Opini
Aceh Waspada Flu Burung Clade 2.3.4.4b
FLU Burung atau Avian Influenza (AI) subtipe H5N1 merupakan salah satu penyakit zoonosis yang telah muncul beberapa tahun lalu di dunia, bahkan di Asi
Dr drh Teuku Zahrial Helmi MSc, Dosen dan Peneliti Flu Burung pada Fakultas Kedokteran Hewan USK dan Pengurus PDHI Cabang Aceh Periode 2023-2027
FLU Burung atau Avian Influenza (AI) subtipe H5N1 merupakan salah satu penyakit zoonosis yang telah muncul beberapa tahun lalu di dunia, bahkan di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Baru-baru ini kita dihebohkan kembali dengan muncul dan mewabahnya HPAI (Highly Pathogenic Avian Influenza) subtipe H5N1 clade baru 2.3.4.4b di Amerika, Eropa, Asia terutama di Cina dan Jepang, serta adanya laporan kasus di Indonesia yaitu di provinsi Kalimantan Selatan.
Berdasarkan surat edaran yang dikeluarkan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan tanggal 16 Januari 2023 Nomor 16183/PK.320/F/01/2023 tentang Peningkatan Kewaspadaan Terhadap HPAI sub tipe H5N1 clade 2.3.4.4b, menyatakan bahwa virus clade baru ini teridentifikasi di Kalimantan Selatan setelah dilakukan pemeriksaan PCR dan sequencing DNA.
Berdasarkan laporan yang dikeluarkan WHO, sejak tahun 2020 telah ada laporan kasus infeksi Virus AI subtipe H5N1 clade 2.3.4.4b pada manusia dengan berbagai macam bentuk infeksi. Empat kasus yang dilaporkan pada manusia di Eropa dan Amerika tidak menunjukkan gejala atau dengan gejala ringan berupa kelelahan.
Semua kasus infeksi pada manusia memiliki riwayat terpapar dengan unggas yang terinfeksi baik melalui pada area peternakan ataupun pada pasar unggas hidup. Sampai saat ini infeksi pada manusia masih sangat rendah dan belum ada laporan yang menyatakan adanya perpindahan penularan dari manusia ke manusia.
Sebagaimana diketahui bahwa penyakit flu burung atau Avian influenza pertama sekali mewabah di Indonesia pada tahun 2003 yang berawal dengan ditemukannya kematian sejumlah besar unggas di Jawa Tengah dan Banten.
Di Provinsi Aceh kasus infeksi virus AI subtipe H5N1 pertama kali muncul pada tahun 2004, dengan ditemukannya kasus pertama pada ayam bukan ras (buras) di daerah Lamdom, Kota Banda Aceh dan mewabah hampir di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Aceh, dan terus bersirkulasi di alam sampai sekarang.
Salah satu faktor penting yang mempengaruhi kejadian wabah virus AI yang terus menerus di Indonesia, dan di Provinsi Aceh khususnya adalah akibat dari lemahnya program vaksinasi dan penanganan virus AI di lapangan yang belum maksimal. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya penerapan biosekuriti pada peternakan unggas, terutama pada peternakan rakyat dan usaha ternak ayam di pekarangan rumah.
Penyebaran virus AI yang berasal dari unggas air liar yang bermigrasi baik antar pulau ataupun antar negara, dan burung liar dalam area peternakan. Selain itu pola distribusi unggas hidup di pasar tradisional yang tidak terkontrol, penjualan unggas hidup dan daging ayam yang berada pada lokasi yang sama dengan tempat penyembelihan juga menjadi faktor paling penting dalam penyebaran virus AI H5N1.
Riset cemaran virus AI pada pasar tradisional di Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh tahun 2011, ayam hidup yang berada di dalam kandang penampungan sementara merupakan titik cemaran yang paling berpotensi sebagai sumber penyebaran dan penularan virus AI ke lingkungan.
Penyebaran dapat berupa penularan pada kelompok unggas yang berada dalam satu kandang penampungan di dalam area pasar maupun kepada unggas lain yang berada di luar pasar melalui unggas yang dibeli dan dibawa dalam kondisi hidup.
Avian influenza atau Flu Burung merupakan penyakit infeksi pada unggas yang disebabkan oleh virus influenza tipe A subtipe H5N1, yang termasuk dalam keluarga Orthomyxoviridae. Flu Burung subtipe H5N1 dapat menginfeksi pada hampir semua spesies unggas, baik unggas darat maupun unggas air.
Selain itu, virus flu burung juga menginfeksi banyak spesies hewan, antara lain babi, anjing, kucing, hewan liar seperti leopard dan harimau serta beberapa jenis mamalia termasuk manusia.
Sejak awal wabah pada tahun 2003 sampai saat ini, virus HPAI subtipe H5N1 di Indonesia termasuk dalam clade 2.1 yang selanjutnya terbagi atas 3 subclade, yaitu subclade 2.1.1, 2.1.2, dan 2.1.3. Subclade 2.1.3 merupakan virus AI yang diisolasi dari unggas dan manusia sejak 2004, dan menjadi subclade paling dominan di Indonesia dan terus menyebar dan menjadi endemik di banyak provinsi di Indonesia. Hasil evolusi dari subclade 2.1.3 inilah yang membentuk beberapa subclade baru.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis dalam menyelesaikan Disertasi program Doktoral di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada pada tahun 2016, virus AI yang diisolasi dari puyuh di Provinsi Aceh termasuk ke dalam subclade 2.1.3, yang berbeda dengan kelompok virus AI yang di isolasi pada unggas di Provinsi Aceh pada periode 2004-2005.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Teuku-Zahrial-Helmi-I.jpg)