Berita Aceh Besar
Cara Rohingya Capai Daratan Aceh, Begini Pengakuan Imigran dari Camp 3 Kutupalong Bangladesh
184 pengungsi Rohingya terdampar di pesisir Pantai Kuala Gigieng, Desa Lamnga, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar, Minggu (8/1/2023)
Penulis: Indra Wijaya | Editor: Muhammad Hadi
Terlebih dirinya yang memegang identitas sebagai pengungsi.
Baca juga: Asrama Putri SMA Modal Bangsa di Aceh Besar Terbakar, Barang Milik Siswi tak dapat Diselamatkan
Saat di Myanmar, ayah dan ibunya dibunuh oleh militer. Ia hanya tinggal bersama satu orang adiknya di Bangladesh.
Saat ditanya apakah ia membawa adiknya, dia mengatakan hanya dirinya sendiri di kapal tersebut.
"Kami dilaut terkatung-katung hampir satu bulan. Ayah dan ibu saya mati dibunuh di Myanmar," kata Fairus.
Saat ditanya siapa yang mengurusi para pengungsi hingga bisa menaiki kapal, dia adalah si pemilik perahu.
Fairus mengatakan, dia (pemilik perahu) tinggal di kamp. Tapi ia tidak tahu rumahnya di mana.
"Kami bertemu dia di kamp. Lalu dia bilang ke kami tentang bagaimana berangkat ke Indonesia lalu ke Malaysia, seperti itu," ujar Fairus.
Baca juga: PNA, SIRA, PDA Tolak Wacana Coblos Partai
Ia mengatakan, untuk bisa menaiki kapal dan berangkat ke Malaysia, mereka harus membayar sejumlah uang.
Dia mengaku tidak ada yang mengakomodasi mereka saat pergi dari Bangladesh.
Saat di atas kapal dirinya juga merasa sangat cemas.
Sebab, banyak dari mereka yang meninggal di perjalanan.
Terlebih dengan keterbatasan makanan yang ada.
"Banyak dari kami yang sakit, karena tidak ada air dan makanan.
Kami tidak punya handphone untuk menentukan titik koordinat perjalan. Kami Hanya memiliki kompas," pungkasnya.(*)
Baca juga: Karo Ops Polda Aceh dan Kapolresta Tinjau Kondisi Imigran Rohingya yang Terdampar di Aceh Besar
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/rohingya-terdampar-di-Aceh_asal-camp-Bangladesh.jpg)