Kupi Beungoh
Era Digital, Pornografi Bisa Terjadi di Rumah
Salah satu nilai negatif yang kita khawatirkan adalah, anak-anak kita melihat orang-orang yang terbuka auratnya di dalam gadgetnya.
Oleh: Dr.Ainal Mardhiah, S.Ag, M.Ag
Di Era Digital saat ini, kita mengkhawatirkan anak-anak, sibuk dengan handphone (gadget), kita khawatir anak-anak terpengaruh dengan nilai-nilai negatif yang terdapat dalam gadget.
Salah satu nilai negatif yang kita khawatirkan adalah, anak-anak kita melihat orang-orang yang terbuka auratnya di dalam gadgetnya.
Kita khawatir karena itu anak-anak kita terjerumus kedalam pergaulan yang tidak baik dan bisa terpapar berbagai penyakit sosial, dan pergaulan bebas.
Adakah kita sadar, orang tua dalam hal ini ayah, ibu, orang-orang yang ada dalam satu rumah mempertontonkan pornografi di dalam rumah sendiri.
Karena di dalam rumah sendiri, kita berdalih tidak apa-apa ini di rumah sendiri, jadi tidak apa-apa, tidak apa-apa nampak aurat, tidak apa-apa tampil seksi, tidak berdosa, karena sesama muhrim.
Baca juga: Pria Langkat Ditangkap di Tamiang Pasok BBM Bersubsidi ke Gudang Alat Berat
Kita lihat para istri atau ibu-ibu, di rumah memakai duster, duster tipis dan tembus pandang, apalagi yang warnanya terang, sampai terlihat belahan paha si ibu, ketiak dan bagian dalamnya, hampir tidak tersembunyi.
Atau memakai pakaian "you can see", atau pakaian dalam saja dirumah semacam "tanktop", dan celana "puntong".
Lalu di dalam rumah tersebut, terdapat anak laki-laki, anak laki-laki itu akan melihat ibunya setiap hari dengan pakaian demikian, ini sama dengan anak melihat pornografi di dalam rumah sendiri.
Ketika masih kecil mungkin tidak berpengaruh terhadap otak anak laki-laki, maupun perempuan, berjalan waktu dia mulai besar, mulai dewasa, pemandangan ini akan mempengaruhi otak si anak baik anak laki-laki, maupun anak perempuan yang mulai dewasa.
Jika ada anak perempuan di dalam rumah tersebut, maka kebiasaan ibunya ini akan menjadi contoh bagi anak-anak perempuannya.
Begitu juga dengan bapak-bapak terkadang memakai celana yang bisa menampakkan selangkangan pahanya.
Tidak menjadi masalah mungkin jika di dalam rumah tidak ada anak perempuan, atau anggota keluarga yang perempuan lainnya seperti ipar atau lainnya.
Baca juga: Kaki Kiri Milik Korban Mutilasi Koper Merah Ditemukan, Tubuh Dipotong 4 Bagian, Kepala Masih Dicari
Namun jika di dalam rumah tersebut terdapat anggota keluarga yang perempuan selain istri, yaitu anak perempuan, maka ini menjadi tidak baik, ini akan berpengaruh negatif terhadap perkembangan otak dan akhlak anak perempuan, dan menjadi dosa jika di dalam rumahnya tersebut terdapat ipar yang bukan muhrim bagi si Bapak.
Mungkin ini terlihat sepele, sederhana, namun sesungguhnya ini berbahaya bagi perkembangan anak, mengajarkan kepada anak tentang pornografi di rumah.
Pada saat anak-anak sudah mulai dewasa mereka melihat pornografi di rumah, tentu otaknya yang sudah mulai dewasa, mulai timbul hasrat seksual, ini akan berbahaya bagi diri anak yang tidak mendapat tempat penyaluran, anak akan mulia mengeksplor dunia maya dan dunia nyata untuk menyalurkan hasrat seksualnya, meski anak mendapat pengetahuan agama dari orang tua dan gurunya.
Umpama sungai, tentu butuh alur, untuk mengalir agar dia tidak menjadi masalah, tidak terjadi penyelewengan dalam bentuk prilaku, agar sunnatullah itu sehat adanya.
Suami melihat istri atau istri melihat suami dalam keadaan demikian, jelas timbul hasrat terhadap pasangan, dan itu tidak menjadi masalah bisa segera disalurkan.
Sementara anak laki-laki dengan melihat ibunya demikian, kemudian timbul hasrat, tidak ada tempat menyalurkan, ini akan berbahaya bagi anak, bisa timbul lesbian, hasrat menonton pornografi karena penasaran, timbul GAY atau LGBT yang sekarang kita dengar sedang marak dimana-mana.
Kebiasaan seperti ini, penting dirubah, sebagaimana nasehat Rasulullah SAW yang mengingatkan umat Islam agar pada umur 10 tahun agar memisahkan tempat tidur, anak dengan orang tua, anak dengan anak lainnya, terutama memisahkan tempat tidur anak laki-laki dengan anak perempuan untuk menjaga matanya dari melihat aurat orang tua atau saudaranya yang mungkin tersingkap secara tidak sadar ketika tidur. Berikut ini hadisnya:
“Perintahlah anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat mereka berumur tujuh tahun, pukullah mereka (jika tidak melaksanakan shalat) saat mereka telah berumur sepuluh tahun, dan pisahlah tempat tidur di antara mereka” (HR Abu Daud)
Pakaian yang sopan bagi ibu-ibu atau anak perempuan yang tidak menampakkan bagian dalam, dari anggota tubuh tentu sangat disarankan.
Jika memakai pakaian tipis di rumah, tambah dengan "rok dalam" tentu lebih sopan, lebih santun, lebih menjaga diri dan orang lain.
Begitu juga dengan bapak-bapak, sangat bersahaja jika memakai celana puntung, tapi tidak sampai menampakkan selangkangan pahanya jika ada anak perempuan atau ioar perempuan, sehingga lebih terjaga, lebih mulia tentunya, meski di dalam rumah sendiri.
*) PENULIS Dr. Ainal Mardhiah, S.Ag, M.Ag adalah Dosen Tetap Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Ar Raniry Banda Aceh.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA TULISAN KUPI BEUNGOH LAINNYA DISINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Ainal-Mardhiah-SAg-MAg-adalah-Dosen-Tetap-Fakultas-Tarbiyah-Dan-Keguruan.jpg)