Kupi Beungoh
Rocky Gerung, Kembang Tanjong, dan Abu Thalib
Banyak penggemar Rocky Gerung di Aceh tahu bahwa ia bukan pemeluk Islam. Ada yang tahu lebih jauh, dia adalah orang Manado yang beragama khatolik
Ia menguraikan kesetaraan dengan memukau, dan ia juga melihat konsep keadilan sosial Islam sebagai sebuah alternatif terhadap keadaan ketimpangan ekonomi dunia saat ini yang sangat parah.
Rocky Gerung tidak membaca ayat Alquran, apalagi hadis, tetapi apapun yang diuraikan tentang dimensi horizontal ajaran Islam, semuanya berakar dari pemahamannya yang dalam tentang isi Alquran dan Sunnah Rasul.
Ia bahkan menyitir perintah baca,-iqra, sebagai perintah paling awal kepada ummat manusia untuk dapat menjalani hidup dengan sempurna.
Banyak orang tidak tahu Rocky Gerung pernah “nyantri” belajar filsafat agama Islam pada seorang akademisi, intelektual Islam mumpuni.
Ia menghabiskan waktu empat semester belajar filsafat Islam pada almarhum Profesor Harun Nasution, pada awal delapan puluhan.
Harun Nasution adalah rektor IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta pada tahun tujuhpuluhan.
Baca juga: Rocky Gerung Usulkan Ibu Kota Baru Bernama Jokowikarta, Fadli Zon Lebih Setuju Pakai Nama Jokowi
Layak Dihargai
Inovasi dakwah yang dilakukan oleh masyarakat Kembang Tanjong di Jakarta dengan mengundang pembicara non-muslim, namun tahu banyak tentang isu-isu keislaman dalam kaitannya dengan kehidupan kebangsaan hari ini, sangat layak untuk dihargai.
Disadari atau tidak masyarakat Kembang Tanjong di Jakarta telah mengakui dan memberi penghargaan kepada seorang intelektual publik terkemuka dengan cara yang unik.
Dalam pandangan ummat yang lebih luas, masyarakat Kembang Tanjong telah menunaikan sebuah “fardhu kifayah” penghargaan ummat Islam Nusantara yang merupakan fans berat Rocky Gerung yang sering dianggap membela ummat Islam.
Rocky Gerung misalnya mengecam keras terhadap berbagai serangan yang menyudutkan Islam, baik terhadap pemikiran maupun terhadap tokoh-tokoh Islam.
Dalam hal radikalisme, Rocky Gerung berdiri paling depan dalam melihat posisi pemerintah.
Ia menengarai kekuasaan sangat berlebihan dalam pemberian label radikalisme agama, dalam hal ini agama Islam, dan bahkan seolah jauh lebih berbahaya dari PKI.
Tidak berhenti di situ ia juga melihat banyak kebijakan negara yang cenderung menyudutkan ummat Islam.
Rocky Gerung sama sekali tidak takut dirinya dituduh bersimpati bahkan dekat dengan gerakan 212.
Ia melihat gerakan 212 sebagai sebuah roh yang jujur dan bukanlah soal simbol perlawanan Islam.
Gerakan 212 menurutnya, lebih kepada simbol proklamasi perlawanan ketidakadilan di negara ini.
Ia mengingatkan kekuasaan gerakan 212 adalah sebuah “teks sosial” yang harus dibaca Jokowi agar ia tidak menjadi corong islamophobia global dan kedunguan lokal yang tak terperikan.
Tentang penangkapan dan hukuman terhadap Habib Rizieq Shihab-HRS, kasus hasil swab RS Ummi, dengan delik keonaran, Rocky bersuara sangat keras, dan bahkan melebihi suara tokoh-tokoh Islam sekalipun.
Ia menuduh awal kasus HRS tidak lain karena ia menolak uang dan jabatan.
Akibatnya HRS dijadikan target.
Tak kurang menurut Rocky Gerung, ada kaitan tuduhan dan vonis terhadap HRS dengan kutipan ucapannya “algoritma dari bahasa pemerintah atau Presiden Jokowi mengaktifkan aparat mengurusi Habib Rizieq”.
