Jurnalisme Warga

Usaha Batu Bata di Uruk Anoe dari Masa ke Masa

Sepanjang jalan melintasi desa itu terlihat hampir setiap rumah ada dapur untuk memasak batu bata yang sudah dijadikan sebagai mata pencaharian masyar

Editor: mufti
Dok Pribadi
Kadiskominsa Bireuen, M Zubair SH MH 

M. ZUBAIR,S.H.,M.H., Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian  Kabupaten Bireuen, melaporkan dari Bireuen

PADA Minggu pagi 2 April lalu sepulang dari shalat Subuh berjamaah di masjid sekitar pukul 07.00 WIB saya melaksanakan kegiatan rutin gowes untuk menghirup udara segar agar  badan dapat terus bugar di bulan suci Ramdhan ini. Perjalanan gowes ceria saya hari Minggu tersebut menuju ke arah selatan Kota Bireuen hingga sampai ke sebuah desa yang saya baca nama desa tersebut di kantor keuchiknya adalah Desa Uruk Anoe.

Perjalanan gowes tersebut tidak sia-sia karena saya dapat menikmati pemandangan indah Desa Uruk Anoe dengan udara masih bersih, bebas dari polusi. Di sini juga terdapat irigasi besar untuk mengairi persawahan, membelah desa tersebut dan membuat mata semakin terpesona akan ciptaan Allah Swt.

Desa Uruk Anoe, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen yang terletak lebih kurang 2 kilometer ke arah selatan Bireuen dapat dicapai melaui Desa Geulanggang Gampong atau Desa Cot Mesjid. Desa ini merupakan desa pengrajin batu bata. Sepanjang jalan menuju Uruk Anoe mulai jalan rata dan terus sedikit mendaki dengan bukit berkarang yang mana karang-karang tersebut dijadikan bahan baku untuk pengolahan batu bata oleh masyarakat di desa tersebut.

Sepanjang jalan melintasi desa itu terlihat hampir setiap rumah ada dapur untuk memasak batu bata yang sudah dijadikan sebagai mata pencaharian masyarakat desa.

Ketika mengayuh sepeda telah sampai ke tengah desa di pinggir irigasi nan indah saya bertemu dengan seorang anak muda warga Desa Uruk Anoe bernama Zulkarnoidi SKom yang tidak lain adalah staf saya sebagai tenaga kontrak di Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian (Diskominsa) Kabupaten Bireuen. Zulkarnoidi yang lebih akrab disapa Zoel mempersilakan saya ke sebuah dangau di depan rumahnya, di samping irigasi untuk istirahat menikmati keindahan alam desanya sambil ngobrol lepas. Memang asyik juga duduk ngobrol di hari libur bisa melepaskan lelah dan penat pikiran akibat rutinitas pekerjaan sehari-hari di kantor.

Dalam percakapan itu saya bertanya mengenai usaha pembuatan batu bata di Desa Uruk Anoe yang terlihat hampir semua masyarakatnya melakoni perkerjaan tersebut. Zoel pun mulai menjelaskan bahwa usaha batu bata di desa itu merupakan usaha yang turun-temurun, bahkan Zoel dan keluarganya juga sebagai pengusaha batu bata. Meurut Zoel, usaha yang dirintisnya itu merupakan usaha warisan dari kakeknya yang diturunkan kepada orang tuanya dan dilanjutkan sampai kepada dia.

Demikian juga masyarakat lainnya di desa tersebut usaha yang ditekuni tersebut sudah dimulai dari kakek nenek mereka dan masih dapat dipertahankan sampai di era digital ini.

Untuk saat ini usaha batu bata yang dikelola Zoel bersama keluarganya sudah mampu dikembangkan menjadi tiga tempat pengolahan bata bata (jambo atau dapur bata) dari awalnya hanya satu jambo. Adapun tenaga kerja yang diperkerjakan di tiga jambo tersebut mencapai enam orang. Dengan tenaga kerja enam orang mampu dihasilkan batu bata sebanyak 700 sampai dengan seribu biji per hari. Demikian juga di jambo-jambo milik orang lain yang sudah menjadi usaha pokok masyarakat setempat untuk bertahan hidup guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dalam menjalankan usahanya itu Zoel harus pandai-pandai membagi waktu antara kewajiban melaksanakan tugas sebagai operator di Diskominsa dan usaha batu batanya juga harus tetap berjalan. Menurut Zoel, karena usaha batu bata sudah menjadi usaha turun-temurun di desanya maka usaha tersebut akan terus dipertahankan dan bahkan bila memungkinkan akan dikembangkan lagi secara lebih modern.

Hal tersebut karena sampai saat ini batu bata masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat umum sebagai material bahan bangunan dalam membangun (rumah, toko, kantor, gedung sekolah, maupun rumah ibadah), selain semen dan pasir.

Dalam menjalankan usaha tersebut ada sumber bahan baku berupa pasir dari karang yang memang banyak didapatkan di Desa Uruk Anoe dan dihacurkan menggunakan hand tracktor modifikasi yang khusus diolah sehingga dapat menghancurkan karang menjadi pasir. Modifikasi dimaksud yaitu rodanya diubah dari roda dasar pabrikan ke roda yang bisa menghancurkan karang menjadi pasir. Batu karang yang digiling hand tracktor modifikasi itu dalam dua jam mampu mengaduk dengan tanah liat lebih kurang untuk 2.000 biji batu bata.

Sementara, untuk memeperoleh batu karang harus diupayakan dengan menggunakan alat berat eksavator dengan biaya Rp600.000 per jam. Namun, biaya sebesar itu masih bisa tertutupi dengan harga produksi batu bata.

Perbukitan karang di Desa Uruk Anoe terlihat banyak yang sudah dikeruk sehingga bahan baku dasar pasir semakin berkurang, sedangkan persediaan lainnya belum ada.

Untuk bahan baku lainnya yaitu tanah liat yang dibeli dari desa lain dalam Kabupaten Bireuen dengan harga Rp200.000 per truk colt diesel. Tanah liat tersebut diaduk dengan pasir karang hingga rata dan padat lalu diangkat ke jambo dan dimasukkan ke dalam cetakan dengan ukuran panjang 17,5 cm, lebar 10 cm dan tinggi 4 cm. Setelah campuran tanah liat dengan pasir tersebut dicetak menjadi batu bata lalu dikeringkan dan selanjutnya dianggkat ke dapur pembakaran agar menjadi keras hingga berwarna merah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved