Rabu, 3 Juni 2026

Opini

Nilai Edukasi Sosok Ibu di Piala Dunia

Pembukaan dengan lantunan ayat suci Alquran membuat siapa saja yang menonton menjadi terharu dan merinding

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr SRI RAHMI MA, Dosen UIN Ar Raniry, Ketua Asosiasi Prodi Manajemen Pendidikan Islam se-Indonesia 

OLEH Dr SRI RAHMI MA, Dosen UIN Ar Raniry, Ketua Asosiasi Prodi Manajemen Pendidikan Islam se-Indonesia

DALAM bulan ini, dunia disuguhkan beberapa momen menarik yang ada pada perhelatan piala dunia 2022 di Qatar.

Selain menjadi negara Arab pertama penyelenggara piala dunia, malam pembukaan piala dunia juga menyuguhkan sesuatu yang berbeda dibandingkan piala dunia sebelumnya.

Pembukaan dengan lantunan ayat suci Alquran membuat siapa saja yang menonton menjadi terharu dan merinding.

Qatar sebagai negara penyelenggara, membuat perhelatan akbar ini penuh dengan nilai dakwah, sehingga membuat orang tersadar bahwa banyak hal tentang Islam yang selama ini salah dipersepsikan oleh orang-orang, terutama nonmuslim.

Yang lebih mengejutkan lagi adalah saat Negara Maroko melaju dengan mulus sampai ke babak semifinal dengan mengalahkan dan menyingkirkan raksasa bola dunia.

Semua di luar prediksi banyak orang dan Maroko berhasil menunjukkan serta membuktikan bahwa, nama besar belum tentu selamanya menjamin kesuksesan.

Ikhtiar dalam bentuk kerja keras dan doa menjadi penentu kesuksesan yang sesungguhnya.

Tidak terlena dengan kehebatan dan nama besar masa lalu serta rendah hati menjadi kuncinya.

Dan dari semuanya, Maroko menempatkan posisi ibu dengan sangat mulia di piala dunia kali ini.

Pelatih dan para pemain Maroko benar-benar yakin dan percaya bahwa doa seorang ibu mampu menembus langit.

Di saat pelatih mengizinkan untuk membawa salah seorang anggota keluarga ke Qatar, maka pelatih dan beberapa pemain memilih membawa ibu mereka dan di setiap pertandingan, ibu berada di tribun penonton.

Tugas ibu di tribun saat itu hannyalah berzikir kepada Allah dan melafazkan doa agar anak mereka yang sedang berjuang di tengah lapangan diberi kelancaran dan kemudahan untuk meraih kemenangan.

Baca juga: Raja Salman dan Pemimpin Arab Sampaikan Selamat ke Emir Qatar, Piala Dunia 2022 Berjalan Sukses

Baca juga: Wajah Islam di Piala Dunia Qatar

Tim Maroko meyakini bahwa kalimat “surga berada di bawah telapak kaki ibu” bukan hanya slogan semata, namun harus dimaknai dan diyakini sebagai sebuah bakti seorang anak kepada orang yang melahirkan dan mendidiknya dari kecil.

Maka, sudah seharusnya kalimat ini juga dapat menjadi spirit bagi kaum ibu untuk memaksimalkan fungsi dan perannya dalam mendampingi anak-anaknya dimanapun dan dalam konteks apa pun.

Ibu harus mendedikasikan dirinya untuk menjadi garda terdepan bagi anak dan keluarganya dalam menghadapi segala problem kehidupan ini.

Seramai apa pun pendukung yang berada di tribun penonton, tempat ternyaman bagi seorang anak adalah bersama ibunya.

Hal ini dipertontonkan oleh bintang sekelas Hakimi dan teman- temannya yang langsung menghampiri ibunda masingmasing saat berhasil mempersembahkan gol ke gawang lawan.

Ini menjadi tontonan yang penuh dengan nilai edukasi bagi generasi muda saat ini.

Kedekatan antara anak dengan ibu yang terjadi di piala dunia kali ini tidak akan terjadi kecuali hubungan tersebut sudah terjalin dengan erat sejak dini.

Sebab, kedekatan yang harmonis sejak dini, akan dapat terlihat efeknya saat anak menjadi dewasa dan mempengaruhi karakter serta tingkah laku anak di masa depan.

Ibu hendaknya membangun hubungan emosional dengan anak di mana satu sama lain saling membutuhkan dan merasa cemas atau tidak nyaman bila terpisah.

Kedekatan emosional yang dibangun oleh ibu, akan mempengaruhi hubungan sosial anak dengan lingkungannya di saat anak sudah besar.

Demikian juga sebaliknya, anak yang tidak dekat dengan ibunya, cenderung tidak mudah berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

Kerekatan antara orang tua dan anak dapat dibentuk melalui kepekaan dan respons orang tua terhadap kebutuhan anak, serta sesering mungkin mengajak anak bicara memiliki efek positif untuk masa depannya.