Dengan tegas Rocky Gerung mengatakan bahwa tuduhan dan vonis terhadap HRS adalah penegasan bahwa ia adalah target politik istana.
Inilah yang membuat penegakan hukum tidak lagi berada di ruang publik, tetapi hanya ada di ruang peradilan.
Rocky Gerung secara blak-blakan menuduh Cokro TV sebagai alat pemerintah oligarki sebagai instrumen untuk menakut nakuti kelompok minoritas.
Hal itu dilakukan dengan kampanye berkelanjutan tentang Islam radikal dan fundamentalis.
Cokro TV menurut Rocky Gerung sudah menjadikan agama sebagai komoditi bisnis.
Saluran TV ini dalam pandangan Rocky tak lebih sebagai provokator, penyebar islamophobia, dan bahkan beberapa pengasuh acara di saluran TV itu adalah “buzzer” pemerintah yang sedang berkuasa.
Kalaulah benar penggemar Rocky Gerung, terutama ummat Islam, baik di Aceh maupun secara nasional yang melihat ia sebagai pembela Islam, apa respons Rocky Gerung terhadap anggapan itu?
Dengan lugas ia mengatakan ia membeli perspektif Islam tentang kebenaran, kesetaraan, dan keadilan.
Ia menganggap ada sebuah ketidakadilan pemerintah terhadap ummat Islam yang telah dan sedang berjalan.
Karenanya sebagai warga negara, ia terpanggil untuk membela saudara-saudara sebangsa dan senegaranya, mayoritas ummat Islam.
Ada anggapan seolah Rocky Gerung telah masuk Islam, bahkan pendakwah dan model Neno Warisman telah mempersiapkan nama awal Muhammad kepadanya jika satu hari ia menjadi mualaf.
Rocky Gerung menanggapi santai tentang hal itu, dan ia tak mau berdiskusi soal keyakinan.
Dalam hal muamalah katanya, ada ruang debat yang terbuka lebar, sedangkan dalam hal keyakinan itu adalah wilayah pribadi.
Iman, hidayah, bahkan panggilan Tuhan menurut filosof itu adalah sesuatu yang sakral-didengar sekaligus dijawab oleh nurani.
Karena itu misterius, hal itu boleh saja menjadi milik pribadi individu yang bersangkutan, tanpa diketahui publik.
Untuk banyak pihak, statemen ini memang bernuansa liberal, namun Rocky dalam sebuah kesempatan segera menimpali dengan mengutip Surat Al-Fajr Ayat 14-Inna rabbaka mirshaad-(sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi).
Baca juga: Tokoh Muda Buddha, Kristen, Katolik dan Hindu Akui Sangat Nyaman Tinggal di Aceh
Kafir Dzimmi Wajib Dilundingi
Segera setelah video Rocky Gerung di acara Maulid komunitas Kembang Tanjong di Jakarta, saya berdiskusi dengan beberapa ulama milenial Aceh via Whatsapp.
Semuanya bersepakat bahwa jika benar ia bukan pemeluk Islam, Rocky Gerung adalah kafir dzimmi, yakni golongan non-muslim yang hidup rukun dan damai dengan ummat Islam.
Dengan begitu ia wajib dilindungi oleh kaum muslimin.
Namun menariknya, ketika diskusi mengarah kepada contoh sejarah, seseorang secara seloro memberi gelar Rocky Gerung sebagai “Abu Thalib kontemporer” Indonesia, dan semua peserta WA group itu gerrr.
Pembicaraan humor, namun substantif itu mengingatkan kepada sosok Abu Thalib, paman Nabi Muhammad SAW yang menurut banyak riwayat tak pernah berhenti membela dakwah Rasul, namun ia tetap tidak mau masuk Islam sampai akhir hayatnya.
Ketika diskusi WA group itu akan selesai seseorang nyelutuk singkat dengan mengajukan pertanyaan, ‘kalau Rocky Gerung itu Abu Thalib kontemporer, lalu siapa Abu Jahal dan Abu Lahab kontemporer”?.
Suasana hening, kemudian gerrr lagi sejenak.
Diskusi tak berlanjut, karena host acara telah mematikan Zoom.
*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/rocky-gerung-dan-ahmad-humam-hamid.jpg)