Kupi Beungoh
Bank Aceh, Berlarilah Agar Cinta Kami tak Terbagi
Banyak hal yang dipaparkan dalam pertemuan tersebut, mulai dari pembiayaan kredit produktif, penyaluran kredit tanpa bagi hasil bagi nyak-nyak...
Oleh: Risman Rachman*)
SEBUAH pertemuan bertajuk silaturahmi Direktur Utama Bank Aceh, Muhammad Syah, dengan pimpinan media di Aceh, digelar pada, Rabu (15/3/2023) sore.
Pertemuan yang berlangsung di Gedung Diklat Bank Aceh di Kawasan Blower Banda Aceh ini, adalah kesempatan pertama bagi Muhammad Syah untuk bertemu dan berkenalan dengan awak media, khususnya dengan para pimpinan media massa di Aceh.
Mengawali pertemuan, Muhammad Syah, sang Dirut baru Bank Aceh, memperkenalkan diri kepada awak media yang hadir.
Muhammad Syah didampingi oleh Direktur Operasional Lazuardi, Direktur Kepatuhan Yusmal Diansyah, Pimpinan Divisi Sekretariat Perusahaan Bank Aceh, Said Zainal Arifin, dan Humas Ziad Farhad.
Sementara dari media turut hadir Ketua PWI Aceh, M Nasir Nurdin, Pemimpin Redaksi Serambi Indonesia, Zainal Arifin, dan para pemimpin redaksi dari berbagai media online lainnya.
Setelah Muhammad Syah memperkenalkan diri, disusul penjelasan dari Direktur Operasional Lazuardi dan Direktur Kepatuhan, Yusmal Diansyah.
Banyak hal yang dipaparkan dalam pertemuan tersebut, mulai dari pembiayaan kredit produktif, penyaluran kredit tanpa bagi hasil bagi nyak-nyak penjual sayur, hingga soal digitalisasi layanan dan upaya yang dilakukan untuk segera menjadi bank devisa.
Baca juga: Muhammad Syah Dirut Bank Aceh Periode 2023-2027
Dari Peng Card Hingga Uang Malam
Setelah pemaparan dari pimpinan, Said Zainal Arifin mempersilakan para pimpinan media menyampaikan pandangan dan masukan kepada pihak Bank Aceh.
Ada empat orang perwakilan yang menyampaikan pendapat dan saran terhadap Bank Aceh, yaitu Zainal Arifin dari Serambi Indonesia, Azhari Bahrul dari KBA.one, Imran Joni dari Rakyat Aceh, dan Aldin Nainggolan dari Waspada.
Keempat orang ini menyorot tentang proses digitalisasi pelayanan Bank Aceh yang terkesan lebih lambat dari pesaingnya yang merupakan bank nasional.
“Kritikan ini kami sampaikan semata-mata karena kecintaan kami kepada Bank Aceh,” kata Zainal Arifin.
Salah satu harapan dari awak media adalah agar perbaikan layanan digital menjadi perhatian serius dari Bank Aceh, disamping isu layanan pembiayaan UMKM dan gerak Bank Aceh menjadi Bank Devisa.
“Terus terang, selama ini kami tidak hanya memiliki acount Bank Aceh, tapi juga punya account di bank sebelah, karena Action (layanan mobile banking milik Bank Aceh) masih belum sempurna, terutama untuk layanan pembelian dan pembayaran online,” ujar Zainal.
Zainal juga berkisah tentang keluhan yang dialami dua rekannya terkait topup Peng Card yang gagal. “Tapi, kedua rekan saya ini tidak atau belum melakukan komplain, mungkin karena kecintaannya kepada Bank Aceh, atau bisa jadi juga karena dapat kerjaan di Bank Aceh,” sebutnya dengan nada bercanda.
Keluhan dan masukan lain yang senada juga disampaikan oleh awak media lainnya, termasuk soal isu terkait jumlah karyawan yang dinilai terlalu banyak.
Ada juga pertanyaan seputar upaya menuju bank devisa dan pertanyaan tentang strategi menghadapi laju kencang bank lain yang ada di Aceh.
Bank Aceh Terus Berbenah
Direktur Utama Bank Aceh Syariah (BAS) Muhammad Syah menyambut baik masukan dan saran yang disampaikan oleh awak media.
Dan agar perkembangan yang sudah dicapai Bank Aceh, termasuk dalam aspek digitalisasi, akan disampaikan kepada masyarakat dengan bantuan media.
“Ke depan, Bank Aceh akan terus melibatkan media agar aktivitas yang dilakukan Bank Aceh diketahui luas oleh masyarakat,” sebutnya.
Direktur Operasional BAS, Lazuardi menyebut Bank Aceh berpotensi menjadi bank nasional, tidak lagi sekedar bank daerah.
Pasalnya, banyak produk-produk sekelas bank nasional sudah ada di Bank Aceh.
Dan, Bank Aceh terus melakukan penyempurnaan terhadap produk layanannya, ternasuk layanan bersifat digital.
Bank Aceh, menurut Lazuardi, juga terus melakukan pengembangan jaringan kantor di seluruh Aceh, termasuk rencana membuka 5000 unit kios action link untuk melayani masyarakat, hingga ke daerah terpencil.
“Ini supaya masyarakat semakin merasakan manfaat dari pelayanan Bank Aceh,” sebut Lazuardi.
Baca juga: Bank Aceh Kalahkan Ditreskrimum Polda Aceh
Uang Malam
Direktur Kepatuhan Bank Aceh Yusmal Diansyah menjelaskan bahwa layanan digital Bank Aceh, meski belum semua, sudah mengakomodir berbagai kebutuhan yang diperlukan nasabah untuk melakukan transaksi “uang malam” atau online.
“Memang belum semuanya, dan Bank Aceh sedang dan akan terus membangun kerjasama dengan berbagai pihak untuk kepentingan transaksi online,” sebutnya.
Diakui oleh Yusmal, Bank Aceh masih banyak yang perlu dikuatkan, salah satunya agar proses topup bisa langsung ke nasabah, tanpa harus melalui bank lain dan pihak perantara.
“Sehingga tidak terhambat atau macet apalagi gagal, dan kita akan terus bergerak ke arah yang lebih baik dengan dukungan semua pihak, termasuk dukungan media,” sebutnya.
Begitu juga upaya Bank Aceh menjadi bank devisa, Yusmal Diansyah menyebut Bank Aceh mewujudkannya agar dapat membantu para eksportir yang ada di Aceh.
Yusmal menginformasikan dalam tiga tahun terakhir kondisi kesehatan Bank Aceh cukup baik, ada di peringkat B dan secara rating Bank Aceh juga berada di peringkat A+ menurut Pefindo.
Terkait jumlah karyawan, Yusmadiansyah menyebut jumlah karyawan Bank Aceh sekitar 2.600 orang.
Dari sisi ekspansi jumlah ini dinilai masih kurang teruma account officer.
“Namun, jumlah ini akan terkoreksi manakala ekspansi Bank Aceh dilakukan secara digital,” sebutnya.
Terkait digitalisasi, Yusmadiansyah juga menyebut akan terus dikembangkan, termasuk layanan pengajuan kredit secara online berbasis handphone.
“Jika disetujui dan memenuhi syarat, sistem akan memberitahu agar segera ke counter terdekat,” ujarnya.
Bank Aceh juga sudah menyediakan layanan barcode. Dengan begitu penarikan bisa dilakukan tanpa harus bawa kartu ATM. Begitu juga dengan transaksi bisa digunakan dengan barcode.
Untuk mengantisipasi laju cepat bank lain, Yusmadiansyah mengatakan akan mensikapinya dengan berbagai strategi bisnis, termasuk memastikan makin berkembangnya teknologi dalam pelayanan.
“Ada banyak pekerjaaan yang akan terus kami lakukan termasuk untuk memperbaiki hal-hal yang masih kurang agar semakin baik pelayanan dari Bank Aceh,” tutupnya.
Setelah pertemuan, Zainal Arifin mengatakan kepada saya bahwa sebenarnya Bank Aceh memang sudah berlari untuk menyongsong proses digitalisasi layanan.
Seperti action yang sudah bisa melayani topup e-money (Peng Card), gopay, dan OVO, dan lainnya.
“Tapi bank pesaing berlari lebih cepat. Maka, dalam pertemuan tadi saya perlu menyampaikan beberapa kendala di lapangan, dengan harapan Bank Aceh bisa berlari lebih cepat lagi, sehingga tidak tertinggal jauh dari bank syariah nasional,” ungkap Zainal.
Maka, berlarilah Bank Aceh, agar cinta nasabah tak terbagi ke lain hati. Semoga
*) PENULIS adalah penikmat kupi pancong Ulee Kareng, Banda Aceh.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/pimpinan-bank-aceh-dan-awak-media.jpg)