Anak yang memiliki kerekatan yang baik dengan orang tua cenderung punya rasa ingin tahu yang tinggi, mudah bergaul, mandiri, bisa berinteraksi dengan orang dewasa dan bisa memimpin.

Dewasa ini, ibu harus berperan sebagai pendidik dan mampu memberikan keteladanan bagi anaknya.

Baca juga: Berkah Piala Dunia Qatar 2022, Omset Warung Kopi di Kota Sabang Meningkat

Seorang anak harus menjadikan ibu sebagai idolanya dalam bertindak dan berperilaku.

Dari sudut dinamika sosial kontemporer, interaksi sosial si anak akan lebih kompleks sehingga kehadiran ibu untuk mengayomi anaknya dalam garis berkehidupan sosial yang benar menjadi perlu.

Kehidupan dunia yang mengglobal tidak harus menyebabkan terjadinya jarak sosial yang sangat tajam antara ibu dengan anaknya, malah tuntutan yang diperlukan itu adalah sebaliknya; bahwa kondisi transglobal harus menjadikan seorang ibu lebih dekat (baca: akrab) dengan anaknya.

Ibu juga harus mampu tampil bukan sebatas inspirator semangat anaknya dalam berbagai hal, tetapi juga seorang ibu harus mampu dan tegas menjadi filterisasi arus pergaulan yang dapat menjadi ancaman dalam perkembangan anak.

Sehingga arus akulturasi budaya global tidak meruntuhkan budaya leluhur keluarga dan anak yang memang harus menjadi bagian jati diri berkehidupan mereka.

Oleh sebab itu, kehadiran ibu sebagai orang tua dan partner anaknya dalam segala hal menjadi terasa urgen dari sudut pandangan mana pun.

Ibu adalah orang yang kuat, penyayang, sabar dan cinta anak-anaknya.

Sosok Ibu tak akan tergantikan dengan siapa pun apalagi digantikan oleh mesin.

Peran ganda yang diemban seorang ibu, itulah yang menjadikan ibu menjadi sosok yang kuat dan tegar.

Jika kita Kembali melihat ajang perhelatan piala dunia, maka sebenarnya suasana lapangan bola bukanlah tempat yang nyaman baginya apalagi dengan usia ibu yang tidak lagi muda.

Namun, demi memberikan yang terbaik untuk anakanaknya, ibu akan melawan segala macam bentuk ketidaknyamanan itu.

Ibu orang yang memiliki tingkat kesabaran yang paling tinggi.

Selalu sabar dalam menghadapi segala macam tingkah dan perilaku anak-anaknya.

Baca juga: Tarian Hening Cipta Hingga Teriakan "Ejekan" Argentina Untuk Mbappe Usai Raih Juara Piala Dunia 2022

Ibu adalah cinta anak-anaknya, ia akan melakukan segala hal agar bisa membahagiakan anaknya.

Kecintaan terhadap anaknya tidak pernah terbatas oleh waktu dan tempat.

Cinta terhadap anak-anaknya adalah kekuatan terbesar yang dimiliki seorang ibu.

Rela bekerja asalkan anaknya bisa bahagia.

Ibu juga merupakan sosok yang kuat dari segi fisik dan mental dalam menghadapi persoalan hidup.

Sebelum menikah, sebagian perempuan sering mengeluh ketika harus mengangkat beban berat.

Tapi, setelah menjadi ibu, ternyata anak yang bobotnya lebih dari tujuh kilogram pun mampu diangkat (gendong) tanpa terbebani, bahkan kadang kala sambil melakukan aktivitas lainnya.

Belum lagi jika berbicara tentang ketakutan dan rasa jijik terhadap hal tertentu.

Takut dengan kecoa atau binatang kecil lainnya, enggan bersinggungan dengan muntah, ingus, maupun pup orang lain.

Namun, setelah memiliki anak, rasa takut maupun jijik perlahan hilang, kalah dengan rasa sayang yang dimiliki ibu untuk menjaga kebersihan anak-anaknya.

Jiwa ingin melindungi secara otomatis muncul setelah memiliki anak.

Berat memang peran ibu di masa hidupnya, namun janji Allah jauh lebih indah sehingga tidak ada yang perlu dikeluhkan.

Selamat Hari Ibu bagi seluruh ibu hebat di dunia.

Semoga momentum ini menyadarkan kita semua bahwa kita hadir terlahir dari rahim ibu dan dengan kiprah ibu yang sarat tantangan dalam kehidupannya menjadikan kita lebih bermakna. (srirahmi77@gmail.com)

Baca juga: Presiden Persiraja Dukung Prancis di Final Piala Dunia 2022: Banyak Pemain Muslim

Baca juga: Dukung Perancis, Maia Estianty dan Suami Terbang ke Qatar Demi Final Piala Dunia

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved