Jurnalisme Warga

Anak Pidie dan Aceh Besar Gembira Ria Saat Puasa

TEMPO dulu, gema bulan puasa sangat menyertai relung batin warga Aceh lebih dua bulan sebelum kehadirannya.

Editor: mufti
Serambi Indonesia
T.A. SAKTI, alumnus Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, 2007, melaporkan dari Bale Tambeh, Gampong Tanjung Selamat, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar 

T.A. SAKTI, peminat  “kitab jameun bahsa Aceh” (naskah lama bahasa Aceh), melaporkan dari Gampong Tanjung Selamat, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar

TEMPO dulu, gema bulan puasa sangat menyertai relung batin warga Aceh lebih dua bulan sebelum kehadirannya. Anak-anak pun mulai mencium bau puasa. Dulu, di bulan puasa sekolah-sekolah pun diliburkan.

Bagi sang anak, mengetahui kedatangan bulan Ramadhan lewat mendengar pembicaran ibu-bapa dan celoteh masyarakat sekitarnya. Kesemua isu puasa itu amat menggembirakan bagi anak-anak.

Bagi anak perempuan,  mendapat informasi puasa dari kegiatan ibunya sehari-hari yang ikut ia bantu  seperti menjemur padi, menumbuk padi di jingki (alat penumbuk padi tradisional Aceh), termasuk menumbuk tepung dan menjemurnya.

Ketika  menumbuk tepung, termasuk  saat-saat yang menggembirakan, baik bagi anak perempuan maupun laki-laki.  Setelah tepung  diayak, maka tinggallah tepung kasar. Sisa tepung ( Aceh: seungo) itu biasanya ditumbuk lagi serta dicampur kukuran kelapa hingga jadi  camilan “geuleupak”. Kesempatan  makan geuleupak (kepalan tepung dan kelapa) merupakan hal istimewa bagi anak.

Toet leumang

Hampir dua bulan sebeum puasa tiba, anak laki-laki berkeliling di sekitar kampung   mengumpulkan bahan  bakar untuk  memanggang leumang (lemang buluh) pada hari meugang (mak meugang).

Cukup gembira anak-anak ketika memanggul bahan bakar itu saat dibawa ke tempat memasak leumang. Rasa-rasanya, bau enaknya leumang sudah tercium.

Ke dalam lubang bambu buluh dimasukkan bahan lemang, berupa beras ketan yang sudah diaduk santan kelapa dan garam secukupnya. Ujung buluh ditutup (Aceh: disumpai) dengan daun pisang muda yang sudah dilipat rapi.

Leumang biasanya dimasak di samping atau di halaman rumah. Bambu buluh (buloh) sudah dipotong-potong masing-masing per ruas. Sebatang pelepah aren muda  yang panjang diikat di kedua ujungnya pada dua tiang.

Pada jam-jam pertama buluh leumang  dipanggang kerumunan anak-anak di sekeliling “dapur leumang” riuh-rendah, mereka gembira, karena ‘sebentar’ lagi akan menyantap leumang yang enak sekali.

Membuat dapur iebu

Ketika tukang wot iebu sudah datang ke meunasah untuk membuat dapur iebu, anak-anak laki-laki dan perempuan pun berkumpul di meunasah. Mereka gembira, sebab acara ‘jakcok  iebu’ (ambil bubur) ke meunasah hampir mulai.

Dapur itu dibuat dari tanah liat berbentuk bundar.  Bagian atas dibuat lubang besar tempat meletakkah kuali besi yang besar. Sementara di bagian bawah dibuat satu lubang lagi tempat memasukkan kayu bakar.

Di dapur inilah, mulai  hari ketiga puasa sampai hari ke-28 dimasak bubur setiap sore yang dalam bahasa Aceh disebut ‘iebu meunasah’. Iebu itu berguna sebagai penghilang haus bagi warga yang  membaca Al-Qur’an sepanjang malam di meunasah dan dibawa pulang anak-anak ke rumah buat buka puasa bersama keluarga.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved