Opini
Ramadhan Momentum Selamatkan Keluarga
Melembut dan mendekatkan hati kepada anak dan pasangan di bulan Ramadhan dengan niat memperbaiki hubungan dan relasi terhadap mereka dan menciptakan m
Dr H Agustin Hanapi Lc, Kepala Prodi Hukum Keluarga Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry dan Anggota Ikat Aceh
AKHIR-akhir ini masyarakat Indonesia dihebohkan oleh kasus viral yang jauh dari nilai-nilai dan tuntunan agama yang sungguh menyayat hati, pelaku umumnya masih remaja. Seorang anak remaja mengendarai mobil mewah dan menabrak pembatas jalan, lalu keluar dari dalam mobil tersebut seorang gadis remaja dengan kondisi tanpa busana.
Kemudian, anak remaja tega menganiaya temannya sendiri hingga nyaris tewas, adegan biadab tersebut sengaja direkam lalu pelakunya melakukan selebrasi ala Cristiano Ronaldo sebagai bentuk kepuasan apa yang ia lakukan. Kemudian seorang remaja, anak dari pejabat publik yang suka memamerkan kekayaan ayah dan ibunya di media sosial yang bergaya hidup hedon, glamor dan memamerkan tas miliknya seharga ratusan juta rupiah.
Begitu juga di seputaran kita, sudah menjadi pemandangan biasa kita menemukan anak-anak kecanduan rokok, membully dan menyakiti teman, berkomunikasi antar sesamanya dengan bahasa yang kasar agar dibilang “gaul”, ketika kesal dengan bangganya menyebut kata “anjir”, sengaja menyebut salah satu anggota tubuh perempuan sebagai makian. Aksi balapan liar marak di mana-mana, sengaja memodifikasi knalpot kendaraannya sehingga membuat suasana di jalan raya bising dan tak nyaman.
Selamatkan keluarga
Ternyata keluarga kita saat ini tidak pada kondisi yang baik-baik saja. Kita sedang diserang oleh para musuh Islam yang menginginkan keluarga Islam dan generasinya hancur dan lalai terhadap agamanya. Mereka menghancurkan moralitas dan masa depan anak muda Islam melalui berbagai tontonan dan musik serta gaya hidup yang menghipnotis dan merangsang emosi mereka. Sehingga larut dalam adegan dan drama-drama tersebut yang membuat lupa shalat lima waktu, enggan menunaikan shalat berjamaah, kurang termotivasi untuk khatam Alquran, menghafal dan memahami isi kandungan Alquran.
Semakin mengidolakan para aktor dan meniru gaya berkomunikasi, pergaulan dan gaya berpakaiannya. Menganggap gaul perkataan jorok dan kotor yang digunakan sehari-hari. Menganggap sudah bertoleransi tinggi kalau bersedia menikah beda agama, dianggap romantis kalau memiliki hasrat bercinta sesama jenis.
Dianggap modis dan cantik jika perempuan berbusana seksi dan serba terbuka, dianggap kuno dan kolot jika sudah remaja belum punya pacar. Makanya tak heran anak-anak yang masih remaja saat ini ke mana-mana berboncengan berdua di atas kendaraan dengan yang bukan mahramnya yang gayanya melebihi pasangan suami-istri,. Padahal berangkat untuk menghadiri acara berbuka puasa bersama, berangkat shalat tarawih atau setelahnya, sehingga tidak ada nilai dari ibadah puasanya itu kecuali hanya lapar dan dahaga.
Begitu juga dengan anak laki-laki, digambarkan bahwa lelaki yang lebih diterima dalam pertemanan jika gayanya agak keperempuanan, dianggap keren jika auratnya diumbar, semisal menggunakan celana pendek tanpa ada rasa malu dan risih ke mana-mana. Generasi kita juga saat ini diserang melalui lirik lagu, tidak sedikit lirik lagi berbau konten pornografi, porno aksi, mengundang syahwat, bahkan menggiring untuk menjadi pribadi lebay dan tidak memiliki karakter.
Peran keluarga
Faktor yang mempengaruhi fenomena di atas karena ketidakadilan orang tua bagi anak-anaknya, atau hadir secara fisik tetapi tidak memberikan efek yang maksimal sebagaimana perannya menjadi orang tua yaitu mengayomi, memperhatikan, membina dan bertanggung jawab, namun lepas tangan begitu saja. Tidak menanamkan nilai-nilai Islam dan menjadi teladan semenjak dini. Atau juga boleh jadi karena orang tua yang mengajarkan hidup mewah dan glamor kepada anaknya.
Untuk mengantisipasi hal-hal di atas, Islam memberikan tuntunan kepada kita sebagaimana disebutkan dalam Q.S at-tahrim ayat: 6 “Selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka”. Untuk itu, sebagai orang tua tidak cukup hanya taat dan tekun beribadah secara individu saja namun lalai dalam mengingatkan dan mengajak anak-anaknya untuk juga beribadah dan taat kepada Allah swt. Jangan menjadi orang tua egois, yang seolah-olah ingin masuk surga sendirian saja.
Sungguh janggal rasanya jika ada orang tua yang begitu mahir membaca Alquran, menghafal banyak ayat dan paham akan kandungannya, namun anak sendiri membaca Alquran masih terbata, tidak tekun dan peduli terhadap shalat lima waktu, terjerumus ke dunia hitam dan lain sebagainya.
Di sisi lain Q.S. an-Nisa`: ayat 9 “Hendaklah khawatir kamu meninggalkan generasi yang lemah” dalam hal ini bisa dimaknai dari berbagai aspek. Bisa lemah secara ekonomi, spiritual, intelektual, moral dan sebagainya. Sebagai orang tua kita patut merenung, ketika suatu saat nanti kita telah tiada apakah anak dan keturunan akan selamat di dunia dan akhirat, apakah mereka akan terlibat dalam pertengkaran sesama saudara kandungnya, terutama dalam hal warisan, apakah anak-anak masih tekun menunaikan shalat lima waktu, rutin membaca Alquran dan beribadah, akur dalam rumah tangganya. Akankah selamat dari pergaulan bebas, bahaya narkoba, mampukah mengatasi perundungan dan sebagainya.
Maka sesuatu yang sungguh indah jika Ramadhan ini digunakan sebagai momentum untuk menyelamatkan diri dan keluarga dari siksa api neraka. Artinya pasangan suami-istri, anak-anak hadir makan sahur dan berbuka puasa bersama, sehingga satu sama lain berkomunikasi secara intens, saling menanyakan dan diskusi tentang problem yang dihadapi sehingga suami sebagai kepala keluarga paham dan mengerti apa kendala dan persoalan yang dihadapi istri dan anak-anaknya.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.