa Kerajaan mengeluarkan izin untuk proyek industri non-minyak senilai akumulasi SR4,1 miliar.

Sekitar 115 izin dikeluarkan untuk proyek industri non-minyak atau 20 persen lebih tinggi daripada yang diberikan pada Juli 2022.

Menjelang akhir Agustus 2022, jumlah unit industri di Kerajaan mencapai 10.707 unit.

Hingga September 2022, proyek berlisensi mencakup beberapa industri kecil dan menengah, termasuk logam, bahan kimia, peralatan rumah tangga, kertas, dan lainnya.

Arab Saudi akan menjadi pemimpin dunia dalam produksi logam berkelanjutan saat Kerajaan mengeksplorasi potensi pertambangannya, kata Khalid Al-Mudaifer, Wakil Menteri Urusan Pertambangan, Kementerian Perindustrian dan Sumber Daya Mineral.

Baca juga: 173 Lulusan Politeknik Aceh Diwisuda, Direktur Dorong Lulusan Kuasai Perkembangan Industri 4.0

Lebih lanjut dia menegaskan diversifikasi ekonomi sejalan dengan tujuan yang digariskan dalam Visi 2030.

Berbicara pada konferensi Pertambangan dan Uang awal bulan ini di London, Al-Mudaifer mengatakan mineral sangat diperlukan untuk transisi energi dari hidrokarbon ke energi terbarukan.

“Dekarbonisasi, transisi net-zero tidak dapat terjadi tanpa mineral dan logam, banyak mineral dan logam," ujarna.

"Kita perlu meningkatkan penemuan, dan kita perlu meningkatkan produksi,” kata Al-Mudaifer.

Dia menambahkan rantai pasokan mineral dan logam perlu menjadi lebih tangguh untuk memenuhi permintaan yang meningkat.

Dia mencatat ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung telah mengungkap kerentanan di sektor ini, yang dapat mengakibatkan lonjakan biaya beberapa mineral sebesar 350 persen.(*)

Baca juga: Aceh Surplus Cabai Merah, Dinas Dorong Produk Terserap untuk Industri Olahan

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved