Opini

Transformasi Layanan Kesehatan Primer Aceh Singkil

Sejauh mata memandang yang terlihat adalah pemandangan laut yang biru dengan hamparan pasir putih.

Editor: mufti
IST
dr Humaira MKM 

dr Humaira MKM, Pj Ketua TP PKK Aceh Singkil dan ASN pada Rumah Sakit Jiwa Aceh

KALAU kita menyebut Aceh Singkil, pasti yang terbayang adalah keindahan Pulau Banyak. Pulau Banyak ibarat Maldives tetapi letaknya di Aceh. Sejauh mata memandang yang terlihat adalah pemandangan laut yang biru dengan hamparan pasir putih. Sebenarnya ada hal yang lebih menarik lagi yaitu dari segi sejarah.

Singkil pernah melahirkan ulama kharismatik nan terkenal yaitu Syekh Abdurrauf atau lebih populer dengan nama Syiah Kuala. Pada masa Sultan Iskandar Muda memerintah kerajaan Aceh, Syekh Abdurrauf merupakan seorang mufti sekaligus sebagai penulis dengan nama panggilan Qadhi Malikul Adil Syekh Abdurrauf. Karena pengaruh beliau yang besar maka namanya pun kemudian disematkan dalam sebuah hadih maja yang sangat populer di Aceh; "Adat Bak Poteumeurehom, Hukom Bak Syiah Kuala, Qanun Bak Putroe Phang, Reusam Bak Laksama. Hukom Ngon Adat, Lagee Zat Ngon Sifeut”.

Tahun 2023 tepatnya tanggal 27 April, Aceh Singkil akan merayakan Milad ke-24 yang mengusung tema “Mengulas sejarah kejayaan Aceh Singkil pada zaman rempah untuk meraih masa depan yang gemilang”. Tema ini menunjukkan semangat Aceh Singkil untuk kembali menggapai masa keemasan seperti Aceh Singkil di masa lalu.

Tugas berat

Ibarat siklus kehidupan, usia 24 tahun seseorang harusnya sudah memasuki fase dewasa dan mandiri. Kenyataannya fase tersebut berbanding terbalik dengan capaian pembangunan Aceh Singkil. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), nilai indeks pembangunan manusia (IPM) Kabupaten Aceh Singkil lebih rendah dari capaian rata-rata kabupaten/kota di Aceh.

Selanjutnya tingkat kemiskinan Kabupaten Aceh Singkil jauh lebih tinggi dari tingkat kemiskinan Aceh. Dari segi kesehatan, angka stunting cenderung mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian kinerja pembangunan tersebut belum menunjukkan hasil yang menggembirakan.

Menjadi tugas berat bagi Pemerintah Aceh Singkil saat ini untuk menyelesaikan berbagai macam persoalan demi Aceh Singkil sejahtera di masa depan. Untuk mewujudkannya, pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, perlu adanya sinergitas dengan masyarakat, adanya inovasi, transformasi sistem layanan dan berbagai lompatan lainnya.

Transformasi di bidang kesehatan, sesuai inisiasi dari Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin terdapat 6 pilar yang menjadi perhatian yaitu layanan primer, layanan rujukan, sistem ketahanan kesehatan, sistem pembiayaan kesehatan, sumber daya manusia (SDM) kesehatan, dan teknologi kesehatan. Transformasi ini dilakukan, salah satunya untuk meningkatkan capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

IPM menjadi salah satu indikator yang penting untuk melihat keberhasilan pembangunan dari sisi manusia. Dimensi umur panjang dan hidup sehat merupakan sub-komponen IPM dan diukur dengan harapan hidup saat lahir. Semakin tinggi harapan hidup saat lahir suatu daerah, semakin tinggi pula derajat kesehatan daerah tersebut.

Untuk Aceh Singkil, transformasi layanan primer dengan Puskesmas dan Posyandu sebagai ujung tombaknya menjadi utama dan wajib karena ia adalah fondasi kesehatan masyarakat. Posisinya sebagai layanan kesehatan pertama dan terdekat di tingkat masyarakat memungkinkan tersedianya akses kesehatan esensial yang terjangkau dan praktis.

Posyandu sebagai wadah pemberdayaan masyarakat yang memberikan pelayanan kesehatan dasar sesuai kebutuhan. Selama ini ada anggapan bahwa Posyandu milik tenaga kesehatan. Padahal masyarakat yang paling berperan di dalam kegiatan Posyandu. Oleh karena itu revitalisasi Posyandu harus dilakukan dengan sistem integrasi dengan salah satu tujuannya adalah terselenggaranya kegiatan Posyandu secara rutin dan berkesinambungan.

Angka kunjungan Posyandu dan anak- anak yang mendapatkan pelayanan seperti imunisasi dasar harus menjadi perhatian. Layanan primer saat ini wajib berorientasi pada upaya promosi dan preventif. Hal ini tentu lebih baik dan lebih murah daripada upaya kuratif dan rehabilitatif.

Pelayanan promosi kesehatan memprioritaskan pada perilaku bersih dan sehat. Pendekatan preventif dapat dilakukan melalui pemeriksaan kesehatan (screening) secara rutin. Pendekatan ini akan menyebabkan permasalahan kesehatan dapat terdeteksi lebih awal. Sebagai akibatnya, penanganan penyakit pada tahap awal (deteksi dini) akan jauh lebih efektif dan efisien. Perubahan paradigma layanan tersebut akan menyebabkan seorang tenaga kesehatan tidak lagi menunggu dan menangani komplikasi, namun lebih proaktif untuk melakukan upaya pencegahan.

Masa keemasan

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved