Minggu, 7 Juni 2026

Kupi Beungoh

Rocky Gerung, Kembang Tanjong, dan Abu Thalib

Banyak penggemar Rocky Gerung di Aceh tahu bahwa ia bukan pemeluk Islam. Ada yang tahu lebih jauh, dia adalah orang Manado yang beragama khatolik

Tayang:
Editor: Zaenal
Kolase Serambinews.com/Capture Youtube Rocky Gerung Official
Kolase foto Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Ahmad Humam Hamid (kanan) dan pengamat politik Rocky Gerung (kiri). 

Ada prinsip keterbukaan, ada prinsip keseteraan, ada prinsip pergaulan dan penghormatan dalam keberagaman.

Semua itu tidak berdiri sendiri, karena ada prinsip besar lain yang mengikat, -lakum dinukum waliyadin-untukmu agamamu dan untukku agamaku.

Abad ke 13, tepatnya pada tahun 1290 misalnya, Marco Polo menulis dalam catatan perjanannya -Le Devisement du Monde- yang ditulis ulang oleh Rustichello de Pisa pada tahun 1300 tentang bagaimana masyarakat Pasai menerima Polo yang katholik dengan baik dan terhormat.

Ia bersama 2000 awaknya dengan 5 kapal berlabuh dan tinggal selama lima bulan di Pasai menunggu angin monson Timur untuk melanjutkan perjalanan pulangnya ke Venisia, Italia.

Tiga hal yang diingat dan ditulis oleh Polo tentang Pasai.

Ada raja yang sangat kaya dan taat -Malik Az Zahir.

Polo dan awaknya juga menikmati ikan yang sangat enak-kemungkinan besar ikan seumilang- sembilang.

Selanjutnya, Polo juga minum “anggur Aceh” -palm wine-  yakni “ie jok masam” yang dibuat dan dikonsumsi oleh sekelompok kecil masyarakat Pasai pada masa itu.

Apa yang dilakukan oleh masyarakat Kembang Tanjong adalah refleksi warısan masa lalu, karena memang itulah karakteristik utama dari kerajaan Aceh yang berasoasiasi dengan kultur maritim dan negara kota-“city state, yang kental dengan keberagaman.

Mustahil membayangkan kerajaan Aceh masa lalu yang eksklusif dalam gemuruh perdagangan internasional.

Kedatangan dan bahkan tinggal berbulan-bulan berbagai bangsa dan agama dari Eropa, Cina, Timur Tengah, India, dan Nusantara, selama ratusan tahun tidak mungkin berlangsung, kecuali dalam suasana inklusif  dan terbuka.

Kembang Tanjong Refleksi Inklusif

Kembang Tanjong, Pidie, adalah salah satu kawasan inti di Pidie yang merupakan “produsen” cukup banyak pengusaha sukses, intelektual, dan tokoh politik.

Masyarakatnya adalah perantau tangguh yang tersebar di berbagai kota di Aceh, Medan, Jakarta, Malaysia, dan berbagai tempat lainnya di Nusantara.

Dari gambaran itu saja, sudah terbukti bahwa komunitas Kembang Tanjong, apalagi seperti komunitas yang sudah berbaur dengan “kultur urban” Jakarta, adalah refleksi inklusif dan masyarakat terbuka.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved